
Selain itu, beberapa kota mulai membentuk bank akiya, semacam daftar rumah kosong yang siap dijual atau disewa kembali dengan harga murah.
Namun, Suzuki menambahkan bahwa belum ada regulasi nasional yang mengatur secara spesifik pemanfaatan kembali rumah-rumah ini, sehingga pemerintah lokal harus berinisiatif sendiri dalam pengelolaannya.
Menarik Minat Pembeli Asing
Fenomena akiya juga menarik minat warga negara asing. Salah satunya adalah Coline Emilie Aguirre, seorang fotografer asal Prancis, yang pindah ke Uda dan membeli sebuah akiya seharga US$ 33.000 atau sekitar Rp 555 juta—hampir setengah dari harga rumah baru di daerah tersebut.
Namun, Aguirre memperingatkan bahwa harga murah bisa menyesatkan. “Saya telah menginvestasikan hingga US$ 60.000 (sekitar Rp 1 miliar) hanya untuk renovasi. Dan saya masih setengah jalan setelah tiga tahun tinggal di sini,” katanya.
Akiya miliknya belum tersambung ke sistem saluran air dan pembuangan, sehingga membutuhkan biaya tambahan yang signifikan. Meski demikian, Aguirre tetap optimis dan berencana membuka guest house setelah renovasi selesai.
Masa Depan Akiya: Tantangan dan Harapan
Fenomena akiya mencerminkan tantangan demografi yang dihadapi Jepang saat ini—penduduk yang menua, urbanisasi yang masif, dan tradisi keluarga yang berubah.
Namun, dengan strategi yang tepat, rumah-rumah kosong ini juga bisa menjadi peluang, baik bagi warga lokal maupun pendatang asing, untuk memulai hidup baru sambil membantu merevitalisasi desa-desa yang nyaris ditinggalkan.
Akiya bukan hanya rumah kosong. Ia adalah simbol perubahan sosial, dan mungkin, juga awal dari babak baru kehidupan di negeri matahari terbit.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















