ADVERTORIAL_warga-Tani-1

Lahan sawah di Kota Bogor hanya sekitar 750 hektar dan lahan kering sekitar 1.479 hektar. Lahan pertanian seluas itu terancam terus menyusut dari waktu ke waktu. Alih fungsi lahan pertanian menjadi ancaman serius di perkotaan seiring dengan meningkatnya kebutuhan lahan pemukiman, kegiatan usaha dan kegiatan lainnya. Meskipun tidak punya lahan pertanian luas, bukan berarti Kota Bogor tidak bisa berperan dalam pembangunan pertanian. Aktivitas pertanian di Kota Bogor tetap hidup, antara lain dengan dukungan 159 kelompok tani yang beranggotakan sekitar 2.330 orang. Selain itu sesuai karakteristiknya, Kota Bogor telah mampu mengembangkan agribisnis perkotaan yang didukung sarana prasarana seperti rumah potong hewan, depo ikan hias, balai benih ikan dan laboratorium kultur jaringan. Termasuk di dalamnya, Kota Bogor melalui Sub Terminal Agribisnis (STA) Rancamaya terus mengembangkan perannya sebagai pemasar produk-produk pertanian. Kota Bogor memang harus mengembangkan perannya sebagai kota perdagangan produk pertanian yang dihasilkan dari daerah di sekitarnya seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Kesadaran itu muncul lebih dari satu dekade yang lalu dan kemudian diwujudkan dengan membangun STA Rancamaya pada tahun 2003. STA Rancamaya menjadi salah satu dari 99 STA yang dibangun dan dikelola di seluruh Indonesia dan menjadi yang terbaik secara nasional pada tahun 2013. Saat ini STA Rancamaya dinominasikan untuk meraih penghargaan dalam Penilaian Abdi Bakti Tani Tahun 2015. Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kota Bogor, Wawan Darwan, selama ini STA selalu diasosiasikan sebagai tempat penyimpanan barang dan harus berada di daerah produksi. “Hal itu tidak sepenuhnya benar, karena STA adalah pasar produk pertanian sehingga bisa dibangun seperti di Kota Bogor,” katanya. “Yang penting disitu petani bisa berhubungan langsung dengan konsumen, tanpa melalui peran tengkulak atau rentenir,” lanjutnya. Diakui Wawan STA Rancamaya belum dikenal banyak masyarakat. “Walaupun sebetulnya bermanfaat untuk membangun jejaring agribisnis dan membantu pemasaran produk pertanian,” katanya. Fungsinya pun terus dikembangkan menjadi pasar langsung maupun tidak langsung dalam transaksi produk pertanian. Selain oleh gabungan kelompok tani (Gapoktan) Kota Bogor, STA Rancamaya juga dimanfaatkan oleh 19 kelompok tani dari Kabupaten Bogor, 10 kelompok tani dari Kabupaten Sukabumi dan beberapa dari Kabupaten Cianjur. STA Rancamaya juga telah dimanfaatkan beberapa perusahaan agribisnis termasuk eksportir. “Disini kami mempertemukan petani langsung dengan pedagang, sehingga bisa meniadakan peran tengkulak,” kata Wawan. Melalui STA Rancamaya petani memasok langsung berbagai produk pertanian ke pasar swalayan dan pasar tradisional, bahkan diekspor ke berbagai negara. Disitu mereka juga memilih dan memilah produk yang akan dipasok ke pasar, serta memanfaatkan layanan pengemasan produk. Produk yang dipasok mulai dari padi, palawija dan buah-buahan, seperti pisang, pepaya, salak, jambu merah dan jambu kristal serta manggis. Ekspor buah manggis antara bulan Juni 2011 sampai Maret 2012 pernah mencapai 65.870 kg. Sementara itu CV Kujang Jaya sebagai salah satu pemasok melaporkan, sepanjang April 2015 lalu mereka mampu menjual berbagai jenis buah dengan nilai mencapai Rp 183 juta lebih. Penjualan produk juga dibantu dengan memanfaatkan internet. Saat ini siapapun yang berminat mengetahui seluk beluk kegiatan pemasaran produk agribisnis di STA Rancamaya, bisa mengakses informasinya lewat situs www.forkasta.com. Untuk mendukung pemasaran produk ke berbagai negara, STA Rancamaya juga bisa mengeluarkan sertifikat tentang kualitas produk. Sertifikat tersebut dibutuhkan petani untuk meyakinkan calon pembeli di luar negeri tentang kualitas pupuk yang digunakan, kondisi kebun serta kondisi gudang yang kesemuanya itu harus memenuhi standar tertentu. Wawan mengatakan, “Dengan sertifikat tersebut produk pertanian kita bisa bersaing di pasar global terutama di wilayah ASEAN.” Selain membantu memasarkan produk, STA Rancamaya juga membantu petani mengembangkan dan mengolah produk. Bahkan petani pernah mendapatkan pinjaman modal bergulir melalui Program Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) yang diluncurkan Kementrian Pertanian. Dengan demikian “Petani skala kecil pun bisa menjadi mitra kami untuk mengembangkan produk, mengolah produk dan memasarkan produk,” kata Wawan. Datanglah ke STA Rancamaya dan mulailah berbisnis.

Baca Juga :  Modus Gudang Beras, Tempat Hiburan Malam di Kemang Disegel

(ADV)