
Soal performa kasarnya, Zenfone 9 Zenfone 9 mendapatkan skor tinggi mencapai 1.039.783 di AnTuTu. Sedangkan di aplikasi Geekbench meraih skor 1.320 untuk single-core dan 3.883 untuk multi-core.
Baterai
Baterai berkapasitas 4.3000mAh disematkan ASUS pada Zenfone 9 untuk menunjang performanya. Ini sedikit lebih besar dibandingkan baterai generasi sebelumnya. Soal ketahanan daya baterai, Zenfone 9 mendapatkan skor 16 jam 17 menit ketika saya tes menggunakan PCMark di setelan kecerahan layar 50%, refresh rate 60Hz, dan baterai dari 100%.
Ketika saya tes lagi dengan setelan yang mirip namun refresh rate 120Hz, skor yang dihasilkan adalah 12 jam 12 menit. Skor baterai ini cukup baik jika dibandingkan dengan handphone lain yang pernah tim Gadgetren review sebelumnya.
Soal pengisian daya, Zenfone 9 mendukung pengisian daya cepat 30 watt. ASUS pun masih menyematkan charger yang kompatibel dalam boks penjualan handphone ini. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk mengisi daya handphone ini dari level 10% ke 100% menggunakan charger bawaan.
Fitur
Untuk sistem operasinya Zenfone 9 menggunakan Android 12 dengan hanya sedikit modifikasi pada antarmuka dan fiturnya. Sayangnya ASUS belum dapat menjanjikan upgrade OS yang lebih lama di mana kini kebanyakan handphone flagship mendukung hingga 3 tahun update sistem operasi .
Ada satu fitur yang agak unik di Zenfone 9 yakni ZenTouch di mana saya bisa mengusap jari ke atas atau ke bawah di area tombol power. Fitur ini bisa disetel untuk melakukan aksi tertentu seperti membuka atau menutup area notifikasi hingga menuju dengan cepat bagian awal atau akhir halaman web.
Anehnya ASUS menyematkan fitur ini di bagian yang sulit ditemukan di setelan handphone. Saya sendiri perlu mengubek-ubek setelan handphone untuk menemukan fiturnya karena nama yang digunakan bukan ZenTouch di menu setelan melainkan Smart Key.
Walaupun handphone ini berukuran mungil, ASUS tetap menyematkan fitur One-handed Mode agar handphonenya dapat lebih mudah lagi digunakan dengan satu tangan. Sayangnya fitur ini rentan tidak sengaja aktif bahkan ketika sensitivitasnya sudah saya setel ke minimal.
Kamera
Zenfone 9 hanya menyediakan dua kamera belakang untuk fotografi yakni lensa utama 50MP yang menggunakan sensor Sony IMX766 dan lensa ultrawide 12MP dengan sensor Sony IMX363. Untuk kamera depannya menggunakan lensa 12MP dan juga dengan sensor Sony IMX663.
Menarik melihat semua lensa kamera di handphone ini menggunakan sensor Sony. Lantas apakah ini berarti hasil jepretan kameranya memuaskan semua? Nah untuk ini saya bilang ada kalanya foto yang dihasilkan terlihat bagus tapi juga ada kalanya kurang memuaskan.
Untuk kamera utamanya, saya merasa puas dengan hasil fotonya baik itu di siang hari maupun malam hari. Bagian terang dan gelap pada foto terekam dengan baik. Warna pada foto terlihat lebih cerah dibanding aslinya namun ini membuat fotonya terlihat lebih menarik.
Di malam hari pun tidak begitu kentara noise yang dihasilkan pada foto dan juga masih terlihat cukup tajam. Namun di situasi tertentu terlihat ada lens flare yang agak mengganggu.
Ada satu hal yang mengganjal ketika saya foto-foto menggunakan Zenfone 9. Entah kenapa ketika tombol shutter saya pencet, ada jeda sepersekian mili detik sebelum foto dihasilkan bahkan di kondisi cahaya cerah. Biasanya di handphone kelas flagship, hasil fotonya akan keluar secara instan.
Satu lagi yang kurang dari kamera Zenfone 9 adalah foto portraitnya. Pemisahan antara subjek foto dengan latar terlihat agak berantakan. Pada foto di atas ini malah Zenfone 9 yang digunakan oleh model terlihat ikut diblur. Masalah-masalah ini prediksi saya lebih karena software kameranya yang kurang optimal yang semoga saja nanti diperbaiki oleh ASUS.
Beralih ke lensa ultrawide-nya, hasil fotonya sebetulnya bagus tapi terlihat lebih gelap dan menyajikan warna yang berbeda dibanding kamera utamanya. Noise di malam hari pun semakin terlihat walau masih tergolong wajar.
Terakhir untuk kamera depan, hasil fotonya terlihat bagus di siang hari dan detail pada permukaan wajah saya terekam dengan baik. Sayangnya masalah fitur portrait kembali muncul di sini di mana sebagian rambut saya ikut keblur oleh kameranya.
Di malam hari hasilnya masih cukup bagus namun entah kenapa kameranya seperti sulit untuk fokus dengan baik sehingga membuat wajah saya terlihat agak buram.
Di aplikasi kamera Zenfone 9 terdapat beberapa fitur tambahan yang bisa digunakan seperti mode Pro baik itu untuk foto maupun video, slo-mo untuk membuat video slow motion yang sinematik, hingga light trail untuk dengan mudah membuat foto malam dengan cahaya yang unik.
Soal perekaman videonya, saya sangat terkesima dengan stabilitas hasil rekamannya baik itu di kamera utama maupun di kamera depannya. Kualitas videonya sendiri terlihat kurang begitu jernih dan ditambah lagi lebih gelap dibandingkan situasi asli.
Perekaman video di Zenfone 9 bisa mencapai resolusi 8K dengan efek samping frame rate terkunci di 24FPS, HDR tidak bisa aktif, dan stabilisasi video di level normal saja.
ASUS Zenfone 9 bisa dibilang adalah handphone idaman buat mereka yang senang handphone mungil namun tangguh. Layarnya tajam dan cerah, performanya gegas, serta baterainya yang cukup tahan lama.
Sayangnya handphone ini mudah menjadi agak panas di bagian sisinya dan bagian belakangnya rentan memudar warnanya. Ditambah lagi kameranya walau bisa menghasilkan foto yang bagus namun sepertinya terseret oleh software yang kurang optimal.
Harga ASUS Zenfone 9
- Harga 6/128GB – Rp7.999.000
- 8/256GB – Rp9.999.000
- 16/256GB – Rp11.999.000
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















