asdfAlfian Mujani

[email protected]

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi berisiko menyebabkan kematian akibat stroke atau serangan jantung jika tak ditangani. Hingga saat ini, ada beberapa jenis obat-obatan yang digunakan untuk mengatur tekanan darah agar tidak terlalu tinggi.

Sebuah studi terbaru dari Skotlandia menyebut obat-obatan hipertensi dengan jenis menyebabkan gangguan suasana hati (mood disorder) yang parah. Konsumsi dua jenis obat-obatan tersebut selama lebih dari 90 hari diketahui meningkatkan risiko terserang gangguan bipolar atau depresi.

Penelitian dilakukan oleh Dr Sandosh Padmanabhan dari Institute of Cardiovascular and Medical Sciences, University of Glasgow, Skotlandia kepada 144.066 pasien hipertensi. Pasien dibagi menjadi beberapa kelompok tergantung jenis obat yang digunakan.

Dr Padmanabhan menyebut propranolol, metoprolol, dan atenolol merupakan contoh obat beta blocker yang umum dipakai. Sementara amlodipine, nifedipine, verapamil, dan diltiazem merupakan contoh calcium antagonists. Untuk obat angiotensin antagonists yang biasa diresepkan dokter antara lain losartan, valsartan, telmisartan, dan candesartan.

Dalam 5 tahun, ada 299 partisipan yang dirawat di rumah sakit karena mengalami gangguan suasana hati, entah itu gangguan bipolar ataupun depresi berat. Setelah dianalisis, mereka yang mengonsumsi obat jenis beta blockers dan calcium antagonists berisiko dua kali lipat mengalami gangguan suasana hati daripada yang mengonsumsi angiotensin antagonists.

Diketahui juga obat-obatan jenis angiotensin antagonists dapat melindungi pasien dari gangguan suasana hati. Dr Padmanabhan menyebut risiko mengalami gangguan suasana hati bagi yang mengonsumsi angiotensin antagonists lebih rendah daripada mereka yang tidak mengonsumsi obat apa-apa sama sekali.

“Meski begitu, temuan ini tidak ditujukan untuk membuat orang membuang obat-obatan hipertensi mereka yang sudah diresepkan oleh dokter. Obat hipertensi baik angiotensin antagonists, beta blockers atau calcium antagonists sama-sama dapat mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke pada pasien hipertensi,” paparnya, dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Hypertension ini, dikutip dari Reuters.

Menanggapi penelitian ini, Dr Maan Fares dari Cleveland Clinic Ohio menyetujui tidak perlu adanya penggantian terapi. Obat-obatan hipertensi sudah diuji keamanannya dan hasil penelitian pun menunjukkan risiko gangguan suasana hati tidak terlalu besar. “Studi dilakukan dengan analisis dan limitasi yang terbatas. Bukti ini tidak cukup untuk mengubah pengobatan bagi pasien hipertensi, meskipun memang perlu ada penelitian lebih lanjut,” ujarnya. (dtc.health)