PANTUN BUTET TIDAK BERADAB DAN KURANG LITERASI

OPINI_HERU B
Heru penulis opini, karya pantun salah seorang budayawan yang tidak netral, harusnya budayawan itu santun dalam mengkritik terhadap seseorang.  (FOTO : IST)

Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

GARA – gara tampil membawakan pantun saat Bulan Bung Karno (BBK) di Stadion Gelora Bung Karno yang dihadiri ribuan pendukung PDIP budayawan Butet Kertaradjasa di hujat banyak nitizen.

Dan inilah bunyi dari pantun dalam acara BBK dihadiri ribuan pendukung PDIP yang banyak menuai kecaman tersebut.

“Pepes ikan dengan sambel terong,

Semakin nikmat tambah dengan empal,

Orangnya diteropong KPK karena nyolong,

Eh lha, kok koar-koar mau dijegal”.

Mudah ditebak siapa yang dia maksud dalam pantun itu, kalo bukan Anies Baswedan calon presiden 2024.

Dari Koalisi Perubahan untuk persatuan yang terdiri dari gabungan partai politik Nasdem, PKS dan Demokrat.

Kasus ini adalah dugaan korupsi Formula E yang dipaksakan oleh Ketua KPK Firli Bahuri terhadap Anies Baswedan.

Ini jelas karya pantun salah seorang budayawan yang tidak netral, harusnya budayawan itu santun dalam mengkritik terhadap seseorang.

BACA JUGA :  Waspada! Gejala Kolesterol Tinggi Bisa Terlihat dari Mata

Harusnya, pantun itu disampaikan dengan santun, minimal disampaikan dengan guyunon yang tidak menyinggung seseorang.

Sehingga orang yang mendengarnya bilang cakep dan diakhiri dengan senyuman, tawa dan tepuk tangan karena pantun yang bagus.

Ini bunyi pantun sangat kasar dan sudah menghina serta memfitnah seseorang, padahal Badan Pemeriksa Keuangan sudah memutuskan bahwa kasus Formula E tidak ada masalah.

Dalam laporannya ada 6 alasan yang menyebabkan secara menyakinkan bahwa Formula E tidak ada korupsi.

Kelihatan mas Butet ini kurang literasi dalam membuat pantun, maklum sudah sepuh kali. Butet juga menghujat  Prabowo Subianto dengan pantun juga.

Menurut penulis ini bukan pantun, tapi ujaran kebencian, fitnah dan Butet kurang literasi serta kurang pergaul.

“Hati rakyat Indonesia pasti akan bersedih jika kelak ada presiden hobinya kok menculik,” kata budayawan itu.

BACA JUGA :  Orang Tua Wajib Tahu, Ini Jarak Aman Anak Menonton TV dan Dampaknya bagi Kesehatan Mata

Ini juga menunjukkan tidak riset dan kurang kritis dalam membuat sebuah pantun yang banyak dibaca orang Indonesia.

Masalah Prabowo itu sudah basi, jika menghina Prabowo berarti juga menghina PDIP, Megawati dan Jokowi.

Bukankah Prabowo pernah jadi Cawapresnya Megawati dan sekarang Prabowo jadi Menhannya Jokowi.

Saatnya  Butet minta maaf, meski Anies dan Prabowo tidak ngefek dengan hinaan dan fitnah ini.

Sayangnya Butet tetap kekeh merasa tidak bersalah dan bilang dengan entengnya bahwa saya berbicara dengan kejujuran dan ini memang merupakan fakta.

Memang susah jika berbicara dengan orang yang sombong dan ndablek Butet merasa selalu paling benar dan menganggap orang  lain selalu salah.  Jayalah Indonesiaku. ***

 

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================