BOGOR TODAY- Kejaksaan Negeri (Kejari) Bogor men­gapresiasi disahkannya Per­aturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No­mor 1 Tahun 2016 tentang pe­rubahan kedua Undang-Un­dang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Disahkannya Perppu kebiri ini, diharapkan dapat menim­bulkan efek jera bagi pelaku dan dapat menekan potensi tindak pidana yang akan terjadi dikemudian hari. Se­lain itu, dalam Perppu kebiri sendiri, terdapat klasifikasi untuk menjerat para pelaku kejahatan seksual pada perempuan dan anak.

Baca Juga :  Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Bima Arya Paparkan Nilai Demokrasi

Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Bogor, Awalludin menjelaskan, sanksi kebiri sejatinya merupakan pidana tambahan bagi para pelaku kejahatan seksual pada perempuan dan anak.

“Perppu ini memperberat sanksi bagi pelaku kejahat­an seksual, yakni hukuman mati, penjara seumur hidup, maksimal 20 tahun penjara dan minimal 10 tahun pen­jara,” ujar Kasi Pidum Kejari Bogor, Awalludin, kemarin.

Sanksi tambahan yang di­maksud, yakni kebiri kimi­awi, pengumuman identitas ke publik, serta pemasangan alat deteksi elektronik.

Baca Juga :  Bima Arya Sampaikan Tiga Spirit Rekomendasi APEKSI

Dalam Pasal 81 ayat (1) yang diubah berbunyi, Setiap orang yang melanggar keten­tuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara pal­ing singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) ta­hun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).