Oleh : Agus Jatmika (Pemerhati Sosial Komunikasi)
RAMADHAN berjalan perlahan menuju penghujungnya. Malam-malam terasa semakin sunyi, namun justru dalam kesunyian itulah umat beriman menanti sebuah malam yang diyakini lebih mulia daripada seribu bulan yakni Lailatul Qadar.
Sebuah malam yang bukan sekedar momentum spiritual, tetapi juga ruang perenungan bagi manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus dengan sesama.
Dalam tradisi Islam, Lailatul Qadar diyakini turun pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Banyak orang mencarinya dengan memperbanyak ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Masjid-masjid kembali dipenuhi oleh langkah-langkah kaki yang datang dengan harapan yang sama—menggapai malam penuh kemuliaan itu.
Sementara itu bila kita melihat lebih dalam, Lailatul Qadar bukan hanya tentang memperbanyak ritual ibadah, tetapi juga mengandung pesan sosial yang sangat kuat. Malam ini mengajarkan bahwa perubahan besar dalam kehidupan manusia sering kali lahir dari kesadaran yang hening dan refleksi yang mendalam.
Lailatul Qadar adalah malam ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad melalui perintah sederhana namun revolusioner yakni Iqra-bacalah. Perintah ini bukan hanya tentang membaca teks, tetapi juga membaca kehidupan, memahami realitas sosial, dan membangun peradaban yang berlandaskan ilmu serta kebijaksanaan.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















