antarafoto-festival-food-truck-tangerang-051214-rivJualan makanan dengan mobil me­mang tidak asing di Indonesia. Sebagian pedagang sayur, pernak-pernik dapur, pecel, bakso, atau sate sudah menggunakan mobil bak terbuka atau kendaraan roda tiga berkeliling kampung menjajakan dagan­gan.

Lantas, apa bedanya dengan food truck? Bagi Anar ”Puput” Arsyid (26), satu dari empat pendiri Amerigo, kendaraan dalam food truck memiliki desain khusus dari sisi konstruksi dan rupa. Ada dapur untuk memproses makanan, umumnya menawarkan menu tematis.

Amerigo adalah satu dari beberapa ”merek” yang mengawali tren food truck di ibu kota Jakarta. Amerigo memakai truk Mitsubishi Colt FE 71 L yang memiliki panjang total 5,75

meter untuk membangun dapur bergerak. Kompor, alat pendingin, pe­manggang, penggorengan, serta rak dan meja tertata di dapur kendaraan.

Selain Amerigo, ada Loco Mama, Ta­banco Coffee, Jakarta Food Truck ( JFT), Taco Truck, Food Stop, Retro Gourmet, Street Ramyun, dan lainnya yang meny­emarakkan food truck di Jakarta. Mereka muncul sejak akhir tahun lalu dan may­oritas dikelola anak muda.

Menurut Sigit, esensi food truck adalah terus bergerak. Oleh karena itu, kenda­raan didesain menjadi dapur sekaligus kios yang bisa berpindah-pindah tempat. ”Beda dengan pedagang yang ada selama ini, kami masih memproses makanan di kendaraan, tak sekadar memajang dan menjualnya,” kata Sigit Adrian Pambudi (25), rekan Puput, sesama pendiri Ameri­go, di arena Festival BBQ Jakarta di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Menu berbeda

Selain praktis, menu yang disajikan food truck umumnya juga spesifik, ses­uai dengan tema yang diusung pengelola. Amerigo menawarkan menu dari sejumlah penjuru dunia, seperti nasi ayam biryani dari India, beef burger dari Amerika, jap­chae dari Korea, dan poutine dari Peran­cis. Loco Mama, food truck yang digagas Griselda Valentina dan rekan, menawar­kan menu khas Meksiko, seperti burrito, nacho, quesadilla, dan mexican s’mores. Pembeli bebas memilih sambal dan top­ping untuk menu utama dengan harga bervariasi Rp 20.000 hingga Rp 40.000.

Usaha food truck butuh modal hingga ratusan juta rupiah. Alokasi terbesar un­tuk pembelian kendaraan dan konstruksi dapur. Namun, peluang bukan berarti tertutup bagi pemula. Puput dan kawan-kawan, misalnya, berjuang mendapatkan modal hingga Rp 700 juta dari investor melalui proposal usaha. Mereka mem­buat detail rencana dan target periodik.

Hasilnya, Amerigo bisa meraup omzet Rp 134 juta pada bulan pertama. ”Meski tinggi, pencapaian itu belum sesuai den­gan harapan. Sebab, jam operasi lebih pendek dari rencana,” kata Puput yang pada Senin-Jumat biasa mangkal di Pasar Santa, Jakarta Selatan.

Ekonom Universitas Indonesia, Aris Yunanto, menjadi bagian dari masyarakat urban Jakarta dan sekitarnya yang terpe­sona oleh demam food truck ini. ”Ini me­mang fenomena baru, sangat menarik, walau saya tahu food truck ini sebenarnya kemasannya saja yang berbeda.”

Aris melihat food truck mampu men­dobrak patron usaha jasa kuliner yang selama ini terperangkap pada bentuk lay­anan yang itu-itu saja. Bukan berarti era warung tenda atau lesehan akan berakhir karena kehadiran food truck. Namun, nongkrong sembari mengerumuni mobil besar berisi berbagai jenis makanan segar langsung olahan dapur berjalan tentu jadi daya tarik yang sulit ditolak siapa pun.

Pertama, kehadiran bus, truk, atau mobil yang dimodifikasi menjadi begitu cantik, lucu, dan unik jelas bukan peker­jaan kacangan. Ada sentuhan seni, barang berkualitas, dan penerapan teknologi, sesuatu yang banyak digandrungi kaum kelas menengah urban.

”Indonesia termasuk yang tertinggi pertumbuhan kelas menengahnya. Kelas ini mereka yang mampu membelanjakan 2-20 dollar AS per hari. Ciri-ciri kelas ini adalah mereka senang dilayani, mencoba hal baru, tahu sedikit banyak tentang tren di luar negeri, dan ingin merasakan sen­sasinya di sini,” katanya.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected] (KPS)