Oleh: UST. SYAHIDIN, S.HI
Disampaikan di Masjid Jami’ As-Syujaiyyah Daarul Uluum, Bantarkemang, Bogor

Sidang Jum’at yang berbahagia, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah dan taat kepada-Nya. Semua perintah-Nya kita wajib menaatinya dengan sepenuh hati. Begitu pula semua larangan-Nya kita wajib menjauhinya. Apabila yang demikian ini kita dapat melaksanakan, ada harapan kita termasuk orang-orang yang bertakwa. Sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa bertakwa, karena semulia-mulianya orang di sisi Allah adalah mereka yang bertakwa.

Sidang jum’at yang berbahagia.

Bagi seorang muslim wajib taat kepada pemerintah (ulul ‘amri) terhadap sesuatu yang di­perintahkannya bagi dirinya baik hal itu menyenangkan darinya atau tidak menyenangkan, sela­ma perintah itu bukan berwujud kemaksiatan. Apabila diperintah­kan untuk melakukan kemaksi­atan, maka tidak boleh taat, kare­na hal itu akan mengakibatkan durhaka kepada Allah dan Rasul- Nya. Padahal Allah dan Rasul-Nya harus lebih ditaati sebagai mana firman Allah yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman,taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya,dan orang-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu.(An-Nisa :59)”

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Tunduk dan patuh wajib atas seorang muslim dalam perkara yang disenangi atau dibenci,selama tidak diperintahkan dengan ke­maksiatan. Apabila diperintahkan dengan kemaksiatan maka tidak diperkenankan untuk tunduk dan patuh.( HR Bukhari)”

Ulul ‘amri (pemerintah) ialah orang-orang yang memegang kekuasaan untuk melaksanakan urusan dan kemaslahatan umum, misalnya presiden, gubernur, bupati, hakim, dsb. Kita wajib menaati mereka meskipun perin­tah yang dikeluarkan tidak meny­enangkan kita, misalnya perintah untuk maju ke medan perang jika negara dalam keadaan daru­rat, membayar pajak dsb, selama perintah itu untuk kepentingan umum tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Apabila seorang muslim diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan misalnya disuruh untuk berbuat kezaliman, melakukan perbuatan yang haram seperti membuka tempat pelacuran, perjudian dsb, maka tidak boleh tunduk dan patuh terhadap pemerintah itu, bahkan harus menentang dan member nasihat agar ulul ‘amri itu sadar kembali.

Taatlah kepada ulul ‘amri (pemerintah) selama pemerintah itu taat kepada Allah dan Rasul- Nya. Apabila mereka melakukan kemaksiatan berilah nasehat den­gan bijaksana dan jangan sampai kita membiarkan mereka melaku­kan kemaksiatan dan kezaliman apabila kita cenderung kepada mereka. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firmannya yang artinya :

“dan janganlah kamu cend­erung kepada orang-orang yang zalim,yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,dan sekali-ka­li kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.(Hud:113)

Kaum muslimin yang berba­hagia. Bila mana seorang telah diangkat sebagai pemimpin, be­rarti ia mengemban tanggung jawab terhadap anggota keluar­ganya. Seorang pemimpin pe­rusahaan bertanggung jawab terhadap semua karyawan peru­sahaan. Pemimpin negara ber­tanggung jawab terhadap semua rakyatnya. Demikian seterusnya hingga tercipta suasana bahagia, aman dan sejahtera yang dapat dirasakan oleh setiap anggota yang dipimpinnya. Khususnya pemimpin negara, dia bertang­gungjawab mewujudkan suasana bahagia yang benar-benar dapat dirasakan oleh setiap warga neg­aranya. Itulah tujuannya men­gapa sampai dianggap seorang pemimpin. Akan tetapi dapatkah seorang pemimpin melaksanakan tugas itu tanpa mendapat dukungan rakyatnya?

Untuk mendukung usaha yang menjadi beban pemimpin itu harus ada partisipasi masyara­kat. Mereka diharuskan taat ke­pada pemimpin. Segala perintah pemimpin harus ditaati dan di­laksanakan, se lama tidak berten­tangan dengan syar’iat iIslam. Ke­wajiban itu tidak boleh dilanggar sebagaimana sabda Rasulullah saw. Yang diriwayatkan oleh Bukhari bersumber dari Anas RA:

“Dengarlah dan taatlah sekalipun yang diangkat atas kalian seorang bu­dak habasyah yang kepadanya bagai­kan kismis.(HR Bukhari)”

Ditegaskan pula dalam hadits lain, beliau bersabda yang artinya:

“Barang siapa taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah.barang siapa mendurhakaiku berarti ia mendurhakai Allah dan barang sia­pa taat kepada pemimpin berarti ia taat kepadaku dan barang siapa mendurhakai pemimpin berarti ia mendurhakaiku.(HR Bukhari dan Muslim).”

Begitulah ketentuan yang di­anjurkan Allah SWT. Agar seluruh kepatuhan mereka akan mem­perlancar usaha para pemimpin menjalankan tugasnya untuk terciptanya suasana bahagia dan sejahtera ,merata kepada seluruh masyarakat.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Islam menghendaki ketentra­man dan ketertiban hidup ini,baik individu maupun bermasyarakat. Untuk mencapai tuntutan seperti itulah diperlukan pemimpin, se­bagai pengatur ketetapan-keteta­pan masyarakat. Oleh karenanya pemimpin ini memiliki tanggung jawab yang berat. Sebab tentram­nya tatanan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh kara­kter pemimpinnya. Pemimpin yang berlaku zalim, curang, suka menipu rakyatnya, berarti se­cara tidak langsung ia telah ber­buat kekacauan dan kerusakan di bumi ini. Perbuatan sema­cam ini di akhirat kelak ia akan mendapatkan siksaan yang pe­dih dari Allah sebagaimana yang telah difirmankan-Nya dalam su­rat Asy-Syura yang artinya:

“Tidak ada jalan melainkan atas orang-orang yang menza­limi manusia dan membuat keru­sakan di bumi dengak tidak benar. Adalah bagi mereka azab yang pe­dih.(Asy-Syura :42)”

Firman Allah yang lain :

Artinya: “Dan janganlah seka­li-kali kamu (Muhammad) men­gira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah member tanggung jawab kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka ) terbelal­ak. (Ibrahim :42)”

Demikian juga Rasulullah saw. Mengatakan kepada pe­mimpin yang curang da berbuat zalim kepada rakyatnya besok di hari kiamat akan mendapat sik­saan yang pedih,seperti:

Artinya : “Manusia yang pal­ing berat siksaannya di hari kiamat nanti adalah (siksaan) bagi pe­mimpin yang zalim.(HR Thabrani)”

Dari beberapa ayat dan hadits di atas dengan tegas menunjuk­kan bahwa pemimpin atau pen­guasa yang menipu rakyatnya itu berarti menzalimi rakyat, maka pemimpin seperti itu kelak di akhirat nnati akan memperoleh siksaan yang pedih sebagai bala­san perbuatannya. Tetapi apa­bila penguasa itu bisa menjaga perbuatannya, memegang kedis­iplinan dan keadilan sehingga ter­cipta kondisi yang menjadi dam­baan seluruh rakyatnya, maka Allah pun akan memberikan kegembiraan dan kasih sayang kepadanya, seperti sabda Rasu­lullah SAW berikut yang artinya:

“Para pemimpin yang adil akan tinggal diatas panggung-panggung yang terbuat dari cahaya,ialah orang-orang yang berlaku adil dalam memutuskan perkara dan mengurus ahli-ahlin­ya serta segala sesuatu yang dis­erahkan kepadanya.(HR Muslim)”

Disamping itu juga bilamana penguasa dapat berlaku adil terhadap rakyatnya sehingga merasa mendapat naungan dari kepemimpinannya , maka iapun di akhirat kelak akan mendapat naungan dari Allah swt. Seb­agaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Penguasa yang adil itu,Allah akan menaungi kepadanya pada suatu hari yang tiada lagi naungan kecuali hanya naungannya” (HR Muslim) (*)