JAKARTA TODAY- Badan Pusat Statistik (BPS) meramalkan, laju inflasi pada Mei dan Juni mendatang berpotensi lebih tinggi dibandingkan inflasi April yang tercatat sebesar 0,09 persen. Pasalnya, kedua bulan tersebut bertepatan dengan masa puasa dan peringatan Hari Besar Idul Fitri atau Lebaran.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, bersamaan dengan periode puasa dan Lebaran tersebut, ada kecenderungan meningkatnya harga kebutuhan pokok atau dari kelompok bahan makanan sehingga tentu memberikan dampak pada terkereknya inflasi.

“Kalau melihat yang sudah sering terjadi, selalu ada kenaikan (harga bahan pokok) di bulan puasa dan Lebaran karena permintaan bahan makanan tinggi. Jadi, harus hati-hati saat Lebaran, terutama bulan Juni,” ujar Ketjuk, sapaan akrabnya di kantor BPS, Selasa (2/5).

Baca Juga :  Istana Bogor Jadi Saksi Pernyataan Sikap Cipayung Plus Bogor Raya Tolak Kenaikan BBM 

Ketjuk memperkirakan, sejumlah komoditas pangan yang cenderung mengalami peningkatan dari segi harga maupun permintaan pada puasa dan Lebaran serta berkontribusi pada inflasi, yakni daging ayam, daging sapi, cabai merah, beras, dan minyak goreng.

Hanya saja, tren deflasi pada komponen gejolak harga pangan (volatile foods) dalam beberapa bulan terakhir, membuat Ketjuk masih optimis bahwa sumbangan inflasi dari volatile foods tak terkerek terlalu jauh.

Baca Juga :  Karyawan Roti Soek Pajajaran Dibekali Pelatihan Digital Marketing

Di saat yang bersamaan, pemerintah, sambung Ketjuk terus berupaya agar volatile foods tak meninggi melalui menjagaan rantai pasokan bahan pangan dari sentra produksi hingga ke tangan konsumen. Hasilnya sendiri, memang terasa dalam dua bulan terakhir di mana volatile foods mengalami deflasi 0,77 persen pada Maret dan deflasi 1,13 persen pada April.