Home Opini Today Keluarga Tentukan Keberhasilan Peserta Didik

Keluarga Tentukan Keberhasilan Peserta Didik

0
120

opiniPENGERTIAN dari keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).

Oleh: HERU BUDI SETYAWAN
Guru SMA Pesat Kota Bogor

Peranan dan fungsi keluarga sangat penting sekali, keberhasilan suatu bangsa tergantung bagaimana model keluarga di bangsa tersebut. Ada pepatah mengatakan wanita adalah tiang negara, artinya jika wanita di negara tersebut baik, maka baik pula negara tersebut.

Mengapa keluarga sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa pada masa yang akan datang, karena di keluarga ter­dapat buah hati kita yang akan menjadi calon-calon pemimpin di masa yang akan datang. Maka keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama.

Bapak sebagai kepala kelu­arga, sudah seharusnya menjadi pemimpin yang handal di kelu­arganya. Demikian juga seorang ibu sebagai pengatur keluarga, sudah seharusnya menjadi manager yang baik bagi kelu­arganya. Sedangkan anak-anak sebagai anggota keluarga, su­dah seharusnya menjadi buah hati yang menyenangkan kedua orang tuanya, dengan menjadi hamba yang soleh dan solehah serta hanya mencari ridho Allah SWT.

Bukankah ridho Allah adalah ridho orang tua kita, jika seorang hamba sudah diridhoi oleh Allah SWT, maka Allah Yang Maha Berkehendak akan memberi lebih apa yang dimin­ta hamba tersebut. MasyaAllah luar biasa bukan, itulah yang jarang kita pikirkan. Pernah mungkin anda mendapat rejeki yang banyak dan diluar dugaan kita, atau anda mendapat prestasi yang spektakuler yang diluar nalar anda, itulah tanda-tanda kalau Allah SWT sudah ridho terhadap kita.

Kemudian bagaimana mod­el-model keluarga yang ada di Indonesia selama ini, menurut Trainer Eman Sulaiman ada 3 model keluarga di Indonesia, hal ini beliau sampaikan sewak­tu workshop parenting di Mas­jid Masy’a Villa Mutiara Bogor (19/06/2016) yaitu:

Pertama, keluarga model hotel. Keluarga model ini adalah keluarga yang anggota ke­luarganya super sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Rumah layaknya seperti hotel yang berfungsi sebagai tem­pat menginap saja. Tidak ada waktu dan kesempatan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga, karena mobilitas yang tinggi dari anggota keluarga.

Bapak dari keluarga ini bi­asanya pejabat, pengusaha, anggota legislatif, professional, selebritis dan profesi yang tidak mengenal waktu dalam bekerja. Orang-orang model ini, bisa jadi sarapannya di lounge bandara, makan siang di hotel karena berhubungan dengan kerja se­dang makan malamnya di resto karena janjian dengan pejabat atau rekanan bisnisnya.

Bapak dari keluarga model ini, berangkat dari rumah bisa sebelum subuh atau minimal setelah subuh dan pulang bisa setelah isya, atau jam 21.00 dan bahkan sampai jam 24.00 karena agendanya yang sangat banyak. Kadang-kadang bapak model keluarga ini sering ke luar kota atau ke luar negeri.

Ibu dari model keluarga ini juga super sibuk sebagai wanita karir, karena menjabat sebagai direktur, komisaris, berprofesi sebagai selebritis dan menjadi ketua organisasi sosial atau ke­masyarakatan. Belum lagi kalau ada kegiatan arisan, PKK dan majelis taklim.

Sehingga anak-anak dari mod­el keluarga ini adalah anak-anak yang kesepian dan tanpa kasih sayang, karena jarang bertemu dengan bapak dan ibunya. Mer­eka mencari kesenangan dengan bersenang-senang di mall, non­gkrong di diskotik, merokok, pa­caran, bahkan ada yang kecan­duan miras dan narkoba.

Memang ada juga keluarga model hotel ini yang sukses dan bahagia anak-anaknya tapi jumlahnya sedikit, karena tan­tangan keluarga ini memang sangat berat. Kata kunci untuk keberhasilan model keluarga ini adalah bisa memanage waktu dengan baik, karena pada kelu­arga model hotel, selain berlaku pepatah waktu itu uang, juga berlaku waktu itu surga atau penjara.

Kedua, keluarga model rumah sakit. Keluarga model rumah sakit adalah keluarga yang salah satu anggota keluar­ga terutama bapak atau ibunya mempunyai ego yang besar atau merasa paling benar, karena merasa punya jasa besar terha­dap keluarga tersebut. Padahal harusnya kita senang dan baha­gia jika mempunyai jasa terha­dap sesuatu, apalagi punya jasa yang besar terhadap keluarga, bukankah ini ladang amal yang patut kita syukuri. Bukankah orang yang baik adalah orang yang banyak manfaatnya terha­dap sesama.

Bukankah kita juga terma­suk makhluk sosial yang harus hidup berdampingan dan selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Bukankah manusia itu tempatnya salah dan lupa. Bukankah manusia itu makh­luk yang lemah dan tanpa daya serta upaya kecuali atas ijin Al­lah SWT. Bukankah manusia itu tidak ada yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.

Keluarga model ini juga ti­dak nyaman, karena salah satu pihak ada yang merasa berhu­tang budi sementara yang satu merasa berjasa. Solusi dari model keluarga ini adalah harus banyak bersyukur dan sering in­trospeksi.

Ketiga, keluarga model ku­buran. Keluarga model kuburan adalah keluarga yang kurang komunikasi antara anggota ke­luarga, atau keluarga yang MM (masing-masing) dan kurang akrab dan kurang hangat dalam berkomunikasi. Ciri keluarga ini adalah kurang kasih sayang an­tara pasangannya, hal ini terjadi karena dulu menikahnya secara terpaksa, dijodohkan, kurang pengenalan sebelum menikah atau ada unsur penipuan.

Seperti kita ketahui yang na­manya kuburan pastilah sepi, demikian juga keluarga model kuburan. Keluarga ini meski ada orang, tapi nyatanya sepi saja bawaannya, meski dekat secara fisik, tapi hatinya jauh. Solusi dari keluarga ini adalah dihidupkan komunikasi dua arah antar anggota keluarga dan disentuh hatinya agar meneri­ma kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Solusi dari semua ini adalah terbentuhnya keluarga sakinah. Kata sakinah dalam bahasa Arab memiliki arti kedamaian, tenang, tentram, dan aman. Asal mula kata ini berasal dari Al-Qur’an surah 30:21 (Ar-Rum), yang mana pada ayat ini tertulis “Dia menciptakan pasangan-pa­sangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang”.

Makna kata sakinah dalam pernikahan tersebut dapat di­artikan sebagai seorang laki-laki dan istri harus bisa membuat pasangannya merasa tentram, tenang, nyaman dan damai dalam menjalani kehidupan bersama supaya sebuah rumah tangga bisa langgeng.

Dalam membuat rumah tangga yang langgeng dibutuh­kan sebuah iman dan ikatan hati yang kuat yakni berupa kesetiaan. Yang dimaksud setia tersebut adalah selalu meneri­ma setiap saat dan apa adanya, baik seperti pada saat memi­liki wajah jelek, pangkat yang tinggi, banyak uang atau tidak memiliki uang sama sekali.

Jika beberapa tahun hubun­gan sudah bisa berjalan dengan baik dan dalam pernikahan tersebut terasa nyaman dan ten­tram maka insyaallah hubun­gan itu terlaksana dengan saki­nah, tapi jika sebaliknya maka hubungan itu bisa dikatakan belum sakinah.

Pada keluarga sakinah ter­dapat rasa asuh, asih dan asuh antara anggota keluarga, pada keluarga sakinah juga terdapat rasa saling menjaga kesucian niat, saling setia dan saling men­doakan. Dengan terciptanya keluarga sakinah, insyaAllah akan menghasilkan generasi yang berkualitas dan maju pen­didikannya. Seperti contoh dari keluarga teman saya, yang ke­luarganya sudah saya nilai men­jadi keluarga sakinah. Keluarga ini bapaknya tidak lulus SD dan hanya menjadi petani transmi­grasi, tapi 5 anak-anaknya yang 3 jadi sarjana dan yang 2 lulu­san pasca sarjana, hebat bukan ! Termasuk model keluarga apa keluarga anda ? Jayalah Indone­siaku. (*)