IKAN IMPOR DAN IKLIM

Pertama, pemerintah harus lebih optimal untuk menyela­matkan ikan air tawar. Teruta­ma keragaman ikan yang hidup pada kawasan sungai, danau dan rawa. Ikan pada ekosistem ini terancam dari kepunahan karena derasnya pembangunan. Pemerintah sebaiknya sudah melakukan koleksi induk untuk setiap jenis dari ikan yang ada pada ekosistem itu. Kemudian membudiayakannya secara ma­sal jika perbanyakan ikan tadi su­dah berhasil dilakukan. Lakukan perbanyakan dilaboratorium kemudian kembangkan pada kolom-kolom nelayan.

Dengan cara itu kita masih tetap bisa mengkonsumsi ikan air tawar (ikan sungai, danau dan rawa). Kedua, konservasi daerah pesisir harus benar digalakkan. Terutama penanaman Mangrove pada pusat-pusat ikan Nusantra. Konservasi ini bertujuan untuk meminimlakan terjadinya banjir rob yang akhirnya menggagal­kan produksi ikan, udang dan kepiting. Hutan Mangrove/bakau secara fisik akan menahan air lautan untuk masuk ke daratan.

Sekaligus sebagai sarang-sarangnya ikan dan sarangnya berbagai jenis makanan ikan. Sik­lus ekosistem akan berlangsung saat mangrove tadi ada pada ko­lom ikan. Ketiga, penyelamatan terintegratif. Maksudnya, sektor perikanan tidak berhasil kalau sektor pertanian tidak ramah ling­kungan. Kedepannya dinas perta­nian dan perikanan sudah men­emukan titik temu agar pestisida dan pupuk buatan pabrik bisa diminimalkan karena termasuk sumber racun bagi ikan pada eko­sistem danau, rawa dan lautan.

BACA JUGA :  Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

Keempat, menata ruang perkotaan dan perdesaan secara benar. Selama ini masih kurang benar sehingga erosi masih tinggi diperkotaan dan perdesaan. Buk­tinya perkotaan dan perdesaan selalu banjir saat musim hujan. Perbanyak ruang terbuka hijau pada perkotaan dan selamatkan ruang hijau perdesaan. Dengan begitu tanah tidak akan padat tetapi akan gembur sehingga mempermudah air untuk masuk ke dalam tanah. Dengan demiki­an banjir dapat dikurangi untuk masuk ke lautan sehingga kolam ikan nelayan terselamatkan.

Perbanyak juga tindakan konservasi tanah terutama pada daerah padat penduduk. Usa­hakan lahan yang masih sedikit saja dipupuk dengan pupuk or­ganik secara cuma-cuma. Pupuk organik seperti pupuk kandang dapat mengundang biota tanah. Biota tanah seperti pengurai tadi yang akan membuat tanah ter­buka kembali lubang bioporinya. Dengan cara itu air hujan akan mudah masuk dan tersimpan. Se­lama ini rumah perkotaan diban­gun dimana-mana selagi masih ada lahan kosong. Sayangnya, perbaikan untuk tanah tidak ber­sama dengan pembangunan tadi.

BACA JUGA :  Bogor Kota, Sudahkah Tertata?

Sama halnya dengan pem­bangunan gedung-gedung besar namun minim vegetasi pada loka­si itu. Jangan jadikan alasan lahan tidak ada, padahal ada solusi lain seperti menanam tumbuhan di­mana saja termasuk menempel­kannya pada beton-beton jalan tol dan gedung tinggi tadi. Setiap tetes air hujan yang mengenai tumbuhan tadi pasti diserap oleh tumbuhan. Secara langsung iklim secara global juga dapat diatasi. Angin tadi akan dihambat dengan keberadaan ruang terbuka hijau, hujan dan banjir terkendalikan dan berpola kembali. Suhu juga tidak panas terutama daerah pe­sisir lautan. Semua karena ruang terbuka hijau sudah disediakan didaratan. (*)

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================