IMG_0597BAGAI menggarami air di lautan. Itulah pepatah yang diarahkan pada mereka yang bermimpi sungai Ciliwung bersih. Gambaran kelam masa depan sungai ini, menjadi potret hitam putih yang seolah tak lagi memiliki warna hidup. Pekerjaan membersihkan sungai Ciliwung pun, dianggap sebagai perbuatan sia-sia.

Oleh: RIFKY SETIADI

[email protected]

Seperti habis air mata, wajah sungai Ciliwung dari posko pemantau Bendung Katulampa Bogor, terlihat mengering. Debit air yang biasanya diang­gap buas kini tanpa riak dan gairah. Bebatuan besar dan beton pemecah arus yang be­rada di dasar sungai Ciliwung, kini terlihat jelas diterkam ma­tahari. Di musim kering, sungaiCiliwung mengalami penu­runan debit air secara drastis sejak awal pertengahan bulan Juni lalu. “Saat ini, sungai Cili­wung yang mengalir melalui BendungKatulampa hanya 100 liter air per detik. Sedangkan untuk saluran irigasi hanya di­alirkan 1.900 liter per detik,” jelas Andi Sudirman, penjaga Posko Bendung Katulampa Bo­gor, kepada BOGOR TODAY, Ju­mat (18/09/2015), kemarin.

Dalam cuaca normal, debit air yang mengalir di sungai Ciliwung bisa mencapai hing­ga 4 ribu liter per detik. Bah­kan, di musim hujan debitnya bisa di atas 50 ribu liter per detik. Andi, sang penjaga air, hingga kini tetap setia menga­tur riak sungai Ciliwung, baik disaat meluap maupun ketika kekeringan melanda. Untuk mengantisipasi kekeringan ini, ia melakukan sistem pola ber­gilir dari Bendung Katulampa. “Langkah ini dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem di sungai Ciliwung dan supaya tetap bisa mengairi sawah per­tanian,” ungkapnya.

Andi memang memper­lakukan sungai sebagai saha­bat. Ia sadar, air adalah denyut kehidupan. Kerenanya, upaya-upaya seperti pelestarian hu­tan di hulu sungai, menjaga kebersihan sungai dari sam­pah dan limbah, baik rumah tangga maupun industri, sudah seharusnya menjadi komit­men bersama. Ciliwung yang kerontang, menjadi teguran bagi kita, betapa selama ini kita tidak peduli pada pelestariandan kealamian sungai. Kita terlalu buruk memperlakukan sumber air ini. Namun, ma­salah sesungguhnya ternyata juga bukan hanya muncul di hilir sungainya, namun justru berawal dari hulunya.

Di hulu sungai Ciliwung, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor badan sungai mulai dihadang beton bangunan. Vila-vila baru banyak yang bermunculan dan memakan lahan kosong yang dulunya adalah kebun. Di area hulu itu, ada beberapa titik alirankecil yang nanti­nya menyatu menjadi Sungai Ciliwung. Antara lain, hutan konservasi Telaga Warna, Desa Tugu Utara, Situ Patung Pramuka, dan Perkebunan Teh Ciliwung. Sayangnya, di ban­taran awal Sungai Ciliwung itu banyak dibangun vila dan pe­rumahan warga.

Di atas aliran sungai Ci­kamasan, salah satu hulu Ciliwung, berdiri bangunan-bangunan dengan beton yang justru menghalangi aliran air sungai Cikamasan. Di sisi lain, ada kamar mandi umum yang limbahnya langsung di buang ke sungai. Sementara di Desa Tugu Selatan, keadaan sungaipun sangat menyedihkan. Beton-beton villa menyempit­kan aliran sungai. Beberapa vila terlihat dibangun tepat di badan sungai. Hulu lain sungaiCiliwung yang terletak di Desa Cibereum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, kondisinyatak kalah miris. Sampah-sampah yang sudah dikarungi denganplastik hitam bertum­puk dan bertebaran, semen­tara sampah styrofoam terli­hat ikut berceceran. Beberapa baliho juga tergeletak di ping­gir sungai.

Dari beberapa titik hulu sungai Ciliwung ini, sungai yang awalnya besar, sema­kin lama mengerucut dengan banyaknyarumah-rumah liar yang berdiri. Di beberapa titik itu juga, terlihat warga yang membuang sampah langsung ke hulu sungai Ciliwung. Sam­pah yang terbuang itu ter­kumpul di satu tempat karena tertahan oleh batu besar yang berada di sungai. Kerusakan yang dimulai dari hulu sungai inilah yang membuat ribuan warga Jakarta harus senantiasa mendapat kiriman banjir jika tiba-tiba curah hujan tinggi di kawasan Puncak.

Sungai Kritis

Kondisi kerusakan sungai Ciliwung yang membentang dari dataran tinggi Jawa Barat hingga Teluk Jakarta, memang semakin parah. Ciliwung meru­pakan sungai dengan panjang hampir 120 kilometer. Sungaiini membelah wilayah Bogor, Depok dan Jakarta. Kondisi kritis di sungai itu cenderung semakin meningkat. Menu­rut inventarisasiKementerian Lingkungan Hidup, kondisi kritis Daerah Aliran Sungai (DAS) tahun 1984 terhitung se­banyak 22. Di tahun 1992, DAS Kritis menjadi 39, dan pada 1998 jumlah DAS Kritis terus meningkatmenjadi 55 DAS dan bahkan menjadi 62 DAS di ta­hun 2010. Sungai Ciliwung ter­masuk ke dalam salah satu DAS kritis di Indonesia dan terus mengalami kerusakan serius pada semua segmen.

Baca Juga :  Gerombolan Monyet Liar Serang Gedung Sekolah, Plafon Hingga Komputer Rusak

Hilangnya spesies ikan menjadi salah satu indikator keparahan rusaknya Sungai Ciliwung. Dari 33 spesies ikan yang teridentifikasi hidup di sungai Ciliwung, hanya ter­sisa sekitar 20 jenis saja. Ber­bagai jenis ikan yang hilang dari sungaipenting di wilayah Bogor-Jakarta ini diantaranya ikan gobi dan jenis seperti ikan arelot, ikan soro, ikan berot hingga ikan belida yang kini se­makin sulit dijumpai dan hanyadapat ditemukan di sungai Cisadanesaja. Padahal, menu­rut data yang pernah dihimpun oleh Biologi LIPI menyebutkan di era 1910-an jumlah ikan spe­sies ikan yang hidup di sungai Ciliwung diperkirakan bisa mencapai 187 jenis.

Berbagai informasi bah­kan menyebutkan beragam jenis ikan seperti menga, ikan bawal, ikan patin, ikan gehed (sejenis ikan mas), sili, baung lilin, baung kuning, gurame dan buntal air tawar ikut menghilang dari aliran sungai ini. “Banyak ikan-ikan asli Cili­wung yang sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memberikan nilai tam­bah ekonomi maupun menjadi spesies khas dari sungai ini, entah untuk dikembangkan maupun untuk olahraga me­mancing atau bahkan menjadi konsumsi,” ungkap Ruby Vidia Kusumah, aktivis Komunitas Peduli Ciliwung (KPC-Bogor) sekaligus peneliti pada Balai Ri­set Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok.

Kualitas Air

Ancaman nyata lingkungan di aliran sungai yang mengalir dari daerah Puncak di Jawa Barat hingga Jakarta ini se­makin tak tak terhindarkan. Kondisi lingkungan kualitas air menurun akibat pencemaran limbah domestik dan industri dan siklus hidrologis yang fluk­tuatif. Padatnya pemukimandan luasnya industri di sepan­jang aliran sungai ini, telah menyebabkan berkurangnya lokasi-lokasi bagi sungai un­tuk melakukan sistem pulih dirinyasendiri. Salah satu lo­kasi ‘sistem pulih diri’ sungai Ciliwung adalah ketika aliran sungai melintas di Kebun Raya Bogor. Lokasi ‘sistem pulih diri’ ini sekaligus merupakan lokasi reservat yang baik yang secara layak dapat menjadi habitat bagi spesies-spesies biota yang ada di Ciliwung.

Kenyataan miris bah­kan diungkapkan oleh Pusat PengelolaanEkoregion (PPE) Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyatakan dari sembilan sungai di Pulau Jawa, Sungai Ciliwung menempati urutan pertama sebagai daerah aliransungai terburuk dalam rilis Indeks Kualitas LingkunganHidup (IKLH) berbasis DAS. Sembilan DAS tersebut yaitu Bengawan Solo, Brantas, Cili­wung, Cisadane, Cimanuk, Citarum, Citanduy, Progo, dan Serayu. “Air di sungai-sungai tersebut tidak layak. Kuali­tas air masih berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” kata Kepala PPE Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan KehutananSugeng Priyanto.

Ia mengatakan kualitas air yang paling buruk dari sembi­lan DAS tersebut dengan skala 0-100 adalah Sungai Ciliwung. Sementara yang tertinggi adalah Sungai Progo. “Itu baru dilihat dari aspek air. Padahal ada aspek lain yang juga bisa mengukur IKLH-nya,” ujarnya. Aspek atau komponen selain air kata dia, juga ada aspek uda­ra, lahan dan keanekaragaman hayati. Pada aspek sumberdaya air digunakan indikator kuali­tas air sungai dan kekritisan air. Pada aspek udaradigu­nakan indikator kualitas udara ambien dan pengatur kualitas udara. Pada aspek lahan meng­gunakan indikator tutupan vegetasi dan lahan kritis. Se­dangkan pada aspek keanekaragaman hayati digunakan in­dikator keamanan ekosistem pengawet keanekaragaman hayati. “Seluruh air sepanjang Ciliwung berada di bawah baku mutu kualitas air. Sampah dan limbah selain mencemari juga mengurangi habitat ikan asli. Karena tercemar, masyarakat pinggir sungai juga kehilangan kesempatan pemanfaatan air,” tangap M. Muslich, aktivis Ko­munitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor.

Baca Juga :  Kepala BNPB Respon Soal Peringatan Gempa Besar Selat Sunda

Lomba Mulung Sampah

Penyusuran sungai Cili­wung yang dilakukan KPC Bo­gor pada 2011 mencatat ber­bagai kondisi dan data yang perlu disikapi bersama. Dari kegiatan susur tersebut ter­catat 134 titik sebaran sampah, 103 titik perumahan dan atau villa di bantaran Ciliwung, 87 titik anak sungai atau muara sungai, 163 titik mata air, 94 jembatan baik besar maupun kecil, 21 titik delta, 24 tempat pemancingan/kolam ikan, dan 353 titik buangan limbah baik dari industri maupun rumah tangga yang tersebar dari daerah Cibinong, Citayam hingga Stasiun Depok Lama dan Pondok Cina, Depok. “Ti­dak jarang kami menyaksikan warga membuang sampah ke Ciliwung ketika KPC sedang beraksi memulung di sungai. Dari situlah KPC mencari cara untuk mengajak peduli dan ti­dak lagi membuang sampah ke Ciliwung. Akhirnya tercetuslah ide untuk menyelenggarakan lomba mulung,” tambah Ang­git Saranta, anggota KPC Bogor.

KPC Bogor melakukan lomba mulung ini bagi kelura­han yang dilewati oleh Sungai Ciliwung. Ada beberapa krite­ria yang dinilai dalam lomba mulung, yaitu jumlah warga yang mengikuti lomba; jum­lah karung berisi sampah an­organik yang berhasil dikum­pulkan; serta kreativitas dan dukungan dari warga. Dari kirtieria tersebut, kelurahan yang mendapatkan poin ter­tinggi akan menjadi pemenang dan mendapatkan piala ber­gilir dari Walikota Bogor serta sejumlah uang tunai yang dise­diakan panitia. Cara ini cukup berhasil dan memberi inspirasi bagi tindakan penyelamatan air sungai Ciliwung.

Komunitas Peduli Ciliwung dan Pemkot Bogor akhirnya menjadikan agenda tahunan dan merupakan bagian dari gerakan di Hari Jadi Bogor. Ta­hun 2015, Lomba Mulung ini sudah tujuh kali diselenggara­kan. Walikota Bogor Bima Arya mengingatkan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam memperbaiki kondisi Ciliwung, terlebih jika mengingat kualitas air sungai yang semakin mem­buruk. “Kalau Pemerintah Kota saja tidak sanggup, tidak cu­kup, tenaganya terbatas, harus didorong oleh warga. Ini tang­gung jawab kita semua,” tegas Bima.

Sebanyak 13 Kelurahan se-Kota Bogor dan 3000 warga bergerak memulung sampah yang berada di sepanjang 26 km aliran sungai Ciliwung dengantarget mengangkatsampah di 45 titik pemulungan. Sampah-sampah itu, selan­jutnya dipusatkan di 25 titik pengangkutan dan langsung diangkut kendaraan yang telah disiagakan oleh DKP Kota Bo­gor. Tak hanya ribuan warga, lebih dari tiga ratus tenaga sukarela juga ikut membantu pelaksanaan Lomba Mulung Ciliwung dan banyak dari merekayang juga datang dari luar Kota Bogor, seperti Depok dan Jakarta. Sebelumnya, di ta­hun 2014, dalam enam kali pe­nyelenggaraan lomba mulung, ribuan warga Kota Bogor telah berhasil mengangkat sampah sebanyak11.435 karung uku­ran 25-50 kg. “Ini merupakan gerakan masyarakat Kota Bo­gor dalam menjaga kebersihan SungaiCiliwung, khususnya warga yang ada di bantaran sungai Ciliwung,” jelas Uju Juwono, Kepala Bidang Ke­bersihan DKP Kota Bogor. Semangatini akan terus dilaku­kan sebagaiupaya untuk men­jaga kelestarian dan kealamiansungai.

Kesetiaan dan konsistensi gerakan ini, layaknya air yang menetes di batu, terus perla­han, tabah dan konsisten hingga akhirnya mampu melubangi batu. Fakta ini juga telah menyingkap kenyataan, menjernih­kan mimpi dan harapan, bahwa mewujudkan sungaiCiliwung yang bersih bukanlah pekerjaan sia-sia. Andi Sudirman dan KPC Bogor telah berusaha memberi pesan bijak bahwa kelestarian air bertalian erat dengan kehidupan manusia. Kekeringan yang kini tengah melanda juga menjadi te­guran bagi kita, mampukah kita menjadi sahabat air yang baik, agar senantiasa berdampingansepanjang hidup? (*)