BOGORTODAY.COM – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia.
Kondisi ini menuntut adanya upaya inovatif untuk mempercepat deteksi dan mencegah penyebaran penyakit menular tersebut.
Menjawab tantangan itu, sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengembangkan sebuah alat pendeteksi dini TBC berbasis suara batuk.
Berbeda dari metode konvensional yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium, inovasi ini memungkinkan proses skrining dilakukan dengan lebih mudah, cepat, dan non-invasif.
Skrining TBC Berbasis Suara Batuk
Ketua tim TBCare ITS sekaligus perancang sistem, Nathania Cahya Romadhona, menjelaskan bahwa TBC umumnya ditandai dengan batuk kronis akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis (Mtb).
Dari karakteristik tersebut, tim mengembangkan sistem yang mampu menganalisis pola suara batuk sebagai indikator awal penyakit TBC.
Dengan metode skrining sederhana ini, Nathania berharap deteksi dini dapat dilakukan lebih luas sehingga penyebaran TBC bisa ditekan sejak awal.
Tantangan dan Cara Kerja Sistem
Nathania mengungkapkan bahwa pengembangan alat ini bukan tanpa kendala. Suara batuk memiliki sifat inharmonik, yaitu pola spektral yang tidak beraturan, sehingga sulit dianalisis menggunakan metode konvensional.
“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih komprehensif,” jelasnya, dikutip dari laman resmi ITS, Sabtu (3/1/2026).
Untuk mengatasi hal tersebut, tim memanfaatkan teknologi deep learning. Awalnya, sistem menggunakan fitur akustik Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC).
Selanjutnya, data suara batuk diproses menggunakan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) guna memvalidasi dan mengklasifikasikan jenis suara.
“Model ini memiliki akurasi dan performa yang unggul dalam klasifikasi dan validasi suara batuk dalam berbagai kondisi lingkungan,” kata Nathania.
Terintegrasi Internet of Things (IoT)
Tim pengembang alat ini terdiri dari Nikolas Stanislaus Sanjaya, Faisal Azmi Sirajudin, Miskiyah, dan M. Rizki Dwi Kurnia Putra. Mereka melakukan pengolahan data lanjutan dengan menggunakan model Long Short-Term Memory (LSTM) yang dimodifikasi agar mampu membedakan suara batuk penderita TBC dan non-TBC secara lebih akurat.
Menariknya, alat ini juga terintegrasi dengan Internet of Things (IoT). Sistem perekam suara terhubung langsung ke basis data rumah sakit sehingga pengolahan dan penyimpanan data dapat dilakukan secara efisien.
“Perangkat ini memiliki kemampuan pra-skrining TBC yang portable dan mudah dioperasikan oleh kader kesehatan di berbagai daerah,” ujar Nathania.
Raih Medali Emas di Pimnas 2025
Inovasi mahasiswa ITS ini berhasil mencuri perhatian di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2025 dan meraih medali emas. Alat deteksi dini TBC berbasis suara batuk ini diklaim memiliki tingkat sensitivitas hingga 76 persen.
Sistem dikembangkan menggunakan data dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dan telah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 6. Karya ini dinilai layak meraih penghargaan karena mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-3 (kesehatan yang baik), ke-9 (inovasi dan infrastruktur), serta ke-10 (mengurangi kesenjangan).
Dengan inovasi ini, mahasiswa ITS membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi solusi nyata dalam menghadapi persoalan kesehatan nasional, khususnya dalam memerangi TBC di Indonesia.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















