Mengapa Para Pelajar Mudah Diajak Demonstrasi?

Pelajar
Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan di Bogor)

Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan di Bogor)

DEMONSTRASI besar sejak 28 Agustus lalu menghadirkan kejutan sekaligus keprihatinan. Jika sebelumnya aksi di jalan lebih banyak diwarnai suara buruh dan mahasiswa, kali ini pelajar sekolah menengah ikut serta dalam jumlah yang tidak sedikit.

Fenomena ini membuat publik terhenyak, bahkan memaksa dinas pendidikan di sejumlah daerah mengambil langkah cepat dengan mengubah pembelajaran menjadi daring demi menghindari mobilisasi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, angkat bicara dan menyayangkan keterlibatan para pelajar.

“Saya menyesalkan keterlibatan para pelajar dalam aksi demonstrasi ini. Sekolah adalah tempat menuntut ilmu, bukan tempat mereka terseret dalam konflik politik yang belum mereka pahami sepenuhnya,” ujarnya kepada media.

BACA JUGA :  Wabup Jaro Ade Apresiasi Bogor Hujan Trail Dorong Sport Tourism dan Penguatan UMKM

Namun pertanyaan yang lebih penting tetap perlu dijawab adalah  mengapa para pelajar begitu mudah diajak demonstrasi?

Banyak laporan menunjukkan ajakan untuk bergabung dengan demonstrasi menyebar begitu cepat melalui grup WhatsApp dan media sosial.

Di Bogor, ratusan siswa sempat dibubarkan ketika hendak berangkat ke Jakarta setelah terpantau di sebuah grup koordinasi daring. Ajakan itu sering kali dikemas dengan narasi solidaritas atau sekedar rasa penasaran.

Bagi sebagian remaja, aksi di jalanan tampak lebih seru daripada berdiam diri di kelas. Fakta ini menegaskan bahwa gawai dan media sosial kini menjadi ruang belajar alternatif.

BACA JUGA :  Api Lahap Tiga Kios Pasar Tohaga Parung, Diduga Korsleting CCTV

Di sanalah anak-anak muda menyerap narasi politik, berinteraksi, dan mencari identitas, meski tanpa pendampingan yang memadai. Situasi ini membuat mereka rentan terseret arus informasi keliru atau ajakan provokatif yang memanfaatkan semangat muda.

Dalam perspektif sosiologi, keterlibatan pelajar dapat dipahami sebagai bagian dari pencarian ruang ekspresi. Remaja berada pada fase mencari jati diri, sementara sekolah dan keluarga kerap kurang menyediakan ruang dialog.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================