BOGORTODAY.COM – Kebiasaan menggigit-gigit kuku mungkin sekilas terlihat sepele dan tidak membahayakan kesehatan. Namun, jika dilakukan terlalu sering dan sulit dihentikan, perilaku ini bisa mengarah pada masalah yang lebih serius, termasuk gangguan psikologis.
Dalam istilah medis, kebiasaan menggigit kuku disebut onychophagia. Perilaku ini termasuk dalam kategori body-focused repetitive behavior (BFRB), yakni kebiasaan berulang yang berfokus pada tubuh dan dilakukan secara tidak sadar.
Mengutip laman Psychology Today, kebiasaan menggigit kuku umumnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak, meningkat intensitasnya saat remaja, dan bisa terus berlanjut hingga usia dewasa.
Jika sudah berlangsung lama, onychophagia dapat menyebabkan kerusakan pada kuku, kutikula, serta kulit di sekitarnya. Tak hanya itu, kebiasaan ini juga berisiko merusak gigi dan memicu gangguan pada rahang dalam jangka panjang.
Penyebab Psikologis di Balik Kebiasaan Menggigit Kuku
Kebiasaan menggigit kuku yang sulit dikendalikan sering kali menjadi sinyal adanya kondisi psikologis tertentu. Berikut beberapa faktor yang dapat mendasarinya.
- Stres
Stres merupakan salah satu penyebab paling umum seseorang menggigit kukunya. Bagi sebagian orang, menggigit kuku memberikan rasa tenang dan lega secara sementara. Tanpa disadari, kebiasaan ini kemudian menjadi mekanisme coping untuk meredakan tekanan emosional.
- Gangguan kecemasan
Menggigit kuku juga kerap terjadi pada individu yang mengalami gangguan kecemasan. Saat merasa gelisah atau khawatir berlebihan, tubuh secara alami mencari cara untuk menenangkan diri.
Pada orang dengan gangguan kecemasan, kebiasaan menggigit kuku biasanya lebih intens dan sulit dihentikan. Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa gangguan kecemasan atau masalah psikologis lainnya belum tertangani dengan baik.
- Rasa bosan
Selain stres dan cemas, kebiasaan menggigit kuku juga bisa muncul saat seseorang merasa bosan atau kurang aktivitas. Dalam kondisi ini, otak mencari rangsangan agar tetap merasa “sibuk”.
Secara psikologis, tangan dan mulut bergerak tanpa disadari untuk memberikan stimulasi tambahan, sehingga kebiasaan menggigit kuku pun muncul.
- Kecenderungan perfeksionisme
Dikutip dari laman Nailknowledge, beberapa studi menyebutkan bahwa kebiasaan menggigit kuku juga berkaitan dengan perfeksionisme. Orang dengan kecenderungan ini memiliki dorongan kuat untuk “merapikan” kuku yang terasa tidak rata, kasar, atau mengganggu.
Sayangnya, dorongan tersebut justru berubah menjadi kebiasaan berulang yang sulit dihentikan dan berpotensi merusak kuku.
Cara Menghentikan Kebiasaan Menggigit Kuku
Mengutip WebMD, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu menghentikan kebiasaan menggigit kuku.
- Jaga kuku tetap pendek
Memotong kuku secara rutin hingga pendek dapat mengurangi keinginan untuk menggigitnya karena tidak ada bagian kuku yang bisa digigit.
- Gunakan kuteks
Memakai kuteks bisa menjadi cara efektif untuk menghentikan kebiasaan ini. Kuku yang dicat akan membuat seseorang berpikir dua kali sebelum menggigitnya karena takut merusak tampilan. Selain itu, rasa cat kuku yang tidak enak di mulut juga dapat mengurangi dorongan menggigit kuku.
- Alihkan perhatian
Mengalihkan perhatian tangan dan mulut juga sangat membantu. Mengunyah permen karet, memainkan bola antistres, atau menggunakan fidget toys dapat menjadi alternatif untuk menyalurkan kebiasaan tersebut ke arah yang lebih aman.
Menggigit kuku bukan sekadar kebiasaan sepele. Pada sebagian orang, perilaku ini bisa menjadi tanda adanya stres, kecemasan, atau gangguan psikologis tertentu.
Jika kebiasaan ini terasa semakin sering, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan profesional agar penyebab utamanya dapat ditangani dengan tepat.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















