[email protected]

 

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) bisa dialami seseorang pasca mengalami bencana psikososial katastropik yang bisa menimbulkan tekanan berat. Namun patut diingat, tidak semua orang yang mengalami bencana psikososial kan mengalami PTSD. Sebab, diungkapkan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri Dr dr Nurmiati Amir SpKJ(K) ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami PTSD pasca terjadi bencana katastropik. Apa saja?

“Ada trauma di masa kanak-kanak. Misal dulu mendapat kekerasan seksual atau kekerasan verbal, juga fisik. Nantinya kalau dia mengalami bencana psikosisoal katastropik, gampang jadi PTSD,” kata wanita yang akrab disapa dr Eti ini dalam Temu Media ‘Cegah Gangguan Jiwa Akibat Bencana Psikososial’ di Cimandiri One, Cikini, Jakarta Pusat, kemarin.

Ciri kepribadian, lanjut dr Eti juga berpengaruh. Mereka dengan kepribadian cenderung kurang tangguh amat rentan mengalami PTSD pasca melalui bencana katastropik. Lalu, ketika kurang dukungan dari orang sekitar atau masyarakat juga jadi faktor risiko PTSD. Kemudian, kerentanan genetik, mengalami stres kehidupan saat terjadinya bencana, penyalahgunaan alkohol, dan beratnya trauma misalkan ada luka fisik akibat bencana yang dialami, bisa memperbesar risiko seseorang mengalami PTSD. Lantas, bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi PTSD? ” Bantuan psikologi harus segera dilakuka. Termasuk psychological first aid atau pertolongan pertama psikologi. Kemduian akses pendampingan yang mudah pada korban juga perlu,” kata dr Eti. Pada orang berfaktor risiko tinggi, bisa dilakukan pendampingan berkesinambungan oleh para ahli. Namun, dr Eti meningkatkan tidak semua korban bencana katastropik pasti akan mengalami PTSD.

Baca Juga :  Dokter Rayendra Bagikan Tips Menjaga Kesehatan Kulit Selama Ramadan

 

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang dialami seseorang akibat terjadi bencana katastropik bisa disembuhkan. Ketika pasien sudah pulih, apa tandanya? Menurut Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri Dr dr Nurmiati Amir SpKJ(K) atau dr Eti, memang ada instrumen untuk mengukur derajat PTSD yang dialami seseorang. Namun, bisa dikenali beberapa tanda saat seseorang mulai pulih dari PTSD yang dialami. “Si orang ini sudah bisa menerima kejadian tersebut sebagai kenangan. Kejadian itu memang tidak bisa dihapus sehingga dia bisa menceritakan runtutan peristiwanya, tapi dia sudah bisa menerima,” kata dr Eti dalam temu media ‘Cegah Gangguan Jiwa Akibat Bencana Psikososial’ di Cimandiri One, Cikini, Jakarta Pusat, kemarin. ‘Penerimaan’ yang dilakukan pasien termasuk juga ia tak lagi menyalahkan dirinya sendiri atas bencana yang terjadi. Kemudian, tidak lagi timbul sensasi seperti saat seseorang mengalami bencana katastropik. Misalnya, jantung berdebar-debar serta napas pendek ketika melihat atau mendengar sesuatu yang terkait bencana tersebut. Pada orang dengan PTSD, ia bisa ketakutan saat berhadapan dengan sesuatu yang mengingatkannya pada bencana yang dialami. Namun, ketika mereka sudah pulih dari PTSD, ketakutan itu pun tak ada lagi sehingga perasaan normal saja yang muncul. “Bayangan tentang peristiwa yang dialami ada tapi tidak terjadi intrusi di mana sebentar-sebentar gambaran soal kejadian tersebut muncul,” lanjut dr Eti. Saat pulih dari PTSD, seseorang juga sudah bisa menjalankan fungsinya di masyarakat, sudah bisa beraktivitas seperti semula dan bisa memiliki energi positif seperti merasa bahagia, senang, dan puas.(*)

Halaman:
« 1 2 » Semua