Ambisi Global BYD: Melirik Takhta F1 dan Balap Ketahanan Dunia

Meski memiliki kekuatan finansial yang masif, jalan menuju F1 tidaklah instan. Hingga kini, belum dipastikan apakah BYD akan membangun tim ke-12 yang sepenuhnya baru atau memilih jalur akuisisi tim yang sudah ada.

Berdasarkan regulasi FIA, ada standar teknis, tata kelola, dan finansial yang sangat ketat. Sebagai gambaran:

  • Kasus Cadillac: Sebelumnya, tim Andretti-Cadillac sempat ditolak dan baru mendapatkan lampu hijau untuk musim 2026 setelah menunjukkan komitmen pendanaan langsung.
  • Biaya Anti-Dilusi: Untuk bergabung, pendatang baru diperkirakan harus merogoh kocek hingga USD450 juta (sekitar Rp7,6 triliun) sebagai kompensasi bagi tim-tim lama yang sudah ada di grid.
BACA JUGA :  Peabo Bryson, Suara Legendaris di Balik Lagu Disney, Tutup Usia pada 75 Tahun

Keunggulan Teknologi Elektrik BYD

Peluang BYD dianggap cukup besar mengingat arah regulasi F1 yang semakin “hijau”. Pada regulasi terbaru, F1 mewajibkan pembagian tenaga yang hampir seimbang antara mesin bensin (V6 turbo 1,6 liter) dan motor listrik (MGU-K 350 kW).

BACA JUGA :  Safari Jurnalis PWI Kabupaten Bogor Sambangi Sukajaya, Perkuat Sinergi Pers dan Masyarakat

Peningkatan porsi energi listrik hingga mendekati 50% di dalam unit daya F1 menjadi keuntungan alami bagi BYD. Sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik (EV), portofolio teknologi baterai dan motor listrik mereka sangat solid.

BYD juga telah membuktikan kemampuan engineering-nya melalui lini hypercar mereka, Yangwang, yang menunjukkan bahwa mereka tidak hanya ahli membuat mobil harian, tapi juga kendaraan berperforma tinggi.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================