BOGOR-TODAY.COM – Adanya gaya hedon di sekolah negeri yang membebani siswa, membuat DPRD Kabupaten Bogor Geram.
Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menindak tegas oknum kepala sekolah (Kepsek) SDN Cipayung 1.
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto menegaskan, gaya hedon dan jalan-jalan berkedok sudy tour dan jika tidak ikut akan mendapatkan sanksi yang tidak rasional, itu tidak dibenarkan.
Rudy Susmanto menilai, selama pungutan itu menjadi beban bagi setiap wali murid, pucuk pimpinan dari sekolah tersebut sudah sepatutnya harus diganti.
“Tidak benar kepsek seperti ini, arus diganti. Kok masih ada oknum kepala sekolah seperti ini di zaman sekarang,” tutur Rudy Susmanto.
Menurutnya, wacana study tour yang diinisiasi pihak sekolah, sudah seharusnya tidak boleh ditentukan sepihak oleh jajaran sekolah itu sendiri.
Melainkan, sekolah mengikuti keinginan dari siswa kemana mereka ingin melakukan kegiatan diluar proses belajar mengajar yang dilakukan untuk menambah ilmu bagi para siswanya tersebut.
“Mau kemana dan harus kemana, biar murid yang menentukan. Apalagi, liburan sekolah sekarang sudah banyak pilihan untuk anak-anak sekola sesuai dengan kemampuan nya masing masing,” kata Rudy Susmanto.
Diberitakan sebelumnya, bergesernyanya nilai-nilai luhur sekolah sebagai tempat menimba ilmu, kini menjadi industri pencari uang.
Parahnya lagi gaya hedon guru sekolah dengan membebankan siswa kerap terjadi di sekolah negeri, salah satunya SDN Cipayung 1.
“Selain ada iyuran Rp20.000 perbulan bagi siswa siswi, di sekolah itu juga ada biaya pengeluaran sebesr Rp200 ribu untuk kebersihan,” tuturnya.
Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya itu menambahkan, jika salah satu guru berulang tahun, siswanya pun memberikan kado ulang tahun untuk guru.
“Kado untuk guru yang ulang tahun berupa barang mewah, salah satunya logam mulia, itu juga diambil dari uang kas kelas. Jika ada hal lain siswa juga patungan lagi,” kata dia.
Hal itu mencerminkan gaya hedon guru-guru SDN Cipayung 1 yang menjadi keluhan wali murid.
Tidak hanya persoalan itu saja, jalan-jalan berkedok study tour yang diselenggarakan pihak sekolah juga terkesan membebankan siswa.
“Jika tidak ikut study tour, maka guru akan memberikan tugas kepada siswa yang tidak ikut, yang menurut saya tugasnya itu tidak rasional untuk seorang murid SD,” imbuhnya.
Study tour ke Taman Impian Jaya Ancol Jakarta wajib diikuti kelas I sampai kelas 3 dengan besaran biaya yang diminta per murid sebesar Rp270 ribu.
Untuk kelas 4 hingga kelas 6 tujuan wisatanya ke tempat kolektor alat musik Sunda di Bandung, dengan iuran sebesar Rp350 ribu persiswa.
“Sebagai wali murid kami mendukung apapun kegiatan sekolah, namun yang membuat kami kesal ada semacam ancaman dari sekolah pada anak kami jika tidak ikut study tour,” ujarnya.
Menurutnya, pemberian tugas kepada siswa yang tidak mengikuti study tour diluar nalar itu, sudah mencerminkan sikap diskriminasi terhadap siswa.
“Saya harap pada pihak terkait menegur para guru pendidik di SDN Cipayung 1 karena sudah keterlaluan tindakannya,” pintanya.
Mengutipd ari bogoronline.com, kepala sekolah (Kepsek) SDN Cipayung 1, Endin Saepudin menampik, bahwa mengenai permasalahan anak didiknya yang tidak ikut acara study tour sekolah yang ia pimpin itu tidak wajib ikut serta.
“Masalah yang tidak ikut, kita tidak membebani para siswa atau mewajibkan murid harus ikut,” akunya.
Endin juga menampik, kaitan adanya tugas tambahan yang diberikan oleh walikelas kepada siswanya di kelas yang apabila tidak mengikuti study tour kelas ke Ancol maupun ke Bandung, dia menyebut hal itu tidak dibenarkan.
“Nggak ada tuh yang bahas seperti itu, kalau pun ada nanti kita luruskan ke teman-teman (Guru, red) dalam rapat. Bahwa bukan gitu caranya, maksud saya gitu loch,” terangnya.
“Biar nanti, disampaikan lagi ke para orang tua murid di masing-masing kelasnya,” ucapnya menambahkan.
Dia berkilah, sekolah itu berkeinginan dapat mengenalkan budaya sunda melalui study tour ke Bandung, Jawa Barat, bagi kelas 4, 5 dan 6.
“Bagaimana kalau ada siswa yang keluarganya tidak mempu dan anak yatim. Saya minta dibebasin biayanya itu,” kata dia.
“Study tour ke Ancol dan Bandung merupakan gagasan dari kami selaku pihak sekolah, dengan catatan tak ada paksaan bagi setiap siswa untuk ikut,” kilahnya. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















