Kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegasÂkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejuÂjuran. Pertama, akal yang wajib memandang buruk kedustaan, apalagi jika kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan dan tidak mencegah bahaya. Kedua, agama dan syariat yang memerintahkan untuk mengiÂkuti kebenaran dan kejujuran serta memperinÂgatkan bahaya kedustaan.
Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran. KeÂempat, memperoleh kepercayaan dan pengÂhargaan masyarakat. Ada sebuah kata mutiara: “Jadikanlah kebenaran (al Haq) sebagai tempat kembalimu (rujukanmu), kejujuran sebagai tempat keberangkatanmu, sebab kebenaran adalah penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping paling utama.â€
Puasa juga adalah upaya menghentikan korupsi sebagai titik tolaknya. Kalau kita tidak juga mampu menjadikan puasa, yang sudah lebih dari 60 kali dijalani bangsa Indonesia, sebagai faktor pendorong untuk menanamÂkan kesungguhan meraih kejujuran, menurut saya kita tidak mampu menangkap makna dan esensi ibadah puasa. Kita hanya akan memperoleh lapar dan haus saja dari puasa kita, seperti sabda Rasulullah SAW di dalam sebuah hadis.
Kita hanya bisa mengatakan bahwa kita telah menang dalam menjalani ibadah puaÂsa Ramadhan kalau kita mampu mengubah perilaku di dalam kehidupan keseharian kita selama sebelas bulan ke depan. Dari yang tiÂdak jujur menjadi jujur, dari yang pemarah menjadi penyabar, dari yang serakah menjadi suka berbagi, dari yang sombong menjadi renÂdah hati.
Jadi, menilai kita menang atau tidak buÂkannya pada akhir ramadan, tetapi menjelang ramadan. Semoga kita mampu memanfaatkan ramadan dengan sebaik-baiknya.(*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














