KREDIT MACET MENINGKAT

bank-indonesiaPERLAMBATAN ekonomi nasional mulai berdampak serius. Salah satunya kalangan perbankan mulai mengalami lonjakan kredit bermasalah. Ini merupakan lampu kuning ekonomi nasional.

ALFIAN MUJANI
[email protected] Berdasarkan catatan, hingga akhir Maret atau kuartal I-2016, rasio kredit bermasalah (non perform­ing loan/NPL) perbankan Indo­nesia naik ke 2,8% (gross), dari akhir 2015 yang mencapai 2,7%. Kenaikan terjadi karena kondisi ekonomi melambat.

Pada kuartal I-2016, ekonomi Indo­nesia tumbuh 4,92%, melambat dari kuartal IV-2015 yang masih di atas 5%. “Dari NPL gross dan net ada suatu pen­ingkatan. Ini akibatkan pertumbuhan ekonomi yang relatif lambat dan ini suatu kebiasaan, sehingga dari sisi NPL mengalami perburukan, Kalau pertum­buhan ekonomi meningkat, NPL bakal ke sisi normal,” jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Erwin Rijanto, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (19/5/2016).

BACA JUGA :  Ini 20 Negara Paling Makmur di Dunia Tahun 2026, Singapura Pimpin Asia

Meski begitu, rasio NPL perbankan Indonesia masih aman karena jauh di bawah 5%. Apalagi, ujar Erwin, per­bankan membuat pencadangan dan melakukan klasifikasi kredit.

Sejumlah perbankan memang ter­tekan labanya di kuartal I-2016, karena harus membuat pencadangan akibat NPL yang naik, bank-bank besar seper­ti Bank Mandiri dan BCA tercatat men­galami kenaiakn NPL sepanjang kuartal I-2016.

Akan tetapi Erwin mengatakan, kondisi perbankan Indonesia sehat. Ini dapat dilihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang berada di 21,8%.

Di tempat yang sama, Gubernur BI, Agus Martowardojo, mengatakan den­gan NPL yang meningkat, perbankan akan cenderung berhati-hati memberi­kan kredit. Dikhawatirkan, kondisi ini akan membuat laju kredit tertahan, dan pertumbuhan ekonomi tak bisa melaju kencang.

BACA JUGA :  Momen HJB ke-544, Museum Pajajaran Mulai Dibuka Resmi untuk Umum

Karena itu, BI akan melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuan­gan (OJK) dan Menteri Keuangan, untuk terus menjaga kondisi ekonomi makro tetap stabil, dan likuiditas perbankan terjaga. Sehingga kredit bank bisa men­gucur, dan mendorong ekonomi.

Agus mengatakan, guna mendo­rong kredit di sektor konsumsi, BI juga tengah memperdalam soal pe­nyesuaian aturan loan to value (LTV). Berarti, kebijakan uang muka kredit bisa diperkecil, sehingga masyarakat terangsang mengambil kredit untuk rumah atau kendaraan bermotor. Na­mun hal ini harus mempertimbangkan rasio NPL yang ada, sehingga penye­suaian LTV tidak jadi bumerang.

Utang Luar Negeri

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================