Untitled-4

Hampir semua orang pernah mengalami apa yang disebut kesemutan atau kebas. Kalau sudah kesemutan, biasanya akan terasa kebal, ngilu, walau akan berangsur-angsur hilang jika kita mulai menggerak-gerakkan bagian tubuh yang kesemutan tersebut.

Oleh : RIFKY SETIADI
Email: [email protected]

Banyak orang yang menganggap enteng gejala kesemutan ini. Mungkin karena ge­jalanya yang kadang datang, lebih banyak tidak. Mu­dah datang, mudah pula hilang. Tetapi kesemutan patut diwas­padai jika kesemutan itu terjadi di satu bagian tubuh. Kemudian menjalar ke bagian tubuh lain di sekitarnya, dan kemudian mem­perburuk fungsi-fungsi tubuh lainnya, bisa jadi itu adalah man­ifestasi tumor di bagian depan otak. Sebuah penyakit amat se­rius dengan gejala awal sepele.

Dalam bahasa medis, kes­emutan sering disebut sebagai parestesia. Suatu sensasi yang dirasakan tanpa ada stimulus dari luar. Sensasi parestesi ini tidak hanya rasa ‘kesemutan’, namun bisa juga rasa panas, rasa seperti tertusuk-tusuk, ‘greyengan’. Rasa Kesemutan dapat dirasakan di tangan, kaki di muka, maupun di seluruh ba­gian tubuh kita.

Pada dasarnya kesemutan merupakan suatu gejala mani­festasi dari gangguan sistem saraf sensorik akibat rangsang listrik di sistem itu tidak ter­salur secara penuh dengan sebab macam-macam. Yang paling sederhana, misalnya, ja­lan darah tertutup akibat satu bagian tubuh tertentu ditekuk terlalu lama. Kesemutan yang tidak disertai gejala-gejala lain biasanya menandakan adanya gangguan pada reseptor di kulit atau pada cabang-cabang saraf tepi. Namun kita mesti lebih waspada jika ada gejala lain di luar kesemutan. Bukan hanya kelumpuhan, kesemutan bisa juga disertai gangguan pengli­hatan, pendengaran, gabungan keduanya, atau lainnya.

Baca Juga :  Meski Sudah Sembuh Dari Batuk, Namun Masih Merasakan Sakit Tenggorokan, Ini Kata Dokter

Beberapa gangguan keseha­tan serius yang ditandai gejala kesemutan, antara lain radang sumsum tulang belakang (my­elitis). Kesemutan yang dira­sakan akan menghebat, naik dari ujung jari kaki sampai ke pusar (perut tengah). Gejalanya berkembang menjadi rasa tebal di permukaan kulit. Setelah fase ini, penderita akan mengalami kesulitan berjalan. Ini adalah gejala radang sumsum tulang belakang, yang terjadi karena serangan virus bernama cyto­megalovirus (CMV). Selain itu, Diabetes mellitus atau kencing manis. Pada penderita diabetes, kesemutan adalah gejala keru­sakan pembuluh-pembuluh darah. Akibatnya, darah yang mengalir di ujung-ujung syaraf berkurang. Gejala yang dirasa­kan biasanya telapak kaki terasa tebal, kadang-kadang panas, dan kesemutan di ujung jari terus-menerus. Kemudian dis­ertai rasa nyeri yang menikam, seperti ditusuk-tusuk di ujung telapak kaki, terutama pada malam hari.

Kesemutan yang menyerang ujung jari, biasanya tangan kanan, dan kemudian berkem­bang menjadi rasa tebal, saat digunakan beraktivitas, adalah gejala CTS. Gejala kesemutan ini berkaitan dengan rongga di pergelangan tangan (karpal) yang mengalami pembesaran otot-otot sehingga menekan saraf yang melewati terowongan tersebut. CTS bisa menjadi gang­guan lebih serius bila didiamkan cukup lama, misalnya 1 – 2 ta­hun. Pada tahap ini tekanan otot sudah mengganggu aliran darah ke tangan, dengan akibat otot-otot yang mengalami kekuran­gan nutrisi akan mengecil, dan melemahkan otot.

Baca Juga :  Seafood Dapat Menyebabkan Kolesterol Tinggi, Mitos atau Fakta?

Pada penderita sakit jan­tung, kesemutan dapat juga timbul karena komplikasi jan­tung dan sarafnya. Yang terjadi misalnya, si penderita men­jalani operasi pemasangan klep jantung. Saat pemasangan, ada bekuan darah menempel, yang kemudian terbawa aliran darah ke atas, dan menyumbat salah satu pembuluh darah di otak. Bila sumbatan di otak itu ke­betulan mengenai daerah yang mengatur sistem sensorik, si penderita akan merasakan kes­emutan sebelah. Bila daerah yang mengatur sistem motorik juga terkena, kesemutan akan menjadi kelumpuhan. Rematik juga menimbulkan kesemutan atau rasa tebal. Gejala kesemu­tan karena rematik akan hilang bila rematik sembuh.

Pengobatan yang diberi­kan sesuai penyakit yang men­dasarinya. Kesemutan yang terjadi pada penderita diabetes (Neuropati diabetik), dilakukan dengan pengontrolan gula da­rah disertai obat-obatan yang bersifat neurotropik dan juga vi­tamin B. Namun bila kesemutan disebabkan oleh penekan saraf maka pengobatan harus dilaku­kan dengan modifikasi gerakan tubuh, pemberian neurotropik, dan mungkin pada kasus yang berat dipertimbangkan uuntuk operasi.

Perlu diingat, bila kes­emutan akibat penyakit stroke maka pengobatan harus segera dilakukan, misal pada stroke akibat sumbatan maka pasien harus diberikan obat pengencer darah maupun pengaturan fak­tor risiko strokenya seperti hi­pertensi dan kholesterol.(*)