
Sebaliknya, kemunculan Dajjal merupakan peristiwa yang masih akan terjadi pada masa mendatang. Karena itu, Al-Qur’an tidak memuat namanya secara langsung, sementara penjelasan rinci tentang dirinya disampaikan melalui sunnah Nabi SAW.
Isyarat Tentang Dajjal dalam Al-Qur’an
Walaupun nama Dajjal tidak disebut secara eksplisit, sebagian ulama berpendapat bahwa terdapat isyarat mengenai dirinya dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surah Al-An’am ayat 158. Ayat tersebut menjelaskan tentang datangnya sebagian tanda-tanda besar dari Allah SWT, yang ketika itu keimanan seseorang tidak lagi bermanfaat jika sebelumnya ia belum beriman atau belum beramal saleh.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa terdapat tiga tanda besar yang apabila telah muncul, keimanan yang baru datang setelahnya tidak lagi memberikan manfaat. Tiga tanda tersebut adalah kemunculan Dajjal, keluarnya Dabbah (makhluk melata yang menjadi tanda kiamat), dan terbitnya matahari dari arah barat.
Penjelasan hadis ini menjadi salah satu dasar bagi para ulama yang mengaitkan ayat tersebut dengan tanda-tanda besar akhir zaman, termasuk kemunculan Dajjal.
Hikmah di Balik Tidak Disebutkannya Nama Dajjal
Tidak disebutkannya nama Dajjal secara langsung dalam Al-Qur’an mengandung hikmah tersendiri. Umat Islam tetap mendapatkan peringatan tentang bahaya fitnah Dajjal melalui hadis-hadis yang sahih, sementara Al-Qur’an menekankan prinsip-prinsip keimanan yang menjadi benteng utama untuk menghadapi berbagai bentuk kesesatan.
Dengan memahami ajaran Al-Qur’an dan sunnah secara seimbang, seorang muslim dapat mempersiapkan diri menghadapi berbagai ujian akhir zaman, termasuk fitnah Dajjal yang disebut sebagai fitnah terbesar dalam sejarah manusia.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














