index-bgJAKARTA, TODAY — Pencegahan gangguan jiwa dan masalah kejiwaan seharusnya dilakukan dari unit organisasi terkecil, yakni keluarga. Kementerian Kesehatan mengatakan agar jiwa sehat dan terhindari dari gangguan, keluarga juga harus sehat.

dr Fidiansjah, SpKJ, MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, mengatakan kesehatan jiwa tidak hanya memengaruhi aspek sosial dan perilaku seseorang. Kesehatan jiwa juga memegang peranan penting dalam aspek ekonomi, pendidikan hingga kejahteraan.

“Keluarga sebagai unit masyarakat terkecil harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan jiwa. Jiwa yang sehat berawal dari keluarga yang sehat. Kalau keluarganya tidak sehat, tidak harmonis, tidak akur, bagaimana anggota keluarganya memiliki jiwa yang sehat?” tutur dr Fidiansjah, dalam temu media di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/10/2016).

Baca Juga :  5 Kebiasaan Sehat Bantu Redakan Sembelit yang Perlu Diketahui

Hal senada juga diungkapkan oleh dr Eka Viora, SpKJ, Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa. Dikatakan dr Eka, gangguan jiwa memiliki beragam jenis dan skala. Ada gangguan jiwa yang ringan seperti cemas berlebih hingga gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.

Peran keluarga menjadi penting karena pada keluargalah seseorang biasanya menceritakan masalahnya. Jika keluarga bersikap suportif dan mendukung, masalah kejiwaan yang dialami seseorang bisa tidak bertambah berat, atau malah hilang sama sekali. Namun efek sebaliknya muncul ketika keluarga terkesan meremehkan atau tidak peduli.
“Jangan sampai ketika ada keluarga yang curhat ke kita, kita bilang ‘ah begitu aja nggak bisa’ atau ‘gitu doang mah biasa aja’ itu malah akan berakibat buruk bagi dia. Dia akan semakin merasa tertekan dan nantinya bisa semakin parah, entah depresi atau bunuh diri,” tutur dr Eka.

Baca Juga :  5 Penyebab Pembekuan Darah yang Harus Diwaspadai

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2016 mendatang pun dianggap sebagai momen tepat untuk mengampanyekan soal gangguan jiwa. Dikatakan dr Fidiansjah, orang dengan gangguan jiwa juga memiliki martabat dan kesempatan yang sama dengan orang lain.

“Orang dengan ganggguan jiwa bukan berarti dia bodoh atau tidak berdaya. Dia hanya kena penyakit, sama saja ketika kita kena penyakit pilek atau batuk. Dengan pengobatan dan pertolongan, dia tetap bisa berfungsi di masyarakat,” tandasnya. (net)