Untitled-1Dilarang menjewer anak. Imbauan ini perlu dipahami para orang tua. Kenapa? Karena ternyata telinga memiliki titik saraf yang banyak sekali hingga layaknya telapak tangan dan kaki yang bisa jadi tempat pijat refleksi. Karena itu pula, selain buat mendengar, telinga diciptakan untuk menyembuhkan banyak penyakit.

Oleh : RIFKY SETIADI
Email: [email protected]

Telinga juga ternyata bisa menyembuhkan. Pengalaman sembuh dari sakit lewat pijat tel­inga tak akan dilupakan oleh Oei Gin Djing. Pada 1990-an, dia divonis lumpuh total oleh para dokter sejak tulang belakangnya hancur karena kecelakaan kenda­raan yang dialaminya.

Walau begitu, dia yakin bisa sem­buh. “Saya pijat beberapa saraf di daun kuping saya terus-menerus,” kata ibu dua anak ini. Hasilnya, dalam waktu sebulan, dia sudah bisa memakai tongkat untuk berjalan, dan beberapa bulan kemudian, dia sudah bisa berjalan tanpa tongkat. “Ini anugerah, saya masih boleh membantu orang lain.”

Mungkin masih banyak yang be­lum tahu apa itu pijat refleksi telinga. Seperti halnya pijat refleksi kaki dan tangan, sebenarnya pijat refleksi tel­inga sudah berumur ribuan tahun, namun kurang populer dibanding pijat refleksi kaki dan tangan. Ter­api pengobatan yang diadopsi dari akupunktur dan akupressur ini su­dah ditulis dalam kitab pengobatan tradisional China dua ribuan tahun sebelum Masehi. Teori modern pengobatan ini dikembangkan dan diteliti oleh seorang ahli akupunktur dan dokter bedah saraf di Perancis, Dr. Paul Nogier, pada tahun 1970-an, sampai sekarang yang berkembang merupakan perpaduan teori dari pengobatan tradisional China dan Dr. Nogier.

Manfaat pijat refleksi telinga cukup banyak, nyaris sama dengan manfaat pijat refleksi kaki dan tan­gan. Selama menjadi praktisi pijat, penulis hanya menggunakan terapi ini sebagai pelengkap. Area yang lebih sempit serta cukup sakit jika dipijat jika ada gangguan membuat sebagian pasien merasa kurang nya­man, walau sebenarnya cukup ber­manfaat. Beberapa penyakit yang bisa dibantu dengan pijat refleksi telinga antara lain: pusing, maag, sesak napas, semua yang berkaitan dengan organ dalam tubuh, atau sekedar untuk relaksasi tubuh dan lainnya. Terapi ini relatif mudah serta bisa dilakukan secara mandi­ri. Tak perlu belajar secara njlimet kalau sekedar untuk relaksasi.

Baca Juga :  Inilah Makanan yang Perlu Dihindari Jika Tak Ingin Keringat Bau, Simak Ini!

Agar lebih efektif tentu tak ada salahnya jika sekedar mengenal titik-titik refleksi pada area telinga. Gunakan jempol dan jari telunjuk atau jari tengah untuk memijat atau mengusap pada area telinga bagian dalam atau luar. Lakukan gerakan pijat per titik di seluruh area, men­gusap di semua lipatan dalam telinga. Sesuaikan kekuatan pijatan, jika ada titik yang sakit, lakukan pijatan berulang-ulang. Un­tuk terapi penya­kit tertentu bisa dibantu dengan alat pijat seperti pentol korek api atau tusuk gigi yang tak begitu runcing. Titik refleksi yang sangat kecil akan sangat terbantu den­gan alat ini dibanding­kan sekedar jari tangan. Proses inilah yang mem­buat Gin Djing akhirnya tetap menjadi seorang akupunkturis, dan spesialisasinya, ya, me­mijat kuping tadi. Den­gan mengetahui titik saraf yang hendak disembuhkan, seorang awam sekalipun, katanya, bisa melakukan pengobatan sendiri.

Makanya, dia cukup membuat buku dan menerima telepon bila sang pasien masih kurang menger­ti. “Kalau dia baca buku, saya bisa guide dari sini,” ujarnya, di rumah yang jadi tempat kliniknya di Sunter Indah Raya, Jakarta Utara. Tanda penyakit ini pun bisa dilihat langsung, misalnya sakit kepala di bagian dahi, bisa terlihat tonjolan pada daun telinga kanan, pada bagian bawah dekat daerah tindikan anting. Pi­jatan pada titik ini akan memberi efek langsung terasa pada dahi yang sakit. Kalau di daerah lipa­tan atas daun kuping yang sama, tandanya ada masalah nyeri pada lengan. Rumus ini, menurut dia, sudah menjadi pedoman karena merupakan titik saraf. Rumus ini pun sudah dituangkannya dalam buku Terapi Pijat Telinga yang di­tuliskan pada 2006.

Baca Juga :  Inilah Makanan Tinggi Kalsium yang Perlu Dikonsumsi

Akupunkturis kelahiran Sema­rang, Juni 1966, itu menilai, terapi jenis ini memang lebih sulit bila dibandingkan dengan pijat kaki atau tangan. Soalnya, titik yang diterapi tidak terlihat mata. Biasan­ya ini diatasi dengan cermin. Kele­bihannya, kalau salah memijat titik saraf, tak ada efek samping. “Tapi biasanya kalau sakit, titik di daun telinga sudah terasa kalau disentuh, semakin sakit, semakin sensitif,” kata dia. Penyakit seperti gang­guan lambung, hati, sinus, bahkan TBC, pernah disembuhkannya. Memang, semakin berat penyakit, harus semakin sabar dan rajin. Pal­ing mudah, kata dia, penyakit yang lazim, seperti keseleo, sakit kepala, demam karena infeksi organ tubuh. Bila ingin lebih cepat, menurut dia, harus dilakukan dengan jarum. Karena titik saraf yang kecil bisa langsung terkena ketimbang den­gan pijatan tangan. Biasanya, kata dia, pentol korek atau tusuk gigi yang ditumpulkan bisa membantu menemukan titik saraf yang kecil luasannya. (*)