20140522_130710_2Makanan tradisional berbahan dasar tepung ketan dan sagu, mochi, dan cilok alias ‘aci dicolok’ memang digemari banyak kalangan. Terlebih, kedua makanan ini dapat divariasikan dengan aneka rasa dan bahan. Hasilnya moci dan cilok menjadi santapan lezat dan kekinian.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Kesuksesan seseorang berbisnis ku­liner memang bisa berawal dari kreatif melakukan inovasi produk. Cara ini pula yang dilakukan Iman­uddin dalam membesarkan Kedai Mochilok. Di kedainya, pria yang akrab disapa Iman ini menjual camilan aci dicolok alias cilok dengan kemasan dan citra rasa baru serta moci aneka rasa hasil inovasinya sendiri.

Lazimnya, camilan cilok hanya dikukus atau digoreng. Tapi, cilok khas Iman yang diberi brand Mochilok ini disajikan dengan perpaduan resep olahan. Cilok ini disajikan dengan cara dibakar terlebih dahulu kemudian dibaluri den­gan bumbu barbekyu. Lalu dilumuri saus sam­bal dan mayones. Maknyus.

Sementara moci buatannya diisi dengan es krim sembilan rasa seperti rasa taro, green tea, stroberi, cokelat dan lainnya. Kreativitasnya membuat cilok dan mochi inovasi mengantar­kan Imanuddin menjadi juara I Program Wi­rausaha Muda Mandiri (WMM) 2014 kelompok pascasarjana dan alumni kategori boga.

Keberhasilan Iman melakukan inovasi cilok, boleh dibilang berawal dari coba-coba. Dia berkisah, pada Januari 2012, ia terinspirasi membuat usaha camilan yang sudah popular di masyarakat, namun dibuat versi inovasi baru.

Dari situ, Iman mulai mendata menu makan­an yang sudah tidak asing di telinga dan dige­mari oleh masyarakat. Pilihannya, akhirnya jatuh pada dua menu jajanan yang sudah akrab bagi masyarakat, yakni moci dan cilok.

Dengan bermodal uang Rp 5 juta, Imanuddin membeli bahan baku moci dan cilok, kompor dan freezer. Dia melakukan banyak percobaan untuk menciptakan aneka rasa moci dan cilok. “Selama enam bulan, saya banyak gagal mencip­takan inovasi rasa dua camilan ini,” kata dia.

Saat itu terlintas dalam pikirannya bahwa usahanya akan gagal. Namun pria satu anak ini kembali memberanikan diri untuk terus membuat resep sampai berhasil. Awalnya dia melakukan tes pasar dengan menjual moci es krim dan cilok bakar inovasinya di depan teras rumah kakak iparnya di Bandung.

Lokasi usahanya ini berada di gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor dan pejalan kaki. “Karena belum punya cukup uang untuk sewa tempat jadi saya pakai teras rumah kakak ipar untuk buka usaha,” sebutnya.

Nyatanya, camilan yang dia beri nama Mo­chilok ini cukup laris. Hasil produksi 100 buah moci dan 50 buah cilok habis terbeli dalam tiga hari penjualan perdana. Sebab, wilayah itu adalah kawasan kos-kosan mahasiswa, jadi ra­mai. “Hingga sempat dikomplain tetangga kare­na area rumah dipenuhi motor dan kunjungan pembeli menimbulkan kemacetan,” ujarnya.

Kini, Iman mengaku telah punya enam ge­rai Mochilok. Tiga gerai di antaranya berada di Bandung, selebihnya Jakarta dan Cianjur. Den­gan strategi promosi melalui media sosial dan reseller, Mochilok semakin dikenal masyarakat luas. Dia juga menawarkan kemitraan usaha un­tuk mengembangkan usahanya ini.

Bahkan, yang membuatnya bangga, cilok yang dulu dikenal jajanan kalangan bawah telah digemari oleh pelanggannya dari berbagai lapisan masyarakat. Pembelinya sudah hampir menyebar di seluruh Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Lampung, Medan, Bali, dan Makassar.

Iman mengklaim kini mochilok buatannya pernah dipesan wisatawan asing dari Jerman, Polandia, dan Swedia yang singgah di Bandung. “Saya bangga bisa memperkenalkan mochilok. Respon turis asing sangat bagus, karena mereka suka,” imbuh Iman.

Kini, dalam sehari, Iman bisa memproduksi 3.000 mochilok. Harganya Rp 2.000−Rp 5.000 per buah. Dengan harga jual terjangkau, Iman mengaku bisa mengantongi omzet Rp 5 juta per hari. Alhasil dalam sebulan, Iman bisa mengan­tongi omzet sekitar Rp 150 juta. (KTN)