
- pembebasan diri dan bangsa dari belenggu prilaku dan akhlak madzmumah, akhlak yang tercela yang sekarang ini menjadi tontotan dan tuntunan sehari-hari. Betapa informasi dan kenyataan sehari-hari dilapangan ini sangat mengkhawatirkan masa depan generasi bangsa ini yang akan meneruskan estafeta perjuangan para pahlawan yang telah sudi mengorbankan harta, tenaga bahkan jiwa mereka unÂtuk kedamain dan kesejahteraan para penerusnya.
Pepatah Arab mengingatÂkan kepada kita akan pentingÂnya akhlak dalam membangun dan mempetahankan eksistensi sebuah bangsa “sesungguhnya jati diri dan eksistrensi sebuah umat sangat ditentukan dan tergantung kepada akhlaknya, jika akhlak mereka rusak maka bangsa itu akan segera menemui kehancuran dan terus menerus berada dalam keterpurukan “.
- pembebasan diri dan bangÂsa dari budaya dan pandangan hidup hedonisme yang mengarah kepada semata-mata memburu kenikmatan duniawi sesaat seÂcara berlebih-lebihan yang akhiÂranya akan melahirkan budaya persimifisme, yaitu budaya serba boleh. Mereka menuntut diilegalÂkannya praktek prostitusi, seks bebas, dan praktek kemaksiatan yang lainnya atas nama hak asasi manusia dengan melupakan hak asasi Allah swt.
Dalam kondisi semacam ini biasanya segala aktifitas kebaikan, segala bentuk amar ma’ruf dan nahyi munkar akan diangÂgap sebagai penyakit, dianggap sebagai hama yang harus segera dibasmi seperti yang dikatakan oleh kaum nabi Luth terhadap nabi mereka. mereka mengatakan dengan budaya dan cara panÂdang hedonisme mereka, dengan budaya dan cara pandang perÂsimifisme mereka
Artinya: Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “ usirlah nabi Luth beserta keluarganÂya dari negeri ini karena sesungguhÂnya mereka itu adalah orang-orang yang mengaku dirinya bersih dan suci (QS. An Naml : 56).
- pembebasan diri dan umat dari praktek syirik dalam seÂgala bentuknya, sehingga seperti yang dikhawatirkan oleh Imam Ali karomallahu wajhah tentang kondisi sebuah umat yang tidak ada nilai dan tidak ada harganya dimata Allah dan juga dimata maÂnusia. Imam Ali menyebutkan “ akan darang atas manusia suatu zaman semangat mereka hanya berada disekitar perut mereka, kemuliaan mereka sangat terganÂtung kepada benda-benda fisik semata, jidat mereka ada pada perempuan-perempuan, agama mereka ada pada urusan dinar dan dirham. Mereka itulah orang-orang yang paling jahat dan tidak ada nilainya disisi Allah swt “. Inilah yang dikhawatirklan oleh Imam Ali, manakala nilai dan semangat kemerdekaan ini tidak diisi dengan rasa syukur yang mendalam untuk memberdayakan, mendayagunakan segala kemampuan yang kita miliki, seÂgala potensi yang dimiliki untuk mengharapkan ridho Allah swt.
Merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri bahwa peran dan sumbangan para UlaÂma, peran dan sumbangan para pahlawan serta umat Islam begiÂtu besar dan menentukan dalam perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajah dan meraih kemerdekaan. Betapa kontribusi mereka yang sangat bernilai diÂmata bangsa ini harus senantiasa dijadikan suatu semangat untuk mengukir prestasi sebagai bentuk relisasi dari rasa syukur kepada Allah swt. Saatnya kita menjadiÂkan momentum kemerdekaan ini untuk meneladani perjuanÂgan para pahlawan negeri ini, meneruskan perjuangan mereka dan membawa kemerdekaan ini menuju kemerdekaan yang totalitas dalam segala arti dan bentuknya. Semoga dengan keÂberkahan dan rahmat Allah swt, bangsa ini segera terbebas dari segala bentuk ujian dan bencana yang menimpa, baik ujian seÂcara fisik materil maupun ujian secara akhlak dan moral, karena itu merupakan ujian yang cukup terbesar bagi bangsa ini. KeberkaÂhan dan rahmat Allah mudah-muÂdahan senantiasa mewarnai keÂhidupan bangsa ini seperti halnya atas berkat rahmat Allah jualah bangsa ini meraih kemerdekaan.
KHUTBAH KEDUA KE-2
Kesyukuran yang tertinggi bagi kita bukan hanya bangsa ini telah meraih kemerdekaan, tetaÂpi kesyukuran kita selaku umat Islam adalah bahwa kita tidak sekedar menjadi penonton diÂdalam mengisi kemerdekaan ini, tapi semampu mungkin menjadi pemain dan ikut ambil bagian sesuai dengan bidangnya masing-masing, sesuai dengan segmentaÂsi masing-masing untuk menjadi orang-orang yang bisa mencoret dan menuliskan sejarah kegemiÂlangan bangsa ini dimasa yang akan datang, sehingga kita akan dikenang sebagai sebuah kebaikan yang Insya Allah jika itu diteruskan oleh generasi yang akan datang, maka kita akan meraih sunah jariah ( pahala jariah ) yang tidak putus-putus meskipun kita sudah menghadap Allah swt.
Dengan semangat kemerdekaan ini, kita pertahankan keutuhan jati diri dan bangsa ini dengan nilai-nilai akhlak yang luhur dan nilai-nilai Islam Yang tinggi, hanya dengan itu, kita bisa meraih kejayaan dimasa yang akan datang. Mudah-mudahan AlÂlah swt berkenan meneruskan seÂjarah bangsa ini sehingga bangsa ini akan menjadi sebuah “ baldaÂtun thayyibatun warabbun ghaafur “ sebuah negara dan bangsa yang meraih maghfirah Allah swt dalam waktu yang bersamaan juga meraih kesejahteraan dan kedamaian selama-lamanya.
Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliiÂna allahumma shalli ‘alaa muhamÂmadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim.Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum maÂjiid.. Ammaa ba’ad.
‘Ibaadallah innallaaha ya-muruu bil ‘adli wal ihsaan wa iitaa-i dzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi yaizhzhukum la’allakum tadzakÂkaruun fadzkurullaaha ‘azhiimi wa yadzkurkum fastaghfirullaaha yastajib lakum, wasykuruuhu ‘alaa ni’matil latii wa ladzikrullaaÂhu akbaru wa aqiimish shalah. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















