BOGORTODAY.COM – Di sebuah toko roti kecil yang terletak di pinggiran Kota Beirut, seorang perempuan tampak menyodorkan segepok Uang kertas. Tangan yang ia ulurkan bergetar, bukan karena kelaparan, tetapi karena rasa cemas—tak yakin apakah uang yang ia bawa cukup untuk membeli sekantong roti hari itu.
Kisah ini mencerminkan realitas pahit yang sedang dialami Lebanon, negara yang dahulu dijuluki “Swiss-nya Timur Tengah.” Kini, negara tersebut berada di ambang kehancuran ekonomi, dan mata uangnya, lira Lebanon, menjadi simbol paling nyata dari krisis berkepanjangan yang belum menunjukkan titik terang.
Mengutip laporan dari Money Digest, pada tahun 2025, lira Lebanon dinyatakan sebagai mata uang dengan nilai terendah di dunia, melampaui bolivar milik Venezuela dan real Iran. Di pasar gelap, nilai tukar satu dolar AS tembus lebih dari 89.000 lira—angka yang sangat jauh dibandingkan kondisi sebelum krisis tahun 2019, saat nilai tukarnya masih 1.500 lira per dolar.
Secara resmi, pemerintah Lebanon menetapkan kurs 15.000 lira per dolar. Namun, angka ini tak berlaku di kehidupan nyata. Di pasar, masyarakat berpatokan pada nilai tukar gelap. Banyak orang terpaksa membawa koper berisi uang tunai hanya untuk membeli kebutuhan dasar. Mirisnya, ongkos mencetak uang kini bahkan lebih tinggi dibanding nilai dari uang itu sendiri.
Lira pun kini dianggap tak lebih dari sekadar kertas tak berharga.
“Lebih baik menyimpan dolar di bawah bantal daripada menaruh uang dalam lira di rekening bank,” tutur seorang analis keuangan lokal.
Lembaga keuangan di Lebanon bahkan membatasi penarikan uang dari bank. Akibatnya, banyak warga yang tak bisa mengakses tabungan mereka, bahkan saat membutuhkan biaya berobat atau memenuhi kebutuhan darurat.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















