Tujuan Pendidikan (KemdikÂnas): “Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 :
Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan poÂtensi peserta didik agar menÂjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.â€
Bagaimanakah hubungan Keluarga dengan Lembaga Pendidikan/Sekolah saat ini?
Seperti yang kita lihat sekaÂrang ini, tugas mendidik anak, hampir sepenuhnya diambil alih oleh pemerintah. Hak menÂdidik anak sekarang ada di tanÂgan pemerintah. Pemerintah menentukan kebijakan-kebiÂjakan dalam dunia pendidikan. Pemerintah menentukan apa yang akan diajarkan kepada siswa dan menentukan siapa yang mendidik mereka.
Peran pemerintah yang begitu besar mengundang beÂberapa pertanyaan. Apakah ada garansi bahwa guru mendidik murid seperti orang tua menÂdidik anaknya? Apakah ada gaÂransi bahwa materi pendidikan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua? Sejauh mana seÂharusnya pemerintah menentuÂkan kebijakan pendidikan?
Masyarakat tidak begitu perÂduli dengan hal-hal tersebut. Kalaupun ada yang peduli, isu-isu yang mereka ajukan akan terabaikan.
Selain itu, banyak orang tua yang kurang memperhatiÂkan dan mengarahkan anaknya karena mereka sibuk dengan keÂpentingannya sendiri. Mereka sibuk mencari materi dan karir yang bagus sehingga mereka menitipkan anak-anak mereka di sekolah bahkan di sekolah yang super mahal dengan banÂyak fasilitas modern. Harapan mereka agar sekolah mendidik sekaligus mengasuh anak-anak mereka sehari penuh untuk menuju masa depan yang cerah dengan kemampuan akademis yang tinggi.
Dituntut sebuah kesadaran, peran orang tua dan masyaraÂkat untuk memperjuangkan pendidikan yang baik. Masih diperlukan banyak pemikiran bagaimana pendidikan yang menghasilkan anak didik yang cerdas, berkarakter dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Pendidikan keluarga sangat penting namun seringkali diangÂgap tidak penting/remeh. Etika yang benar harus diajarkan keÂpada anak sejak kecil agar ketika seorang anak menjadi dewasa ia akan berperilaku baik. Tentu saja perilaku orang tua juga harus baik dan benar sebagai contoh/teladan bagi anaknya. Jika sejak kecil seorang anak diÂajarkan dengan baik dan benar maka keluarga tersebut akan harmonis. Dan jika seandainya setiap keluarga mengajarkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berÂdampingan dan damai. KeluarÂga merupakan wahana pertama dan utama dalam pendidikan karakter anak.
Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (sekolah) untuk memperbaikinya. Kegagalan keÂluarga dalam membentuk karaÂkter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus meÂmilki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak diÂrumah.
Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-niÂlai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapÂkan orang tua pada anaknya. Polaasuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dan orang tua yang meÂliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dll) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayÂang, dll), serta sosialisasi norÂma-norma yang berlaku dimaÂsyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Dengan kata lain, polaasuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak
Demikian beberapa hal yang mestinya dijadikan perhaÂtian oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Diakui bahwa hal tersebut di atas dapat ditambahkan dengan hal lain yang positif agar menjadi perbendaharaan pengetahuan dalam mendidik, namun yang terutama dari semua itu adalah orang tua harus “ menciptakan dan membangun komunikasi yang efektif†dengan anak.
Karena hal ini akan secara langsung menjaga dan memeÂlihara kedekatan secara emoÂsional dengan anaknya sehingÂga dapat mencegah perilaku menyimpang si anak. Dalam komunikasi juga perlu ditaÂnamkan sikap optimisme pada anak, mengembangkan sikap keterbukaan pada anak dan perlu mengajarkan tata krama pada anak.
Yang harus dipahami orang tua adalah hubungan kausal anÂtara bagaimana orang tua menÂdidik anak dengan apa yang diperbuat anak atau ibaratnya apa yang orang tua tabur, itulah yang nanti akan dituai. Peran orang tua dalam mendidik anak tidak dapat tergantikan secara total oleh lembaga-lembaga persekolahan atau institusi forÂmal lainnya. Karena bagaimanaÂpun juga tanggung jawab menÂdidik anak adalah lebih b
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















