Untitled-15MADRID, Today – Laga El Clasico yang melibatkan Real Ma­drid dan Barcelona di La Liga Spanyol selalu dinanti pengge­mar sepakbola setiap musimnya. Pertandingan ini memang sukses menghadirkan hamparan kualitas, tensi tinggi, serta pancaran emosi yang kental. Namun tidak dengan hasil akh­irnya.

Namun, El Clasico edisi pertama musim ini, Minggu (22/11/2015) dini hari kemarin terksesan antiklimaks. Barca yang bertindak sebagai tim tamu secara luar biasa sang­gup meluluhlantahkan Madrid di Santiago Bernabeu le­wat skor mencolok 4-0. Sepasang gol Luis Suarez dan masing-masing satu dari Neymar serta Andres Iniesta, jadi penyebab terkaparnya El Real di markas sendiri.

Hasil tersebut membuat Barca kini bak berlari sendirian di puncak klasemen sementara La Liga Spa­nyol, dengan keunggulan enam poin dari Madrid yang duduk sebagai runner-up. Kemenangan itu juga jadi penegas keunggulan telak Los Cules atas Los Blancos di El Clasico sepanjang sejarah pertemuan. Tim Cata­lan menambah koleksinya menjadi 109 kemenangan, unggul 13 kemenangan atas Tim Ibu Kota, dari total 263 pertemuan.

“Kami telah mengubah sejarah klub dalam be­berapa laga Clasico terakhir dan saya sangat senang mengalaminya. Semoga rangkaian ini ber­lanjut. Malam ini sungguh bersejarah. Kami pergi dengan moral yang sangat tinggi. Kami menang di stadion yang sangat sulit, mela­wan tim yang kami yakin berjuang untuk gelar La Liga,” ujar gelandang Barca, Sergio Busquets, dengan penuh kepuasan.

Namun, euforia kemenangan Barca ini seakan membuat kita melupakan satu sosok yang jadi perdebatan hebat sepanjang dan mungkin selama pertandingan, yakni Lionel Messi. Mega bintang Azulgrana itu memang melakukan comeback dalam laga ini pasca cedera, tapi harus diakui bahwa tim asuhan Luis Enrique menguasai El Clasico tanpa sentuhan keajaiban sang Messiah.

Bahasan publik sepakbola yang may­oritas diwakili oleh media terus mengungkit soal kemungkinan comeback Messi, jelang digelarnya El Clasico. Wajar memang, kare­na Si No, 10 tak bisa dibantah merupakan pemain yang paling berpengaruh secara permainan di Barca, plus rivalitas abadinya yang amat menjual dengan bintang utama Madrid, Cristiano Ronaldo.

Namun ketika kita melihat apa yang ter­papar sepanjang El Clasico dini hari tadi, rasa-rasanya pembahasan soal Messi sudah masuk dalam area hiperbola. Untuk kesekian kalinya dan dalam partai yang mungkin pal­ing besar, Barca menunjukkan bahwa mer­eka tetap fantastis tanpa bantuan La Pulga.

Turun dengan formasi andalan 4-3-3, sep­erti biasa, tempat Messi yang secara struktur berada di winger kanan digantikan Sergi Ro­berto, untuk melengkapi keberadaan Ney­mar dan Suarez. Permainan sejatinya sudah bisa ditebak dengan berpusat di sektor kiri penyerangan, yang jadi kuasa Neymar. Se­mentara Sergi di sisi kanan bermain lebih ke dalam, berlawanan dengan Messi yang gemar bermain melebar.

Keraguan hadir tatkala Madrid diprediksi bisa dengan mudah membaca taktik terse­but. Namun Barca tetaplah Barca, dalam praktiknya antisipasi kreativitas mereka tetap sulit dibendung oleh tim manapun di dunia.

Neymar yang menghadapi langsung rekannya di timnas Brasil, Danilo, seakan su­dah fasih dengan kawalan sang rekan sehing­ga begitu bebas menari dengan bola nyaris di sepanjang pertandingan. Sergi, dengan kejeniusannya mencari tempat, berulang kali melepaskan umpan kunci yang mem­buat bek Madrid kalang kabut.

Sementara sang monster kotak penalti, Suarez, begitu dingin memaksimalkan celah yang hadir seiring terpecahnya konsentrasi para bek Galaticos. Ups, jangan lupakan pula peran krusial Iniesta yang jadi insip­irasi sirkulasi bola Barca di sepanjang laga. Perpaduan fleksibilitasnya dengan Sergi juga menghadirkan kebingungan luar biasa di sisi kiri pertahanan Madrid.

Pertunjukan indah yang dihadirkan Bar­ca tersebut, membuat mereka mengakhiri El Clasico lebih dini dan dengan cara yang lebih sederhana. Keunggulan 3-0 diraih bah­kan sebelum pertandingan memasuki tempo satu jam, hingga akhirnya disempurnakan menjadi 4-0.

Sementara Messi, baru masuk pada me­nit ke-57. Ia masuk ketika Barca sudah men­gunci kemenangan dengan keunggulan 3-0. Selama 33 menit aksinya, pemain berusia 28 tahun itu melepaskan 34 passing, dua um­pan lambung, dan satu umpan kunci.

Tak ada satu pun tembakan yang ia lep­askan atau dengan paparan tersebut, secara sederhana kita bisa bilang bahwa Messi tak memberikan kontribusi berarti bagi ke­menangan Barca di El Clasico kali ini. En­rique sepertinya menurunkan Messi hanya untuk memberi kesegaran pasca absen pan­jang dan mungkin kebutuhan sponsor akan launching sepatu baru sang pemain.

Tapi apapun itu, untuk kesekian kalinya kita bisa simpulkan bahwa Barca memenan­gi El Clascio tanpa butuh sentuhan ajaib Messi. Lebih jauh, Blaugrana membutkitkan bahwa mereka sama sekali tak bergantung pada kapten timnas Argetina itu, untuk bisa menghadirkan kemenangan plus performa konsisten.

Statistik musim ini membuktikan kesim­pulan tersebut. Dari sembilan laga yang dila­koni Barca tanpa kehadiran Messi musim ini, mereka punya rasio kemenangan lebih besar mencapai 77,78 persen, berbanding 63,63 persen ketika Messi hadir. Yang paling men­colok adalah perolehan gol yang Blaugrana torehkan. Neymar cs mencatatkan 2,33 gol per partainya dengan hanya kebobolan 0,6 gol per partai. Sementara bersama Messi, Barca mencatat rerata 2 gol per partai den­gan raiso kebobolan mencapai 1,5 gol per partainya.

“Tanpa Messi kami kehilangan instru­men penting dalam gaya bermain khas Barca selama ini. Namun kami masih punya so­sok hebat lainnya yang mampu hadirkan ke­ajaiban dan jadi penentu. Kami tak akan me­nyerah hanya karena situasi tersebut,” tegas sangentrenador, Enrique, saat Messi diterpa cedera delapan pekan lalu.

Messi memang pembeda yang bisa mem­berikan dampak pasti terhadap tim yang dibelanya, ia pesepakbola yang luar biasa, bahkan mungkin yang terbaik yang pernah ada. Namun ketika kita berbicara sepakbola sebagai olahraga kelompok, maka Barca su­dah menunjukkan bahwa mereka tak butuh kehadiran King Leo untuk hadirkan pesta ke­menangan.

(Rishad/Net)