Sejarah Kerupuk: Dari Abad ke-9 Hingga Jadi Ikon Lomba 17 Agustus

Kerupuk
Lomba Makan Kerupuk. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Kerupuk bukan sekadar makanan ringan renyah yang jadi pelengkap nasi atau lauk.

Lebih dari itu, kerupuk sudah menjadi bagian penting dalam budaya kuliner Indonesia. Dari meja makan sehari-hari sampai panggung lomba 17 Agustus, kerupuk selalu punya tempat spesial.

Kerupuk Sudah Ada Sejak Abad ke-9

Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, kerupuk sudah hadir di Pulau Jawa sejak abad ke-9 atau ke-10.

BACA JUGA :  Jumlah Hewan Kurban di Kota Bogor Tembus 15.800 Ekor, Naik 1.400 dari Tahun Lalu

Bukti keberadaan awal kerupuk bisa dilihat dari Prasasti Batu Pura yang mencatat keberadaan kerupuk rambak, yakni kerupuk yang dibuat dari kulit sapi atau kerbau.

Proses pembuatannya tidak mudah. Kulit harus dibersihkan dari bulu dan selaput, direbus hingga empuk, dipotong sesuai ukuran, lalu dijemur sampai benar-benar kering sebelum digoreng menjadi kerupuk renyah.

Penyebaran ke Nusantara dan Semenanjung Melayu

Kerupuk kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Bahkan, pada abad ke-19, jejak kerupuk juga ditemukan di Semenanjung Melayu. Dalam naskah karya Abdul Kadir Munsyi, tercatat istilah keropok yang merujuk pada kerupuk.

BACA JUGA :  PB Porprov Kota Bogor Matangkan SOP Pembagian Tugas Tiap Bidang

Kerupuk saat itu bukan hanya populer di kalangan masyarakat Melayu, tetapi juga digemari tentara Belanda pada masa penjajahan. Sejak itulah, kerupuk makin dikenal sebagai makanan pelengkap khas Nusantara.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================