9993018_origANAK-anak dengan tidur yang tak sehat diketahui memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih rendah, lebih aktif, agresif, dan temperamental, dibanding anak yang cukup tidur

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Kafein adalah satu-satunya zat psikoaktif yang bisa dikonsumsi bebas se­cara legal oleh anak-anak maupun dewasa. Zat psikoaktif adalah zat atau bahan yang apa­bila masuk ke dalam tubuh manu­sia akan mempengaruhi susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan perubahan aktivitas mental-emo­sional dan perilaku. Zat ini, jika dikonsumsi terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan.

Zat-zat psikoaktif merupakan zat yang bermanfaat jika digunak­an secara benar di bidang medis, sayangnya kini banyak disalah gu­nakan.

Kafein, kini dikonsumsi luas oleh masyarakat. Ia ada dalam kopi, teh, minuman ringan, minu­man penambah energi dan berb­agai produk penambah vitalitas. Sayangnya, tak banyak orang yang tahu efeknya jika dikonsumsi sem­barangan oleh anak atau remaja.

Sampai saat ini Badan POM mengatur agar konsumsi kafein adalah 150 mg setiap harinya dibagi dalam tiga dosis. Sementara tiap sajiannya diatur tak melebihi 50 mg. Sementara Kanada lebih detail mengatur berdasarkan umur. Anak usia 4-6 tahun tak boleh konsumsi kafein lebih dari 45 mg perhari, kira-kira sama dengan kadar kafein sekaleng cola. Untuk usia 7-9 tahun 62 mg/hari dan 10-12 tahun dibatasi 85 mg perhari.

Penelitian yang diterbitkan pada the Journal of Pediatrics di tahun 2010, menyebut bahwa konsumsi kafein pada anak ber­hubungan langsung dengan durasi tidurnya. Padahal sebelumnya mer­eka ingin meneliti hubungan kafein dengan kebiasaan mengompol, yang ternyata tak berhubungan.

Para peneliti temukan bahwa ada 1/4 anak usia 5-7 tahun yang mengkonsumsi kafein, hanya tidur 9 jam seharinya. Sementara anak usia 8-12 tahun yang minum kaf­ein rata-rata hanya tidur 8,47 jam. Padahal seharusnya anak-anak ini tidur 9,46 jam tiap harinya.

Dari segi angka, kekurangan tidur yang dialami seolah tak ber­makna. Tetapi manfaat tidur yang cukup sebenarnya sangat penting bagi proses tumbuh kembang anak. Segala potensi otak yang hanya dibangun saat tidur akan hilang seiring dengan berkurangnya tidur. Anak-anak dengan tidur yang tak sehat diketahui memiliki ke­mampuan konsentrasi yang lebih ren­dah, lebih aktif, agresif, dan tem­peramental, dibanding anak yang cukup tidur.

Baca Juga :  Inilah Makanan yang Baik agar Miss V Wangi dan Sehat

Remaja dan dewasa muda dik­etahui memiliki kebutuhan tidur antara 8,5-9,25 jam seharinya. Mereka juga memiliki jam biologis yang unik hingga baru mengantuk di atas jam 11 malam. Sayangnya di Indonesia jam masuk sekolah ma­sih pukul 7 pagi, bahkan jam 6:30 untuk di Ibu Kota.

Dengan kemacetan dan se­gala tuntutan sosial, usia dewasa muda adalah kelompok yang pal­ing kurang tidur. Apalagi bagi usia 20an dimana produktivitas san­gatlah diutamakan. Pengurangan jam tidur tak bisa dihindarai. Aki­batnya untuk menopang aktivitas, banyak pemuda/i kita bergantung pada kafein dalam minuman kopi atau berbagai minuman penam­bah energi.

Efek kafein yang menyegarkan dan menghilangkan kantuk mem­berikan ilusi bahwa seseorang bisa lebih produktif. Padahal kemam­puan otak yang sudah kelelahan tak akan terbantukan. Hanya tidur yang sehatlah yang dapat mengem­balikan kebugaran dan performa otak. Untuk itu diperlukan penge­tahuan untuk mengatur tidur dan konsumsi kafein.

Tak banyak orang yang tahu bahwa kafein bisa bekerja di tubuh selama lebih dari 10 jam. Akibatnya konsumsi kafein tak diatur dengan baik. Minuman kafein diminum kapan saja kantuk menyerang, bahkan di sore hari. Tak heran pada akhirnya akan mengganggu durasi dan kualitas tidur. Keesokan harinya muncullah pemuda/pemu­di zombie yang beraktivitas dalam kantuk dan kembali minum kaf­ein sekedar untuk bisa berfungsi. Sebuah siklus yang merugikan produktivitas dan kesehatan.

Mulai dari jenjang SMU, mahasiwa/i hingga yang sudah bekerja, kelompok usia dewasa muda adalah kelompok usia peng­konsumsi stimulan (kafein & niko­tin) paling tinggi.

Baca Juga :  Inilah Makanan yang Perlu Dihindari Jika Tak Ingin Keringat Bau, Simak Ini!

Sebuah penelitian yang diter­bitkan pada Journal of Youth and Adolescence tahun 2013 mencoba melihat efek kafein pada gangguan perilaku kekerasan dan perilaku mengacau (violent and conduct disorder) pada remaja. Conduct disorder atau perilaku mengacau dijabarkan sebagai kecenderungan untuk melanggar aturan, norma-norma sosial atau bahkan hukum.

Penelitian ini meneliti 3.747 anak usia 15-16 tahun di Islandia. Separuh jumlah peserta penelitian adalah perempuan.

Hasilnya, didapati hubungan yang kuat antara konsumsi kafein dan perilaku kekerasan. Juga dite­mukan bahwa remaja perempuan yang mengkonsumsi minuman berkafein lebih beresiko terlibat dalam perilaku kekerasan diband­ingkan yang tak minum kafein.

Remaja perempuan tampaknya lebih rentan terhadap pengaruh kafein dibanding remaja pria. Tak dipahami secara jelas kenapa perempuan lebih rentan dibanding pria. Diduga ini disebabkan oleh ad­anya respon metabo­lisme kafein yang berbeda antara pria dan wanita. Salah satunya adalah kandungan le­mak tubuh yang lebih tinggi pada wanita.

Hubungan an­tara konsumsi ka­fein, dan perilaku kekerasan tak dapat dijelaskan secara pasti. Para ahli lain bahkan bera­gumen bahwa perilaku ke­kerasan remaja disebabkan oleh kurang tidur bukan oleh karena efek kaf­ein secara langsung.

Kurang tidur jelas sebab­kan kantuk dan mood yang bu­ruk, untuk mengatasinya banyak orang mengonsumsi minuman berkafein. Tanpa disadari efek ka­fein juga bisa mempengaruhi kesehatan tidur malam hari. Pada gilirannya, kurang tidur sebabkan kondisi mengantuk yang memi­cu lebih banyak kon­sumsi minuman berkafein.

Kuncinya bukan pada meng­hentikan konsumsi kafein, tetapi pada mengatur jadwal tidur, akti­vitas dan waktu yang tepat untuk minum minuman berkafein.

Anak-anak, remaja dan dewasa muda Indonesia saat ini mengan­tuk. Ini dapat dilihat dari maraknya iklan produk yang bisa meningkat­kan keterjagaan dan performa. Bu­kannya tak boleh minum minuman berkafein, tetapi aturlah konsum­sinya: