ADV_Bisnis-Ikan-Hias_1Ikan hias jelas bukan ikan teri. Meskipun sama kecilnya, harga seekor ikan hias bisa sama dengan harga berkilo-kilo ikan teri. Ikan hias ibarat adibusana yang berbeda dari baju biasa. Ketinggian nilainya ada pada kein­dahan warna dan bentuknya, kelangkaan ser­ta teknik perawatannya. Dengan nilainya yang sangat tinggi, maka tidak heran jika bisnis ikan hias menjadi bisnis menggiurkan.

Kota Bogor merupakan salah satu sen­tra ikan hias. Produk yang dihasilkan telah tersebar ke berbagai daerah. Bahkan tak terbilang yang sudah diekspor ke berbagai negara. Menurut salah seorang peternak, kondisi alam Kota Bogor memang cocok un­tuk mengembangkan ikan hias. Kualitas air, dan suhu udara sangat mendukung kegiatan ternak ikan hias. Lagi pula beternak ikan hias tidak membutuhkan lahan luas.

Itulah yang sudah dibuktikan para peter­nak ikan hias yang tergabung di dalam Kelom­pok Tani Ikan Hias, Mina Karya Bersama, di Wangun Cibalok, Kelurahan Sindangsari, Ta­jur. Kelompok yang berdiri sejak tahun 2011 ini telah berhasil mengembangkan bisnis ternak ikan hias. Lebih dari sepuluh peternak yang tergabung di dalamnya, masing-masing telah menikmati buah dari keuletan, kegigi­han, kesabaran dan keterampilan mereka beternak ikan hias. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah untuk beternak dengan menggunakan akuarium

Menurut Muyke Febriana, Ketua Kelom­pok Mina Karya Bersama, omset setiap pe­ternak anggotanya berbeda-beda. Pada um­umnya berkisar antara Rp 30 sampai dengan Rp 40 juta per bulan. Tergantung pasang surut kondisi pasar. “Ramainya penjualan ikan hias tidak setiap waktu, karena ada waktu-waktu yang pasarnya benar-benar sepi,” katanya. Untuk pasar dalam negeri diantaranya pada saat liburan panjang, menjelang lebaran dan sewaktu berlangsung pendaftaran anak se­kolah, sedangkan pasar luar negeri sepi pada musim panas.

Di luar waktu-waktu tersebut, bisnis ikan hias amat menggiurkan. “Permintaan pasar termasuk pasar ekspor sangat besar dan itu belum bisa dipenuhi sepenuhnya,” kata sarja­na perikanan lulusan IPB tahun 2001 itu. Ada beberapa kendala yang membuat permintaan pasar tidak dapat dipenuhi. Teru­tama karena banyak peternak yang tidak konsisten menjalankan usah­anya. Selain itu pemanfaatan teknolo­gi belum maksimal dan jenis ikan yang dikembangkan masih terbatas.

Oleh karena itu bersama teman sekelompoknya Muyke berusaha meman­faatkan teknologi pembuahan dengan sis­tem suntik. Indukan ikan disuntik untuk bisa segera bertelur. “Cara ini membantu mem­percepat kami memperoleh bibit yang diper­lukan,” jelasnya. Mereka juga mengembang­kan pengayaan pakan ikan yang berdampak pada perbaikan kualitas telur, sperma dan kesehatan ikan. Di samping mengatur suhu ruang dan air agar ikan bertahan hidup.

Tidak kalah penting adalah memilih jenis ikan yang banyak diminta pasar untuk diter­nakan. Diantaranya seperti jenis tetra, discus, neon dan manfish. “Supaya hasil produk­sinya cepat dan mudah diserap pasar,” lanjut Muyke. Di samping itu ada berbagai jenis ikan lain yang telah berhasil diternakan. Dianta­ranya jenis ikan yang sedang trend seperti corydoras panda, platydoras, baby dolphin dan agamyxis. Juga beberapa jenis ikan baru seperti sturisoma pananse, rainbow shinen, rasbora erythromicron serta kura kura jenis red ear.

Dari langkah-langkah seperti itu, kelom­pok ini telah mampu menghasilkan dan menjual ribuan ekor ikan hias ke berbagai daerah. Diantaranya ke Surabaya, Semarang, Bandung dan beberapa kota lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sedangkan untuk ekspor mereka belum melakukannya secara langsung, kecuali melalui eksportir yang membeli ikan mereka. Pada tahun 2014 lalu, jumlah ikan yang mereka hasilkan mencapai 631.500 ekor.

Tantangan ke depan, mereka harus men­cari jenis ikan baru, baik lokal maupun impor. “Supaya varian jenis ikan yang kami ternakan menjadi lebih banyak dan jenis ikan baru bi­asanya bisa menjadi trend di pasar dengan harga tinggi,” lanjut Muyke. Termasuk mereka harus mencari indukan murni dari ikan-ikan yang sudah disuntik, agar bisa diperoleh bibit yang tetap unggul. Langkah ini mereka perlu­kan untuk menghadapi persaingan pasar, dari tingkat lokal, nasional, bahkan sampai di ting­kat regional ASEAN.

Dalam hal ini Dinas Pertanian Kota Bogor menyatakan siap membantu mencarikan in­dukan varian ikan baru. “Kami akan usahakan membantu mereka dengan mengimpor jenis ikan baru atau mencari jenis ikan lokal, karena hal itu bagian dari tugas pem­binaan kami,” kata Kepala Seksi Bu­didaya dan Pengembangan Dinas Pertanian Kota Bogor, Drh.Win­dra Kurinawan. Menurutnya, Dinas Pertanian Kota Bogor selama ini telah mendamp­ingi Mina Karya Bersama. “Terutama memberikan mere­ka pelatihan-pelatihan teknik budidaya dan pengemasan pada saat ikan akan dikirim ke pasar,” lan­jut Windra.

Pihaknya juga membantu kelom­pok peternak ini dengan menyediakan kolam budidaya untuk pelatihan di daerah Cipaku. Disana siapapun yang berminat untuk belajar beternak ikan hias bisa datang. “Nanti para anggota Mina Karya Bersama secara ber­giliran akan berbagi pengalaman dan peng­etahuan, asal janjian dulu,” kata Windra.

Atas berbagai hasil yang telah dicapai se­jauh ini, kelompok peternak ini telah meraih beberapa prestasi. Diantaranya Juara I Lomba Kinerja Kelompok Pembudidaya Ikan Ting­kat Kota Bogor Tahun 2014, Juara 3 Lomba Kontes Diskus Regional Jabodetabek Tahun 2014 dan Juara I Lomba Packing Ikan Tingkat Jawa barat Tahun 2014. Kini di tahun 20115 mereka berhasil menjadi juara 1 se-Jawa Barat sebagai kelompok peternak ikan hias terbaik, dan menjadi wakil Jawa Barat untuk kejuaraan tingkat nasional. (ADV)