kids-shouldnt-be-priority-blonde-girl-and-brunette-momBelakangan kasus-kasus pemerkosaan yang disertai tindakan sadis mewarnai pemberitaan media Tanah Air. Bukan tak mungkin, pemberitaan itu memunculkan rasa penasaran anak yang masih balita ataupun yang baru masuk sekolah dasar. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua menyikapinya?

Oleh : Calviano Nathanael
[email protected]

Menurut psikolog anak dan remaja dari RaQQi – Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, penjelasan tentang pemerkosaan kepada anak berbeda-beda, tergantung usianya. Sebab jika anak masih terlalu kecil, lalu mence­tuskan pertanyaan, “Mama, perkosaan itu gi­mana sih?” lalu dijelaskan dengan detail tentu tidak cocok.

“Mungkin kalau untuk usia dini seperti itu di­kasih tahu kalau pemerkosaan itu merebut hak seseorang,” kata Ratih.

Sementara itu menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani, MPsi, ketika anak menan­yakan soal perkosaan bisa menjadi sarana untuk sekaligus mengajarkan pendidikan seksual sejak dini. Selain itu juga mengajarkan pada anak agar lebih mengenal tubuhnya.

“Juga mengetahui sentuhan orang kepada dia itu sentuhan sayang atau tidak. Lalu mereka juga sudah paham bagian-bagian mana yang dilarang sentuh misalnya bagian kelamin, pan­tat, bibir, dan bagian dada pada perempuan,” terang perempuan yang akrab disapa Nina ini.

Sebenarnya, kata Nina, pendidikan seks yang sederhana sudah dilakukan orang tua sejak anaknya masih bayi. Ini dilakukan ketika orang tua menyebut bagian tubuh anak ketika sedang membersihkan popoknya. “Misalnya ibu sam­bil bilang, ‘Mama bersihkan ya vagina atau penisnya’,” imbuhnya.

Pada batita dan balita, sebai­knya dibiasakan untuk menggan­ti baju di ruangan tertutup. Beri tahu pula pada si kecil, jika ada orang yang memegang bagian terlarang mereka, maka sebai­knya berteriak atau mencari bantuan orang dewasa lain­nya. Upaya perlawanan bisa pula diajarkan pada anak, mis­alnya dengan menendang atau memukul alat vital orang yang berusaha memegang bagian intim tubuh mereka.

“Anak dan orang tua perlu pengetahuan agar anak perempuan tidak menjadi korban pen­cabulan dan anak laki-laki tidak jadi pelaku pemerkosaan. Sebenarnya bisa saja a n a k l a k i – l a k i yang jadi ko r b a n , t e t a p i persentase­nya lebih se­dikit,” ujar Nina. (NET)

 

loading...