Oleh: FIRMAN SYAH
Dosen Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI (IISMI) Jakarta

Harus ada koordinasi yang baik dalam menangani asap yang dirasa sudah membuat risau warga sekitar. Langkah terpent­ing untuk wilayah yang dikepung asap adalah dengan meminimal­isasi sumbu api.

Umumnya teknik yang digu­nakan adalah dengan melakukan pendinginan. Yakni menghilan­gkan unsur panas dengan bahan yang digunakan adalah media dasar air.

Persoalan yang dihadapi adalah wilayah hutan yang ter­buka dengan banyaknya sumber lain seperti O2. Artinya, air bu­kan menjadi solusi tepat dalam menangani kebakaran.

Sebagai pemimpin, semesti­nya gesit dalam mengambil tinda­kan, termasuk di dalamnya men­cari alternatif lain.

Misalnya isolasi dengan me­nutup permukaan benda yang terbakar untuk menghalangi un­sur O2 dalam menyalakan api. Langkah ini bisa menggunakan media serbuk atau busa.

Atau dengan teknik dilusi yakni meniupkan gas inert untuk meng­halangi unsur O2 menyalakan api.

Sebagaimana teori yang dipa­parkan, O2 yang menjadi unsur penyumbang api harus benar-benar diminimalkan. Oleh karena itu, menggunakan media gas CO2 sangat membantu dalam memad­amkan sumbu api.

Baca Juga :  SEKOLAH NEGERI ATAU SWASTA ASAL MEMBAWA KEBERKAHAN

Ketika asap sudah dapat ter­tangani, maka perlu dirumuskan konsep-konsep pencegahan supaya kejadian tersebut tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Pemutusan mata rantai atas reaksi api harus dapat diaplikasi­kan hingga dasar persoalan. Ada beberapa tahapan yang dapat di­lakukan.

Pertama, pengamatan ling­kungan. Teknik investigasi di­lakukan supaya mengetahui dasar-dasar kenapa setiap tahun di musim kemarau senantiasa ter­jadi kebakaran hutan. Ketika su­dah ditemukan beberapa alasan atas sebab akibat dari kebakaran, maka masuk ke tahap berikutnya.

Kedua perumusan strategi. Di sini dapat dilakukan dengan mem­bentuk strategi yang merupakan hasil kombinasi atas beberapa proses utama yaitu analisis situasi supaya dapat dikendalikan.

Kemudian dilanjutkan den­gan perumusan tujuan yang bersifat jangka pendek seperti tahunan supaya tidak lagi terjadi pembakaran juga jangka panjang dalam rangka penegakan hukum.

Ketiga implementasi strate­gi. Refleksi atas kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan atas dasar kesadaran bersama ma­syarakat dalam menanggulangi asap dapat dilihat dari kondisi in­ternal dan kemampuan yang ada.

Baik itu, kebijakan untuk in­vestor asing dalam perkebunan maupun menilai lingkungan eksternal dimana faktor sosial masyarakat lokal harus tetap di­untungkan sehingga tidak lagi merasa menderita karena asap yang terus terulang.

Baca Juga :  HIKMAH KASUS HOLYWINGS

Berbagai opsi pemecahan ma­salah harus terpapar secara jelas dengan berbagai kemungkinan kelebihan atau keuntungan yang dapat dijalankan serta kekuran­gan atau kerugian yang harus dihilangkan dengan alternatif pemecahan yang lain.

Diharapkan dengan memilih sekumpulan teknik itu, tujuan jangka panjang dan strategi total pemerintah dalam menanggulan­gi kebakaran dapat tercapai.

Dan terakhir adalah evaluasi strategi. Di sini pemerintah perlu melihat kembali konsep-konsep yang sudah dilaksanakan dengan mengetahui dimana letak strategi penanganan asap atau sumbu api atas kebakaran yang masih melenceng dari tujuan awal.

Dengan mendeteksi gejala yang ada tersebut, pemerintah bersama masyarakat benar-benar pro aktif dalam menyeleng­garakan kesejahteraan dan ke­daulatan bangsa.

Melalui konsep dan pemiki­ran yang disosialisasikan secara meluas, maka segala kebijakan yang ada akan senantiasa dievalu­asi dan diberikan masukan yang dapat memperkuat status hu­kum, termasuk etika bisnis perke­bunan yang ada di Indonesia. (*)

Sumber: detik.com