Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

Malu itu sebagian dari iman, menurut Abu Mas’ud Uqbah Al-Anshari berkata: Bahwa Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam, bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama adalah: Bila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu” (HR Bukhari).

Maksud Hadist ini adalah Rosul SAW menyuruh pada kita semua agar kita punya rasa malu, sehingga dalam hidup ini kita harus selalu taat pada Allah SWT dan RosulNya serta tidak berbuat sekehendak kita.

Jika penulis cermati, banyak kejadian sekarang yang bikin kita miris, karena rasa malu kita sudah hilang. Contohnya ada buronan kelas kakap yang sudah beberapa tahun belum ketangkap, ternyata dengan mudahnya bisa keluar masuk ke Indonesia, bahkan bisa membuat e-KTP dalam hitungan jam, luar biasa kan!    

Padahal hal ini juga pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, ada tahanan yang bisa keluyuran sampai pulau dewata Bali, bahkan sampai ke Bangkok, weleh-weleh.  Ada juga yang lebih ektrim yaitu, seorang terdakwa hukuman mati yang bisa mengatur bisnis jaringan internasional narkoba dari Rutan

Ini semua menunjukkan bahwa rasa malu kita sudah hilang dan hukum di Indonesia sungguh memalukan, hukum bisa dibeli, wani piro? Begitu kata-kata yang terkenal di telinga kita.

Di bidang politik juga begitu, rasa malu sudah hilang. Untuk menjadi anggota legislatif atau untuk menjadi seorang eksekutif, segala cara dilakukan, sehingga ada istilah serangan subuh/fajar. Sehingga banyak kepala daerah, politis, pengusaha dan anggota KPU yang masuk penjara.

Dahulu Orde Baru jatuh dikarenakan maraknya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Maka Soeharto jatuh dan lahirlah Orde Reformasi. Meski ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tapi korupsi sekarang tambah parah dan ada istilah dinasti politik (Kalau dulu namanya nepotisme/kekeluargaan), artinya jika bapaknya jadi pejabat, maka keluarganya juga jadi pejabat atau dapat keistimewaan dalam berbisnis.

Atau jika bapaknya pejabat PNS/ASN, setelah bapaknya pensiun, maka anaknya otomatis mengganti PNS bapaknya….enak banget ya. Tapi itu dulu, sekarang hal itu tidak mungkin terjadi karena masuk PNS sekarang serba transparan dan online.

Para penegak hukum yang seharusnya menegakkan hukum, justru melanggar hukum dan merobohkan hukum. Para wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan aspirasi rakyat, justru kongkalingkong dengan pengusaha untuk mengsengsarakan rakyat. Para pemimpin yang seharusnya melayani dan amanah pada rakyat, justru membodohi rakyat serta merampok uang rakyat dengan berkorupsi.

Sudah lengkaplah 3 kekuasaan yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif tidak punya rasa malu blas.

Tidak hanya itu, para publik figure yang terdiri dari para pengusaha, artis dan orang kaya juga tidak punya rasa malu. Meski rasa malunya dalam bentuk lain, tapi hal ini tetap membuat rasa tidak nyaman bagi saudara kita yang belum beruntung.

Yang namanya orang kaya, sekali makan dan minum bisa jutaan, tidur semalam di hotel kelas suite juga jutaan. Naik pesawat juga yang kelas VIP. Mau nonton sepak bola dan konser musik juga harus ke luar negeri, ya bisa puluhan dan ratusan juta ongkosnya. Itu untuk urusan makan, minum, tidur dan hiburan saja.

Belum untuk maksiatnya, bukankah beberapa waktu yang lalu terungkap adanya prostitusi online yang tarifnya sekali kencan jutaan rupiah. Ini pasti konsumennya para orang kaya.

Sedang untuk hobi pasti lebih mahal lagi, seperti tasnya, sepatunya, jam tangannya, perhiasannya, mogenya, mobilnya, vilanya dan lain-lain. Ini semua harganya lebih dari 1 milyar, ada kan tas yang seharga 1 milyar. Kaya itu boleh dan sah-sah saja, bahkan seorang muslim diharuskan kaya, jika bisa, agar bisa sedekah, umrah/haji, membangun Masjid, membantu fakir miskin dan membantu perjuangan dakwah para Ulama.

Padahal menurut ajaran agama Islam, malu itu bagian dari iman, artinya: orang miskin, malu jika minta-minta. Orang kaya, malu jika tidak dermawan. Pemimpin, malu jika tidak melayani rakyatnya. Rakyat, malu jika tidak taat pada pimpinannya, asal pemimpinnya beriman. Jayalah Indonesiaku. (*)