Untitled-1Bank Tabungan Negara (BTN) optimistis pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tahun depan akan tembus 21 persen. Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, pada tahun ini pertumbuhan KPR mencapai 18-19 persen. Jika kondisi ekonomi tahun depan stabil, dia yakin pertumbuhan industri properti akan didominasi oleh segmen menengah ke bawah.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Menengah ke bawah itu 60 sam­pai 70 persen, harganya Rp110 juta ke bawah,” kata Maryono usai acara Seminar Outlook Ekonomi, Perbankan, dan Prop­erti dalam rangka Ulang Tahun BTN ke-39, di Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Dia berharap perekonomian tahun depan dapat lebih baik. Sebab, jika ekonomi menurun maka akan berdampak terhadap pendapatan ma­syarakat menegah bawah, akan turun juga.

“Itu tantangannya dan semoga tahun depan kondisi ekonomi lebih baik, apalagi sebagian be­sar masyarakat menengah bawah itu pekerjaan­nya informal, semakin sulit akses ke perbankan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu kendala yang me­nahan laju pertumbuhan KPR adalah akses ke perbankan bagi sebagian kalangan menengah ke bawah khususnya yang masih sulit.

Target 70.000 Unit

Realisasi penyaluran KPR hingga akhir tahun ini tercatat sebanyak 260 ribu unit. Jumlah terse­but diklaim melebihi target yang ditetapkan yakni hanya sebesar 70 ribu unit.

Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Maurin Sitorus, mengatakan target yang ditetapkan APBN sudah terpenuhi sejak Juni 2015.

“Prediksi BTN sendiri sekitar 261 ribu. Selebi­hnya itu di luar 70 ribu menggunakan dana inter­nal, ditalangin dulu tapi diganti dengan dana APBN 2016,” jelas Maurin, di Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut dia mengatakan, tetap ada syarat yang harus dilewati salah satunya adalah audit BPKP. “Alokasi dana FLPP bisa dibayar menggu­nakan alokasi 2016 sebab yang tahun ini sudah habis, tapi ketentuannya harus audit dulu, tapi nanti yang dikeluarkan BTN akan diperhitungkan lagi,” tambahnya.

Realisasi KPR yang tercatat lebih itu merupak­an dampak dari meningkatnya daya beli masyara­kat terhadap rumah bersubsidi. “Karena bantuan pemerintah telah dikeluarkan seperti uang muka 1 persen dan suku bunga 5 persen sampai 20 ta­hun,” katanya.

Prospek KPR 2016

Bunga KPR menjadi perhitungan utama para konsumen. Apalagi membeli rumah dengan fasili­tas KPR perlu diperencanaan yang matang. Lalu bagaimana prospek bunya KPR di 2016?

Menurut Direktur Consumer Banking Bank Mandiri, dari sisi makroekonomi, perseroan me­lihat beberapa parameter. Pertama uang beredar yang makin meningkat, kucuran proyek APBN dan dana pemerintah yang makin meningkat, dan tahun depan ada sinyal penurunan suku bunga.

”Kalau BI Rate turun bagus untuk industri terutama untuk konsumer, karena untuk bank sendiri, kalau BI Rate-nya turun, tentunya cost of fund turun, bunga deposito turun dan bunga yang lainnya juga turun. Sehingga, landing rate-nya jadi lebih bersaing,” katanya.

Menurutnya, Bank Mandiri akan mengembangkan bisnis di pasar KPR untuk pembelian rumah berkas atau KPR secondary. Hal itu sesuai dengan kondisi ekonomi yang tengah mengalami slowdown.