bayu

Oleh: BAYU A. YULIANTO
Dosen Sosiolog Universitas Indonesia

Hal tersebut tak lepas dari dua persoalan pokok yang kerap diungkapkan oleh pi­hak-pihak yang mera­sa pesimis dengan trend batu akik beberapa bulan yang lalu.

Yang pertama, adalah para ekonom dan sebagian pelaku usa­ha yang menganggap bahwa trend akik ini tidak lebih dari fenom­ena “monkey business”, dan yang kedua, pengamat sosial budaya yang melihat bahwa penggemar batu akik adalah mereka yang sedang melakukan satu proses eskapisme kolektif di dalam keru­mitan hidupnya. Pertanyaannya, apakah sesederhana itu penjelas­annya ??

Bukan Bisnis Monyet

Terkait dengan fenomena batu akik yang dalam beberapa bulan lalu menjadi tren di kalangan ma­syarakat Indonesia, baik itu yang berkantong tebal maupun yang berkantong tipis, ada beberapa hal menarik yang bisa dijelaskan dari sudut pandang sosiologis.

Terutama dalam menjawab pandangan berbagai pihak yang pesimis terhadap gejala per-akik-kan di Indonesia.

Pandangan yang mengang­gap bahwa akik tak ubahnya sep­erti monkey business, seperti yang pernah terjadi dalam bisnis-bisnis berbasiskan hobi, seperti tanaman anturium maupun ikan louhan.

Atau juga dalam menjawab tudingan berbagai pihak yang melihat akik sebagai satu situasi proses eskatologisasi massal, di­mana seseorang atau sekelompok masyarakat mencari cara untuk melarikan diri dari kenyataan so­sial yang setiap hari menghimpit mereka, singkatnya, lari dari ma­salah hidup.

Atas dua pandangan umum itu, saya hendak menjawab satu persatu dari sudut pandang yang agak berbeda. Pertama, terkait dengan fenomena akik sebagai monkey business.

Menurut saya cara pandang ini lahir dari satu pemahaman, ke­tika bisnis-bisnis yang berbasiskan hobi, seringkali tidak berangkat dari satu situasi pasar yang sem­purna, karena terlalu banyaknya informasi asimetris yang beredar seiring dengan maraknya penjua­lan terhadap barang tersebut.

Baca Juga :  KEDATANGAN TIM SEPAK BOLA ISRAEL MELANGGAR UUD TAHUN 1945

Informasi asimetris yang di­anggap sengaja dihembuskan oleh sekelompok orang yang dianggap menjadi mafia dari bisnis ini send­iri, sehingga mekanisme pencipta­an harga berlangsung dengan cara yang sulit untuk dijelaskan, dan harga yang tercipta juga seringkali tidak masuk akal, jika dibanding­kan dengan kondisi barang serta korbanan yang dilakukan dalam proses menjadikan barang itu sendiri.

Pandangan ini mungkin ada benarnya dalam konteks bisnis batu akik, tetapi perlu untuk dilihat kembali, apakah prinsip-prinsip tersebut benar-benar ter­jadi dalam konteks perakikan. Jawaban saya, sepertinya tidak demikian.

Monkey Business

Bahwa ada para pemain di dalam bisnis batu akik yang seringkali kita sederhanakan den­gan menyebut mereka sebagai mafia, hal itu mungkin saja, tetapi bukan berarti itu bisa membenar­kan bahwa bisnis ini masuk dalam kategori monkey business.

Karena menurut pendapat saya, hampir semua bisnis, tak terkecuali bisnis yang berbasiskan hobi, memiliki pemain-pemain sendiri, termasuk pihak yang bisa kita kategorikan sebagai mafia.

Jangankan bisnis kecil seperti batu akik, bisnis beras ataupun minyak saja, keberadaan mafia tidak mungkin bisa dihindari. Karena secara historis, usia ma­fia mungkin sejalan dengan usia sistem perdagangan itu sendiri.

Mafia bisnis lahir sama persis ketika zaman perdagangan itu la­hir. Dia menjadi sisi paradox dari lahirnya zaman perdagangan. Oleh karenanya, mengalamatkan keberadaan mafia demi menjus­tifikasi bahwa bisnis batu akik adalah monkey business, seper­tinya terlalu menyerderhanakan permasalahan.

Selanjutnya, mensejajarkan demam batu akik di masyarakat dengan demam tanaman gelom­bang cinta dan bisnis ikan louhan juga sepertinya kurang tepat.

Karena menurut saya ada be­berapa perbedaan yang cukup mendasar antara femonena terse­but. Perbedaan-perbedaan itu meliputi akar sejarah dari penggu­naan batu akik oleh masyarakat.

Baca Juga :  KEDATANGAN TIM SEPAK BOLA ISRAEL MELANGGAR UUD TAHUN 1945

Kelompok masyarakat yang terlanda demam tersebut, serta nilai tambah yang tertambat di dalam proses produksi komoditas itu. Perbedaan ini akan saya jelas­kan satu persatu.

Secara historis, penggunaan batu akik berakar dari penggu­naan batu mulia atau batuan lang­ka yang menjadi pelengkap dari perhiasan-perhiasan yang digu­nakan oleh kalangan bangsawan kerajaan di masa lampau.

Batu-batu mulia yang memiliki nilai estetika yang tinggi karena tingkat kelangkaannya, dalam be­berapa jenis nilainya menyamai atau bahkan mengungguli jenis batuan seperti emas ataupun per­ak.

Sebut saja batu mulia seperti ruby, merah delima, atau yang paling tinggi, seperti permata. Batu-batu itu sudah sejak lama menjadi batu mulia yang memiliki harga yang cukup tinggi.

Penggemarnya relatif mereka yang memiliki posisi sosial dan ekonomi yang tinggi di masyara­kat. Pada masa lampau, hanya mereka yang merupakan anggota kerajaan ataupun bangsawan saja yang dapat memiliki perhiasan bertahtakan batu-batu mulia sep­erti ini.

Pada masa sekarang, jelas han­ya mereka yang terkategorikan se­bagai orang kaya yang bisa meng­koleksi batu-batu mulia sejenis ini.

Penjelasan singkat itu menu­rut saya cukup menggambarkan bagaimana secara historis, peng­gunaan batu akik memiliki akar sejarah yang cukup panjang.

Demam akik juga tidak men­genal suku bangsa, hampir di se­luruh wilayah Indonesia bermun­culan jenis-jenis akik baru yang memiliki nuansa lokalitas dan dalam prosesnya mampu menem­bus pasar di tingkat nasional, se­but saja Pancawarna Garut, Sisik Naga Enrekang, Sungai Dareh Sumbar, Giok Aceh, Kalimaya Banten, dan lain sebagainya.

Bisa dikatakan, saat ini tidak ada satupun dominasi jenis akik di pasaran. Setiap hari, ada saja jenis akik lokal yang muncul di pasar akik. (*)