Situ Citongtut Dibuka untuk Memancing, Warga Diimbau Waspadai Ikan Dasar

Situ Citongtut
Sejumlah warga memancing di Situ Citongtut, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Rabu (28/1/2026). Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor kembali mengizinkan aktivitas memancing di lokasi ini, namun melarang konsumsi ikan yang hidup di dasar perairan karena potensi akumulasi racun. Foto : bogortoday.com/Rifki Ramadhan

BOGORTODAY.COM – Hampir sepekan setelah peristiwa kematian massal ribuan ikan di Situ Citongtut Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor kembali mengizinkan masyarakat untuk aktivitas memancing. Keputusan ini diambil setelah menilai kondisi perairan mulai membaik, meski tetap dengan sejumlah pembatasan ketat terkait konsumsi hasil tangkapan.

Yayan Buduayana, Pengawas Sumberdaya Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak Kabupaten Bogor, mengatakan pembukaan kembali area memancing didasarkan pada pengamatan langsung terhadap kondisi biota air yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

“Kalau menurut saya, biar saja warga memancing. Sebab ikan bisa hidup, kemungkinan air sudah berubah,” kata Yayan, Rabu (28/1/2026).

BACA JUGA :  Lari Pagi atau Lari Sore, Mana yang Lebih Baik? Ini Perbedaan Manfaatnya untuk Tubuh

Meski demikian, Yayan menegaskan bahwa masyarakat dilarang keras untuk mengonsumsi ikan-ikan bentik atau bentos, yakni jenis ikan yang habitatnya berada di dasar perairan. Salah satunya ikan sapu-sapu.

Larangan ini bukan tanpa alasan. Yayan menjelaskan bahwa karakteristik ekosistem perairan membagi habitat ikan ke dalam beberapa zona. Ada ikan yang hidup di permukaan air, ada yang berada di kolom air tengah, dan ada pula yang mendiami dasar perairan.

“Kan ada ikan yang hidup di permukaan. Jadi ada yang hidup di kolom air, ada yang hidup di dasar. Ya, si racun itu biasanya mengendap di dasar,” papar Yayan.

BACA JUGA :  Tanda Kolagen Menurun pada Kulit dan Faktor yang Mempercepat Penuaan Wajah

Sifat alami racun atau kontaminan yang cenderung mengendap di dasar perairan membuat ikan-ikan yang mendiami zona tersebut memiliki risiko lebih tinggi terpapar dan mengakumulasi zat berbahaya dalam tubuhnya. Proses bioakumulasi ini dapat berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sehingga meski kondisi air telah membaik, ikan dasar tetap berpotensi membawa residu kontaminan.

“Jadi kalau misalnya konsumsinya bentos, bentos itu makhluk hidup yang hidup di dasar perairan. Nah, itu jangan,” tegasnya.

Editor : Bas

Wartawan : Rifki Ramadhan

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================