TERBENTUKNYA karakter dan budi pekerti siswa di sekolah dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan dan budaya sekolah yang kondusif, dengan dukungan semua warga dan stakeholders pendidikan dari mulai penjaga sekolah, tenaga kependidikan, guru sampai dengan level kepala sekolah, bukan semata-mata menjadi tanggungjawab guru PKn dan PAI saja.

Oleh: Ahmad Anshori, M.Pd
Guru MAN 1 Kota Bogor & Guru MTs. Yamanka Kec. Rancabungur Kab. Bogor

Diperlukan kesatu­paduan pandangan, persepsi dan komit­men semua pihak terkait dengan bi­dang pendidikan yang didukung oleh tekad yang kuat, kebijakan yang konsisten, pelaksanaan yang konsekuen didukung oleh sarana prasarana yang memadai. Hal yang sangat esensial untuk tercapainya tujuan dan cita-cita di atas adalah keteladanan pe­mimpin, guru, orang tua dan pembiasaan peserta didik ber­budi pekerti luhur sejak usia dini.

Budi pekerti berkaitan erat dengan sikap dan perilaku dalam hubungan seseorang dengan Tu­han Yang Maha Esa, diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan alam sekitar. Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa budi pe­kerti berkaitan erat dengan adab yang menunjukkan sifat batin manusia, misalnya keinsyafan tentang kesucian, kemerdekaan, keadilan, ketuhanan, cinta kasih dan kesosialan. Nilai-nilai budi pekerti antara lain meliputi: adil, amanah, antisipasif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berpikir jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bijaksana, cerdas, cermat, cinta ilmu, dedikasi, demokratis, dina­mis, disiplin, efesien, efektif, em­pati, gigih, giat, hemat, hormat, hati-hati, harmonis, iman, ikhlas, istighfar, inisiatif, inovatif, jujur, kasih sayang, keras kemauan, ksatria, komitmen, konstruktif, konsisten, kooperatif, kreatif, lapang dada, lemah lembut, lu­gas, mandiri, manusiawi, ma­was diri, menghargai, menjaga, nalar(logis), optimis, patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, percaya diri, produktif, proaktif rajin, ramah, rasa indah, rasa malu, rasional, rela berkorban, rendah hati, sabar, saleh, setia, sopan santun, sportif, susila, syukur, takwa, taat, teguh, tangguh, tanggung­jawab, tawakal, tegar, tegas, tekun, tenggang rasa, terbuka, tertib, terampil, tekun, tobat, ulet, unggul, wawasan luas, wi­rausaha, yakin.

BACA JUGA :  KECURANGAN PPDB TERUS BERULANG, BAGAIMANA SOLUSINYA

Nilai-nilai budi pekerti di atas mudah untuk diucapkan tapi su­lit diamalkan. Seorang pendidik untuk menjelaskan nilai-nilai tersebut di atas tidak memerlu­kan waktu yang relatif lama, satu atau dua kali tatap muka dengan peserta didik dapat dengan mu­dah menjelaskannya.

Tapi apabila nilai-nilai budi pekerti tersebut di atas ingin nampak dalam kepribadian sehari-hari memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mereal­isasikannya memerlukan mana­jemen dalam arti memanfaat­kan dan memberdayakan segala sumber daya manusia dan benda secara efektif, efesien, kontinyu dan konsisten.

Implementasi manajemen sekolah terhadap character build­ing hendaknya dilaksanakan den­gan pendekatan integral sistemik dengan menjalankan lima “E” yai­tu: Pertama, Example (memberi contoh); Setiap pihak di lingkun­gan sekolah harus menerapkan semua nilai dasar yang dibangun untuk dapat menjadi contoh bagi siswa/peserta didik. Kedua, Ex­planation (menjelaskan); secara terus menerus menjelaskan dasar tindakan untuk dapat mendorong siswa/peserta didik memahami dan menerima prinsip-prinsip moral yang ditetapkan. Pemaha­man terhadap nilai dasar suatu tindakan dapat mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang sudah ditanamkan pada se­tiap kondisi baru.

BACA JUGA :  KECURANGAN PPDB TERUS BERULANG, BAGAIMANA SOLUSINYA

Ketiga, Exhortation (meng­ingatkan); secara terus menerus mengingatkan siswa/peserta di­dik untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang ditetapkan agar dapat memperbaiki perilaku mereka. Keempat, Environment (lingkun­gan); Iklim sekolah, cara melak­sanakan aktifitas dan hubungan antar individu di sekolah harus dapat mendukung pelaksanaan nilai moral dalam kelas.

Dan kelima, Experience (pen­galaman); Sekolah sebagai ling­kungan yang terstruktur harus dapat digunakan siswa/peserta didik mempelajari apa yang har­us dan tidak boleh dilakukan. Se­baiknya diciptakan kondisi yang dapat mendukung siswa/peserta didik untuk mempraktekkan per­hatian pada orang lain, meneri­ma tanggungjawab dan kesempa­tan dalam membuat keputusan.

Dengan penerapan pendi­dikan budi pekerti di sekolah secara simultan, konsisten dan tertintegrasi, maka pencapaian generasi emas Indonesia di tahun mendatang akan mudah terwu­jud. Semoga.

======================================
======================================
======================================