Opini-2-HeruOleh: HERU BUDI SETYAWAN
Pemerhati Pendidikan dan Guru Sekolah Pesat Kota Bogor

Isi dari himbauan beliau adalah, “Dalam upaya me­ningkatkan kualitas kehidu­pan beragama dan menin­gkatkan kedisiplinan kaum muslimin dan muslimat, maka dengan ini saya mengimbau ke­pada segenap kaum muslimin dan muslimat Kota Bogor di ling­kungan kerja Pemerintah, TNI, POLRI, Lembaga Negara, BUMN, BUMD, Perusahaan Swasta, Lem­baga Masyarakat, Sekolah, Ma­drasah, Pondok Pesantren, Pergu­ruan Tinggi, Rumah Sakit, Pasar dan berbagai kalangan profesi, agar menghentikan seluruh akti­vitas masing-masing ketika adzan telah berkumandang untuk segera melaksanakan shalat berjamaah di masjid atau musholla terdekat. Semoga Allah SWT senantiasa me­limpahkan rahmat, barokah dan ridha-Nya kepada kita semua,” (Bogor, 30 Juni 2014).

Sayang, himbauan ini tidak tersosialisasi dengan baik. Soal himbau itu, saya juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Itupun le­wat media sosial, yaitu facebook. Padahal pesan ini sudah setahun lebih dikeluarkan oleh Kang Bima Arya Sugiarto dan merupakan himbauan yang sangat baik serta bersifat strategis yang dampaknya sangat dahsyat baik di dunia mau­pun di akhirat.

Jarang dan mungkin tidak ada seorang pemimpin di Indonesia ini menghimbau pada warganya agar shalat berjamaah di masjid atau musholla tepat waktu. Menu­rut penelitian DMI (Dewan Masjid Indonesia), rata-rata prosentase shalat wajib berjamaah di Indo­nesia adalah 10 %, kecuali shalat dua hari raya dan shalat jum’at. Rasanya penelitian DMI ini benar adanya. Dengan kondisi jumlah jamaah shalat wajib sehari-hari, kecuali shalat dua hari raya dan shalat jum’at di Indonesia.

Bisa diambil contoh Masjid Masy’a di perumahan saya, Villa Mutiara Bogor. Masjid Masy’a ini kapasitasnya hanya 10 shaf. Kondisi shalat wajib berjamaahn­ya setiap hari di masjid tersebut yaitu shalat subuh berjamaah berjumlah 3 shaf, dzuhur 1 shaf, ashar 1 shaf, magrib 6 shaf (ter­banyak) dan isya 4 shaf. Kondisi ini lebih baik jika dibanding den­gan kondisi masjid yang ada di sekitar perumahan saya, bahkan kondisi ini hampir sama di selu­ruh masjid di Indonesia, kecuali untuk masjid yang sudah makmur jamaahnya seperti masjid Agung Demak dan masjid terkenal lain­nya.

Keadaan ini sungguh mem­prihatinkan, karena shalat tepat waktu adalah amalan yang pal­ing disukai oleh Allah SWT. Nabi Muhammad SAW sebagai teladan kita juga mewajibkan bagi orang buta untuk shalat berjamaah di masjid, asal bunyi adzan itu ter­dengar oleh orang buta tersebut, apalagi bagi kita yang normal.

Perhatikan hadist berikut “Aku pernah bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” ‘Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa kagi?” Beliau menjawab: “Kemudian berbakti kepada kedua orangtua.” ‘Abdul­lah bertanya lagi, “Kemudian apa kagi?” Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah.” (Hadist 496 HR. Bukhari ).

Padahal kalau orang tahu manfaat dari shalat berjamaah te­pat waktu di masjid, maka masjid akan penuh jamaahnya, karena masjid adalah tempat yang paling disukai oleh Allah, dan masjid itu tempat yang penuh keberkahan. Tidak ada kata terlambat, kita du­kung himbauan Kang Bima Arya Sugiarto agar berhasil. Karena itu, kita perlu melakukan hal-hal seb­agai berikut:

Pertama, Pemkot harus mem­buat jadwal shalat abadi, dan jad­wal ini disebar di seluruh masjid dan musholla yang ada di Kota Bogor. Jadwal ini juga disebar di lingkungan kerja Pemerintah, TNI, POLRI, Lembaga Negara, BUMN, BUMD, Perusahaan Swas­ta, Lembaga Masyarakat, Sekolah, Madrasah, Pondok Pesantren, Perguruan Tinggi, Rumah Sakit, Pasar serta mall. Kemudian sasa­ran akhir dari jadwal shalat abadi adalah seluruh KK (Kepala Ke­luarga) muslim yang ada di Kota Bogor. Dengan tersedianya jadwal shalat abadi dimana-mana, ini akan mempermudah dan mendo­rong muslim dan muslimat shalat tepat waktu berjamaah di masjid atau musholla.

Kedua, mengharuskan men­gumandangkan adzan sebanyak lima kali dalam sehari di semua stasiun radio dan televisi yang ada di Kota Bogor. Sementara un­tuk pusat-pusat keramaian seperti mall, pasar, terminal bus, stasiun kereta api, rumah sakit dan ban­dara harus mengingatkan dan mengumumkan dengan pengeras suara bahwa sebentar lagi akan masuk waktu shalat. Kalau kita berada di mall dua atau tiga jam ti­dak terasa, dan ini bisa membuat kita lalai dan melupakan shalat, apalagi di mall selama ini tidak pernah terdengar bunyi adzan dan anjuran untuk melakukan shalat berjamaah tepat waktu.

Ketiga, waktu ishoma (istira­hat, solat dan makan) di sekolah harus satu jam. Banyak sekolah yang waktu ishomanya hanya 30 atau 40 menit, jelas hal ini kurang, apalagi yang namanya pe­lajar, akan lebih memilih makan dulu dari pada shalat, ditambah lagi tidak ada imbauan dari pi­hak sekolah untuk melaksanakan shalat dahulu, lebih parah lagi kalau sekolah tersebut hanya me­miliki musholla yang kecil. Untuk efektif memang harus bergantian antara yang shalat dulu dengan yang makan dulu, seperti yang sudah dilakukan sekolah saya.

Keempat, dibuat suasana dan iklim yang mendukung kita mu­dah melaksanakan shalat berja­maah tepat waktu di masjid atau musholla. Banyak cara yang dapat kita lakukan agar tercipta suasana dan iklim yang mendukung kita mudah melaksanakan shalat ber­jamaah tepat waktu di masjid atau musholla, yaitu: