Untitled-7Tidak adil rasanya, kita mengabaikan kesehatan indera telinga tersebut. Padahal, indera telinga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tanpa anda sadari, kebiasaan dan aktivitas sehari-hari justru membuat berkurangnya kemampuan menangkap berbagai suara yang masuk ke indera pendengaran.

Oleh : RIFKY SETIADI
Email: [email protected]

Telinga menjadi salah satu in­dera yang memiliki peranan penting bagi kehidupan ma­nusia, tanpa keberadaan in­dera tersebut, maka secara otomatis mengakibatkan seseorang menjadi bisu. Dikarenakan tidak ada suara yang mereka tangkap atau den­gar, seperti yang sudah kita ketahui, telinga memiliki berbagai susunan yang mana memiliki fungsi yang berbeda-be­da. Seperti daun telinga yang memiliki fungsi mengarahkan suara ke lubang telinga yang akan di teruskan ke bagian dalam telinga yang akan dikirimkan ke otak, sehingga otak dapat menerjemah­kan berbagai suara tersebut. Sebab itu, jangan gegabah memperlakukannya. Alih-alih mau membersihkan, bisa jadi malah menjadi gangguan keseha­tan.

Salah satu kebiasaan buruk adalah mengorek telinga. Stop segera kebiasaan korek-korek tel­inga. Sejenis “kotoran” berwarna kekuningan di telinga yang ser­ing dikorek itu ternyata bertugas menjaga agar gendang telinga jauh dari kotoran dan debu. Zat mirip lilin ini juga bersifat anti­bakteri dan bekerja sebagai pelu­mas di telinga. Kita tak perlu re­pot-repot membersihkan telinga.

Baca Juga :  6 Alasan Seseorang Lebih Produktif di Malam Hari

Zat kekuningan di telinga yang juga secara medis disebut cerumen sejatinya adalah pelind­ung telinga kita. “Keberadaan cerumen untuk menjaga salu­ran pendengaran bersih,” kata Douglas Backous, MD, ketua komite pendengaran dari Ameri­can Academy of Otalaryngology- Head and Neck Surgery (AAO-HNSF) sekaligus direktur bedah pendengaran dan tengkorak di Swedish Neuroscience Institute, Seattle.

Cerumen tidak hanya mem­bantu menjaga kebersihan gen­dang telinga tapi juga memliki khasiat antibakteri dan fungsi pe­lumas. Zat ini sebaiknya tak dib­ersihkan karena telinga manusia bisa membersihkan diri sendiri. Setelah cerumen kering, setiap gerakan rahang seperti mengun­yah saat makan atau mengobrol akan membantu cerumen keluar dari pembukaan telinga.

Celakanya, manusia sering sok tahu dan membersihkan ce­rumen dari telinga memakai cot­ton bud. Memang ujung pember­sih telinga ini cukup kecil namun cukup kuat untuk mendorong cerumen masuk lebih dalam, bukannya terdorong keluar dari telinga. Ketika terperangkap di dalam, telinga kita tak membersi­hkan diri sendiri. “Cerumen yang terperangkap juga dihinggapi ja­mur, bakteri dan virus. Ini berpo­tensi menyebabkan sakit dan in­feksi,” kata Backous. Mendorong cerumen masuk ke dalam justru dapat menghalangi saluran tel­inga dan menyebabkan kehilan­gan pendengaran. Malah ketika terdorong jauh lebih ke dalam, gendang telinga jadi pecah.

Baca Juga :  Self Healing Upaya Menyembuhkan Stres dan Cara Mengatasinya

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, 5,3 persen populasi dunia men­galami gangguan cacat penden­garan atau sekitar 360 juta orang, dengan 328 juta (91 persen) di antaranya orang dewasa dan 32 juta (9 persen) adalah anak-anak. Di Indonesia, jumlah pen­derita gangguan pendengaran diperkirakan mencapai sekitar 9,6 juta orang. Pemeriksaan men­gungkapkan sekitar delapan juta prosedur medis penghilangan ce­rumen setiap tahun oleh dokter. Tentu ini beda dengan tindakan ear candleyang sempat populer ditawarkan di sejumlah salon ke­cantikan itu.

Telinga kita hanya perlu dib­ersihkan oleh dokter ketika ada gejala perubahan pendengaran yang terkait dengan timbunan cerumen. AAO-HNSF menyaran­kan untuk tidak memasukkan ­cotton bud ke dalam telinga. Memang rasanya aneh bila kita tak lagi mengorek-ngorek demi membersihkan telinga. Ternyata, kata Backous, semakin kita ser­ing mengorek telinga, tubuh kita mengeluarkan lebih banyak his­tamine yang sebenarnya bikin kulit iritasi dan radang. Rasa nikmatnya setara dengan saat kita menggaruk kulit yang gatal karena tergigit nyamuk. (*)