Faisal-Basri

 JAKARTA, TODAY—Produksi minyak Indonesia terus menu­run. Pada 2025 nanti atau 10 tahun lagi produksi minyak Indonesia diperkirakan hanya bisa mencapai 400.000 barel per hari.

“Produksi minyak kita itu terus berkurang, reserve to production ratio sudah ting­gal 11,6 tahun lagi,” kata man­tan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Faisal Basri di acara diskusi media dengan tema ‘Revisi Undang-Undang Migas dan Upaya Reformasi Tata Kelola Migas Indonesia’ di Kemente­rian ESDM, Selasa (26/5/2015).

Faisal mengatakan, se­mentara setiap penemuan cadangan minyak sudah ja­rang sekali. Kalau ketemu cadangan baru pun jumlahnya relatif kecil.

“Tahun 2025 kita lihat, produk­si minyak kita tinggal 400.000-an barel per hari, sementara konsum­si BBM nasional kita mencapai 1,9 juta barel per hari, ini konsumsi terus menganga semakin besar,” ungkapnya.

Baca Juga :  BPBD Mencatat Sepanjang September 2021, 101 Bencana Melanda Kabupaten Bogor

Faisal mengungkapkan, Indo­nesia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki tata kelola minyak dan gas bumi. Jangan sam­pai Indonesia seperti Brasil yang tata kelola migasnya hancur le­bur karena dijarah para politikus. “Brasil sedemikian hancur leb­urnya, seperti Petrobras (BUMN energi) karena penjarahan poli­tisi,” katanya.

Ia menambahkan, yang utama saat ini harus diselesaikan pemer­intah adalah menyelesaikan ran­cangan undang-undang minyak dan gas bumi yang belum kunjung selesai. Ia berharap umur undang-undang baru tersebut nantinya bisa lebih lama, tidak hanya 5-10 tahun harus direvisi.

“Selama saya melakoni (sek­tor migas) sudah ada 4 perubahan undang-undang migas. Undang-undang migas nanti harus men­empatkan migas sebagai ujung tombak industrilisasi, migas tidak lagi dikeruk habis-habisan tetapi dijadikan untuk generasi men­datang, dan migas sebagai sumber bancakan pemburu rente (mafia migas) menjadi migas untuk rakyat banyak,” tutup Faisal.

Baca Juga :  Hujan Dengan Intensitas Tinggi Mengguyur Puncak, Tinggi Muka Air Bendung Cibalok Terpantau Naik

Faisal juga mengkritik lang­kah PT Pertamina (Persero), yang membeli kilang minyak di Malay­sia. “Untuk memenuhi kebutu­han BBM memang perlu bangun kilang. Tapi jangan sampai kilang­nya stand alone, tidak terintegrasi dengan industri petrokimia,” kata dia.

Ia mengatakan, lokasi ter­baik membangun kilang minyak di Indonesia saat ini hanya ada dua, yakni di Bontang, Kaliman­tan Timur, dan di dekat kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indot­ama (TPPI) Tuban, Jawa Timur.

Namun, menurut Faisal, den­gan kondisi Indonesia seperti saat ini, yang memiliki cadangan oper­asional BBM hanya cukup 18 hari, kebutuhan storage (tangki BBM) lebih penting daripada kilang minyak. “Storage lebih penting dibanding kilang,” tutupnya.

(Yuska Apitya Aji)