bahagia-foto

Oleh: Bahagia, SP., MSc.

MASYARAKAT Indonesia pada umumnya tidak bisa terlepas dengan cabai besar dan cabai rawit. Lidah masyarakat kita bergantung sepenuhnya terhadap cabai. Terasa ada yang kurang pada saat makan kalau tidak makan dengan sambel. Tradisi ini membuat cabai menjadi komoditas unggulan masyarakat di Indonesia. Potensi pasar ini membuat cabai selalu bermasalah. Permasalahan dari hulu hingga hilir.

Permasalahan pada zona hulu berkaitan dengan produksi cabai merah. Permasalahan pada zona hilir berkaitan dengan sistem pasar yang tidak sehat. Produksi cabai pada zona hulu sering mengalami kegagalan lantaran kerusakan ekologis. Lahan cabai di tanah air rawan terendam air sehingga terjadi kebanjiran. Banjir terjadi karena tanah pada sentra cabai sudah mulai mati. Tanah mati dibuktikan dengan sering terjadi banjir. Mengapa tanah mati karena tanah sudah kekurangan mikroorganisme tanah.

Makhluk hidup mati karena produksi pada zona hulu belum sepenuhnya organik. Bergantung kepada pupuk kimia. Kemudian melupakan pupuk organik. Satu sisi peternakan ditanah air terus berkembang. Kebutuhan daging juga bertambah banyak. Harusnya pertambahan itu menghasilkan kotoran ternak yang lebih banyak lagi. Pupuk organik dari ternak tadi harusnya dapat memupuk seluruh lahan yang jadi sentra cabai. Disini terlihat kalau pembangunan peternakan tidak terintegrasi dengan peternakan.

Satu sisi kita harus melakukan konservasi terhadap tanah agar tanah menjadi subur. Kerusakan lingkungan ini terjadi pada semua lahan cabai di Jawa. Padahal lahan sawah terluas berada di pulau Jawa. Pasokan cabai ke seluruh tanah air tentu bergantung kepada pulau Jawa. Saat produksi cabai gagal dipulau jawa maka daerah lain kelangkaan cabai. Cabai langka harga jadi naik. Konsumen dirugikan. Saat ini lahan cabai yang paling luas berada dipulau Jawa. Luas lahan cabai dijawa Barat 17.903 ha, Jawa tengah 22862 ha dan jawa timur 13457 ha (BPS, 2014).

Selain Jawa, Propinsi Sumatra Utara termasuk daerah paling luas dengan luas 17164 ha. Dari data ini membuktikan bahwa Jawa termasuk daerah yang berpengaruh dalam menjaga kestabilan harga cabai dan produksi. Kelangkaan cabai turut meningkatkan harga cabai diluar kewajaran. Cabai jadi langka dipasar karena mengalami kegagalan produksi.

Kegagalan itu tidak lain karena seringnya terjadi banjir pada daerah sentra sayuran dan cabai. Jawa barat hingga kini belum selesai mengatasi banjir sehingga mempengaruhi produksi cabai. Sama halnya dengan propinsi lain seperti Jawa Tengah dan Jawa timur. Daerah ini rawan bencana banjir. Cabai pada umumnya tidak tahan banjir.  Cabai yang terkena genangan banjir mudah mati karena akar cabai membusuk.

Layu dan akhirnya cabai mati. Jika cabai sudah terkena banjir maka rawan terkena penyakit. Penyakit seperti bakteri dan jamur dapat tumbuh pada kondisi yang sangat lembab. Buah cabai yang sering terkena air hujan juga mudah mengalami pembusukan. Pasca panen buah cabai juga semakin sulit pada saat seringnya bencana banjir dan musim penghujan. Terlebih pada saat musim penghujan sementara lahan sentra cabai tidak bisa menyerap air optimal.

Air hujan membanjiri lahan cabai. Sebagian lahan cabai juga terkena erosi banjir terutama pada lahan cabai dengan kemiringan yang curam. Pupuk kandang juga belum optimal digunakan saat produksi cabai. Makhluk hidup seperti cacing jadi langka pada lahan cabai sehingga lubang biopori tidak dihasilkan. Lubang biopori tanah alami tersumbat.

Saat cabai dipupuk dengan pupuk kandang maka mikroorganisme pengurai tanah akan hidup. Ekosistem tanah jadi berfungsi sehingga tanah jadi hidup. Tanah akhirnya bisa menyerap air hujan dengan baik. Kelemahannya, kita terlalu memikirkan produksi secara kuantitas sehingga lupa menjaga kualitas ekologis tanah.

Pupuk pabrik terus kita gunakan sehingga saat musim penghujan kita tidak bisa mengatasi banjir. Selain itu, produksi cabai tidak beradaptasi dengan keadaan cuaca. Penanaman terkpaksa dilakukan pada saat musim penghujan. Padahal kita bisa melakukan inovasi pertanian. Tinggal diatur jadwal tanamnya sehingga saat curah hujan tinggi tidak perlu menanam cabai.

Adaptasi ini tidak optimal sehingga stok cabai tidak tersedia. Padahal kita sudah tau musim penghujan dimulai dari bulan yang akhirannya ber. Mulai september sampai dengan desember. Dengan diketahuinya musim hujan pada bulan tersebut maka janganlah menanam cabai pada lahan terbuka. Bertanamlah pada rumah kaca hasil inovasi ahli pertanian. Inovasi ini sayangnya belum dikomersialkan sehingga hanya petani tertentu yang bisa menggunakan.

Biaya untuk produksi cabai dengan rumah kaca atau green house sangat tinggi. Jika kita tidak menggunakan inovasi ini maka sampai kapanpun cabai dan sayur-sayuran bergantung musim. Padahal setiap hari kita butuh cabai dan butuh sayuran. Tentu disini harus diatur pola tanamnya agar tetap bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Jika keadaan cuaca membaik maka tanamlah cabai dilapangan.

Saat keadaan cuaca tidak membaik maka tanamlah cabai dirumah kaca. Dukung dan fasilitasi petani untuk menghasilkan inovasi itu. Selama ini petani kita masih bergantung pada lahan terbuka. Hingga kini belum diberikan fasilitas itu kepada mereka. Akhirnya kita rawan kelangkaan cabai dan sayuran selama musim penghujan.

Kedua, gerakan penyuluhan pertanian dan ekologis. Petani diberikan pengetahuan ekologis. Pengetahuan mencakup pengetahuan tentang musim penghujan. Kapan musim hujan deras dan kapan musim hujan yang bisa ditanami cabai. Berikan juga pengetahuan dampak buruk ikim basah terhadap tingginya pertumbuhan jamur dan bakteri. Jangan sampai petani belum bisa membedakan mana penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri dan serangga.

Petani berperilaku ekologis kalau kita berhasil merubah pengetahuan petani. Gagalnya petani berarti kegagalan dari stakeholder atau pemegang kebijakan yang berperan merubah pengetahuan petani. Tentu kedepannya penyuluh pertanian mempunyai peran untuk membentuk pengetahuan petani. Penyuluh yang nanti mengarahkan kepada pengetahuan petani akan dibawa. Jika penyuluh pertanian mampu memberikan materi ekologis dan pertanian maka pembangunan pertanian dapat berkelanjutan.

Kadang kondisi jadi terbalik. Satu sisi penyuluh tidak bisa melakukan apapun kalau pemerintah tingkat pusat tidak mendukung pertanian dan penyelamatan bumi. Meskipun demikian penyuluh tetap bisa memberikan sentuhan berupa pengetahuan. Tentu tidak membesar-besarkan cara bertani yang tidak ramah lingkungan hidup.

Penulis Sedang Mengikuti Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB Ddan Universitas Ibn Khaldun Bogor