
BOGORTODAY.COM – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Suyudi Ario Seto mengungkapkan tren penggunaan rokok elektrik atau vape di Indonesia mengalami lonjakan signifikan dalam satu dekade terakhir. Bahkan, prevalensi tertinggi tercatat pada kelompok remaja usia 15–19 tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan Suyudi saat membuka Focus Group Discussion (FGD) tentang Pengaturan Rokok Elektronik (Vape) dan Pembatasan Penggunaan Dinitrogen Oksida (Whip Pink) di Gedung BNN RI, Jakarta Timur, Rabu (18/2/2026).
Mengutip survei World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan melalui Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, Suyudi menyebut prevalensi pengguna rokok elektrik melonjak hingga 10 kali lipat.
“Berdasarkan survei GATS tahun 2021 yang dirilis Kementerian Kesehatan dan WHO, terjadi lonjakan prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia hingga 10 kali lipat,” ujar Suyudi.
Pada 2011, angka pengguna vape tercatat 0,3 persen. Sementara pada 2021 meningkat menjadi 3 persen. Secara jumlah, sekitar 6,6 juta penduduk usia 15 tahun ke atas diketahui mengonsumsi rokok elektrik.
Menurutnya, kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok usia remaja 15–19 tahun.
WHO Sebut Pandemi Perilaku
Suyudi juga menyinggung peringatan keras WHO pada 2024 yang menyebut fenomena peningkatan penggunaan vape sebagai pandemi perilaku yang mengancam kesehatan masyarakat global.
Ia membantah narasi yang menyebut vape sebagai alat bantu berhenti merokok.
“Narasi vape sebagai alat bantu berhenti merokok adalah ilusi yang belum terbukti efektif secara ilmiah,” tegasnya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















