“Selain terkendala alat, tenaga dan pemasaran, tuntutan kebutuhan sehari-hari untuk anak istri membuat saya tidak bisa fokus,” ungkapnya.

Iwan mengaku, meski telah berupaya untuk bangkit dan terus mengembangkan usahanya itu, namun karena kondisi saat ini yang tidak memungkinkan terpaksa Iwan menghentikan kerajinan itu dan beralih profesi dengan pekerjaan yang penghasilannya tak pasti agar kebutuhan sehari hari dapat terpenuhi.

BACA JUGA :  Arab Saudi Buka Musim Umrah 1448 H, Visa Mulai Diterbitkan Sejak 31 Mei 2026

“Untuk kebutuhan sehari-hari kan harus tetap terpenuhi seperti jajan anak, kan gak bisa dibatasi,” lirihnya.

Disinggung terkait bantuan dari pemerintah, Iwan menegaskan belum pernah mendapatkannya, meski pemerintah desa (pemdes) telah menjanjikan untuk bergabung menjadi anggota Usaha mikro Kecil Menengah (UMKM) desa.

Senada dengan Iwan, Efih yang juga salah satu perajin serupa mengungkapkan hingga saat ini belum adanya bantuan dari pemdes setempat untuk mengatasi kendala tersebut.

BACA JUGA :  Kejagung Geledah Kantor BGN, Pemerintah Minta Publik Hormati Proses Hukum

“Dari pihak kecamatan juga sudah datang beberapa bulan lalu. Katanya sedang mengupayakan mau ada pelatihan dan bantuan dari program Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) tapi gitu sama semua belum ada realisasi dan tindak lanjutnya,” tutup Mada, sapaan akrabnya. (Didin/CR).

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================