bayi-muntahAlfian Mujani

[email protected]

Bayi Anda sering gumoh? Jangan khawatir, karena gumoh tidak berbahaya. Dan ada banyak cara untuk mencegahnya. Seperti apa?

Regurgitasi atau gumoh merupakan kondisi di mana isi lambung kembali ke mulut. Ini merupakan gejala fisiologis yang umum dialami bayi. Sebelum anak berusia satu tahun, hal ini bisa terjadi hingga beberapa kali terutama setelah makan atau menyusui.

Apa yang menyebabkan bayi sering gumoh dijelaskan oleh spesialis anak Kirsten Thompson dari University of Western Australia karena empat faktor. Pertama, karena bayi sering di posisi tidur sehingga pengaruh gravitasi yang menahan makanan minimal. Kedua, umumnya makanan berupa cairan. Ketiga, otot kerongkongan belum berkembang. Keempat, kerongkongan relatif pendek.

“Gumoh ini bukan berarti sesuatu hal yang buruk. Bila bayi menelan banyak susu dan udara ketika menyusui, gumoh adalah cara tubuh membantu mengurangi tekanan meringankan rasa tidak nyaman perut yang kekenyangan,” tulis Kirsten untuk The Conversation, dikutip pada Rabu (5/10/2016).

Orang tua tak perlu khawatir terhadap gumoh karena biasanya tidak menimbulkan masalah dan akan hilang sendiri. Namun apabila memang gumoh membuat bayi kekurangan nutrisi karena makanan sering dimuntahkan, maka ada beberapa hal yang disarankan Kirsten.

“Produk senyawa alginat untuk bayi bekerja dengan membuat makanan lebih kental serta membentuk lapisan di bagian bawah esofagus dan perut. Ini dapat meringankan gejala. Hanya saja biasanya produk ini mengandung jumlah garam yang tinggi sehingga hanya gunakan setelah berkonsultasi dengan dokter,” kata Kirsten.

Makanan yang lebih padat akan membuatnya sulit untuk dimuntahkan kembali. Hanya saja ini berarti bayi akan lebih sulit juga untuk menelannya.

Cara kedua mengurangi gumoh yang lebih alami adalah dengan menjaga agar tak membuat bayi terlalu kenyang. Kurangi sedikit porsi makanan bayi sambil tetap perhatikan agar nutrisinya terpenuhi.

“Pastikan berat badan bayi Anda sering dipantau dan tenaga kesehatan profesional menilai diagnosis apa yang paling mungkin untuk kebiasaan gumohnya,” pungkas Kirsten.