BOGOR TODAY – Pandemi Covid-19 membuat segala hal yang berbau offline menjadi online (daring) menjadi marak. Kuliah, sekolah, bekerja dan beribadah pun kini dilakukan secara online.

Pola masyarakat yang selama ini serba offline kini mulai berubah dan terbiasa dengan segala hal yang berbau online. Pekerjaan pun dikoordinasikan secara online. Tak mengherankan saat ini banyak sekali platform online yang menjadi sarana penunjang aktivitas kuliah, sekolah, bekerja dan beribadah bisa dilakukan secara online.

Baca juga : Pasien Covid 19 Dihakimi Massa, Polisi Ungkap Fakta

Meski tak melakukan tatap muka, etika atau tata krama saat melakukan virtual meeting tetap harus dijadikan nomor satu oleh para peserta.

Terkait itu, sejumlah mahasiswa Universitas IPB yang tergabung dalam Kelompok Bogorkab42 menggelar pelatihan kepada masyarakat Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pelatihan Webinar Ci-Talks Series 1 ini mengusung tema “Sikap cerdas ketika melakukan virtual meeting pada era pandemi Covid-19” dengan menghadirkan narusumber Pardi Pay yang merupakan pengurus Forest Watch Indonesia sekaligus alumni dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan – IPB.

Ketua Kelompok Bogorkab42, Jauhar Zainalarifin mengungkapkan bahwa Webinar ini bertujuan untuk membuka wawasan dan menginspirasi masyarakat Desa Cikarawang mengenai sikap dan etika ketika melakukan virtual meeting.

Menurutnya, virtual meeting merupakan salah satu cara yang sangat efektif dalam melakukan komunikasi selama era pandemi Covid-19 karena dapat mengurangi mobilisasi secara fisik, mengurangi orang berkerumunan atau berkumpul, serta penggunaannya yang cukup fleksibel.

Namun kata dia, penerapan virtual meeting yang biasa dilakukan dinilai kurang maksimal, sehingga perlu dilakukan edukasi agar penerapannya dapat optimal. Permasalahan yang biasa ditimbulkan seperti penampilan yang kurang baik, lokasi yang kurang sesuai, kegiatan yang dapat mengganggu acara seperti makan atau minum, suara yang dapat mengganggu (noise), kehadiran yang kurang tepat waktu, serta kurang diperhatikannya isi dari pembahasan yang sedang berjalan.

Baca Juga :  JANGAN LUPAKAN ADAB SAAT PEMBELAJARAN TATAP MUKA

“Permasalahan itu diharapkan diedukasi kepada peserta serta diberikan tips dan trik agar dapat melakukan virtual meeting dengan baik,” ungkap Jauhar dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7/2021).

Baca juga : Rio Waida Kejar Peselancar Selandia Baru

Sementara, Pardi Pay menyampaikan bahwa memasuki masa pandemi ini pentingnya sosial-digital yang merupakan efek pandemi untuk diterapkan dalam aktivitas sehari-hari saat ini.

Pardi memaparkan, untuk dapat membantu berkomunikasi jarak jauh, kini telah beredar sejumlah aplikasi virtual meeting, seperti Zoom meeting, Google meet, Whatsapp, Skype dan Webex.

“Hal yang perlu dilakukan sebelum memulai virtual meeting yaitu ketersediaan sinyal yang baik serta perangkat yang mendukung, selain itu pentingnya menghargai waktu ketika akan memulai virtual meeting juga harus diperhatikan seperti memasuki ruang meeting tepat waktu dan melakukan konfirmasi jika terkendala,” jelas Pardi.

Tak hanya itu, identitas yang jelas juga perlu ditampilkan pada bagian penamaan akun, hal ini diperlukan agar dapat mempermudah partisipan lain untuk mengetahui asal lembaga, daerah, NIM (Nomor Induk Mahasiswa), atau hal lainnya.

Ketika sudah memulai kegiatan, sambung Pardi diharapkan peserta dapat memperhatikan kondisi penampilan terutama pada saat menyalakan kamera. Karena penampilan sangat penting untuk dapat menunjukan wajah agar mudah untuk dikenali, selain itu penampilan perlu disesuaikan dengan tema atau kondisi kegiatan. Pemilihan lokasi adalah hal yang sangat penting selain untuk mendapatkan sinyal yang kuat, pemilihan lokasi juga diperlukan agar kegiatan berlangsung dengan tenang, tidak berisik, dan pencahayaan yang cukup.

Baca Juga :  BNN Minta Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba di Indonesia Perlu Kebijakan Responsif dan Komprehensif

Kamera pada perangkat sebaiknya selalu dalam keadaan menyala, namun dalam kondisi tertentu kamera perlu dimatikan, seperti ketika secara tiba-tiba kedatangan tamu, harus ke toilet, hendak minum, dan ketika perlu mensetting perangkat.

Pembicaraan yang berlangsung ketika virtual meeting hendaknya perlu diperhatikan dengan baik, selain itu hindari aktivitas atau kegiatan lain agar dapat senantiasa fokus. Kesepakatan atau peraturan ketika kegiatan berlangsung juga perlu diperhatikan seperti ketika harus bertanya menggunakan fitur raised hand (angkat tangan, red) atau menuliskan identitas di kolom obrolan, ketika melakukan presensi harus mengisi form pengisian.

“Yang penting untuk diterapkan yaitu hindari pemotongan pembicara lain dan ketika terjadi kendala pada aplikasi atau harus meninggalkan room meeting lebih awal hendaknya dikonfirmasikan kepada partisipan,” ujarnya.

Etika saat virtual meeting ini, Pardi menegaakan perlu diterapkan kepada mahasiswa dan masyarakat umum agar dapat terciptanya kondisi yang kondusif serta dapat saling menghargai. Selin itu juga dapat meningkatkan wawasan dan kemampuan para partisipan.

Ahmad Bestari, yang merupakan Ketua Ketua Gapoktan Mandiri Jaya mengapresiasi langkah yang dilakukan Kelompok Bogorkab42.

Menurutnya, virtual meeting ini perlu diedukasi kepada masyarakat Desa Cikarawang yang saat ini mulai beradaptasi melakukan komunikasi secara digital. (*/B. Supriyadi)