Untitled-6Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa, tatapan bayi baru lahir dapat menjadi petunjuk bagaimana ia akan berperilaku beberapa tahun mendatang

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Dalam studi tersebut, peneliti memerhati­kan 80 bayi yang baru lahir, yang berusia 1 hari sampai 4 hari dan diukur berapa lama tatapan bayi fokus pada gambar yang ditunjuk­kan ke mereka. Kemudian, ketika anak-anak berusia 3 sampai 10 ta­hun, orangtua mereka diminta mengisi kuesioner tentang temper­amen dan perilaku anak-anaknya.

Para peneliti menemukan bah­wa bayi yang baru lahir yang meli­hat gambar dalam waktu singkat, cenderung lebih hiperaktif dan im­pulsif di masa kanak-kanak nantin­ya, ketimbang bayi baru lahir yang melihat gambar dalam waktu lebih lama.

Secara keseluruhan, bayi-bayi yang menatap dalam waktu lebih singkat memiliki masalah perilaku di masa kecil, menurut hasil studi.

“Kami telah menyimpulkan bahwa adanya perbedaan antara bayi baru lahir dengan perhatian visualnya dapat menjadi prediksi bagaimana mereka berperilaku di masa mendatang,” ujar penu­lis studi Angelica Ronald, seorang profesor di Birkbeck, University of London.

Para peneliri mengatakan mereka belum mengetahui mekan­isme apa yang menghubungkan perhatian visual bayi dengan per­ilaku mereka di masa kecil, namun para ilmuwan akan mengeksplo­rasi pertanyaan ini selanjutnya.

Baca Juga :  Rayakan HUT ke 17, RSIA Pasutri Kota Bogor Gelar Donor Darah

Para peneliti juga mengatakan bahwa mereka terkejut menemu­kan perbedaan besar antara bayi dan seberapa lama mereka mam­pu bertahan memerhatikan gam­bar, ujar Ronald. “Sebenarnya ini menunjukkan pada kita, bahwa bayi baru lahir bukanlah ‘papan tulis kosong’, tapi telah menun­jukkan perbedaan antara yang satu dengan yang lain,” ungkap Ronald.

Perbedaan antara bayi-bayi ini memang sangat dini, bisa jadi karena genetik atau pengalaman mereka selama di dalam kandun­gan. “Bagi siapapun yang tertarik dalam menjalankan peran alamiah dan pengasuhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan visual anak tak semua karena or­angtua atau efek lingkungan sete­lah ia lahir,” papar Ronald

Para peneliti telah mengetahui kondisi yang menyebabkan orang sulit memerhatikan sesuatu, sep­erti attenton deficit hyperactivity disorder, yang sebagian diwaris­kan. Jadi, hal yang wajar jika ada perbedaan pada setiap orang, termasuk kemampuan untuk me­merhatikan di segala usia. Namun, bagaimanapun juga penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan, kata Ronald.

Selain itu, para peneliti mene­kankan bahwa satu jenis perhatian bukan berarti lebih baik secara keseluruhan dibanding yang lain. Meskipun memiliki rentang per­hatian yang sangat pendek dapat menghambat belajar seseorang, ”tingkat variasi antara orang mem­buat kita berkembang pada hal-hal yang berbeda,” kata Ronald.

Baca Juga :  Rayakan HUT ke 17, RSIA Pasutri Kota Bogor Gelar Donor Darah

”Ini mungkin mengapa satu orang berhasil sebagai pembalap mobil, di mana perubahan perha­tian visual yang cepat diperlukan, dan orang lain unggul di sesuatu seperti seni rupa, di mana konsen­trasi panjang pada rangsangan vis­ual dibutuhkan untuk membawa banyak keuntungan,” lanjutnya.

Karena belum bisa berkomu­nikasi, tak jarang tanda dehidrasi pada bayi terlambat terdeteksi, se­hingga bisa mengancam nyawan­ya. Apalagi, kandungan cairan pada tubuh bayi jauh lebih besar, yakni sekitar 80 persen, dibanding anak-anak 70 persen dan orang de­wasa 60 persen.

Fungsi cairan pada tubuh bayi sama seperti pada orang dewasa, untuk menyerap zat gizi yang ada dalam darah, membantu proses pencernaan, menjaga temperatur tubuh, dan lain sebagainya. Kare­na itu, bila cairan tubuh berkurang tentu akan mengganggu proses metabolisme dalam tubuh.

Dehidrasi menyebabkan darah mengental, sehingga suplai oksi­gen ke otak berkurang, karena zat asam ini tidak bisa bergerak sendi­ri ke otak tanpa ada cairan tubuh. Bila kondisi ini terus berlanjut, bayi bisa mengalami syok lantas kejang. Tak hanya itu, dehidrasi pun bisa menyebabkan kegagalan fungsi organ, seperti gagal ginjal atau infeksi berat. (*)