Bahagia-FotoOleh: Bahagia, SP., MSc. Penulis sedang S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dan dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor

 

Saat ini ada kesalahan berpikir manusia yang harus diluruskan. Manusia beranggapan hewan tidak punya hak untuk hidup sehingga hak-hak hewan selalu terabaikan. Terutama hewan-hewan liar yang tinggal dihutan. Manusia juga beranggapan kalau memilihara hewan liar bukanlah kesalahan. Iapun akhirnya menternakkan hewan liar dirumahnya. Ia kemudian melihat-lihatnya setiap hari. Tidur satu rumah dengan hewan. Misalkan, ular.

Manusia dan hewan liar bukan untuk hidup satu rumah. Kita dan mereka berbeda. Manusia beranggapan kalau hewan liar tidak perlu untuk dibiarkan hidup bebas. Akhirnya ia mengandangkannya dan menjadikannya bahan permainan. Manusia akhirnya menjadikan hewan sebagai permainan sebagai tontonan manusia terutama anak-anak. Padahal hewan tadi bukan untuk ditonton dengan cara diikat, dikurung, dan dikandangkan. Manusia beranggapan kalau hewan liar seperti burung hanya menumpang saja tinggal dibumi.

Manusia memang pemakmur bumi namun bukan jadi manusia yang serakah dan menyakit, mebunuh, mengusirnya, membuatnya jadi gelandangan dan membuatnya cacat. Hewan punya hak-hak yang harus dipenuhi oleh manusia. Setidaknya hak-hak burung dapat dibagi menjadi hak untuk mendapatkan makanan dan minuman. Hewan harus hidup bebas sehingga bebas untuk terbang mencari rezeki dari pagi hingga sore. Kembali lagi ke sarang saat perut-perutnya sudah kenyang.

Mereka tidak lagi lapar. Hewan liar juga dibebaskan dan tidak dihambat untuk makan jenis makanan dan minuman apa saja dibumi. Kalau hewan lapar karena makanan berkurang maka manusia telah salah. Manusia lebih tidak bermoral lagi kalau membuat hewan yang berangkat pagi namun tak dapat rezeki. Hewan tal lagi dapat makanan yang diinginkan. Dengan kerusakan ekosistem hutan maka hewan yang bergantung dengan hutan akan kesulitan untuk dapat makanan dari hutan.

Hewan yang bergantung kepada daerah rawa dan danau maka ia akan sulit dapat makanan. Danau dan rawanya telah tertutup jadi bangunan. Saat mencari lingkungan sawah sudah pula jadi industri. Hewan yang bergantung kepada air akan sulit dapat ikan rawa. Hewan tadi akhirnya mencuri ikan pada kolom nelayan. Kita anggap perilaku hewan tadi salah. Siapa yang salah. Hewan hanya ingin ambil sebagian ikan yang ada dirawa. Hewan juga punya hak untuk hidup tidak terkekang. Kita mengengkangnya.

Mengandangkannya kemudian kita tarok depan rumah. Kita kandangkan dikebun binatang. Setiap pagi dirumah kita lihat-lihat lagi. Sambil minom kopi menikmati suara burung yang tertangkap. Sedikitpun ia tak merasa bersalah. Sebagian yang melakukan rajin pula beribadah seperti shalat, berpuasa dan berzakat serta melaksanakan rukun Agama dengan baik. Kopiah putihnya dipakai pula sambil ngopi-ngopi didepan rumah. Apakah ia tak sadar kalau burung tak mau disangkarkan.

Sekarang coba gantian, jangan burung saja yang disangkarkan. Penyiksaan terhadap hewan juga tak henti-hentinya. Terutama kekerasan fisik, saat permainan topeng monyet. Dalang topeng monyet yang tinggal dibawah pohon rindang. Membirkan kera-kera itu berlari dengan sepeda kecil yang dibuat. Sambil dilibas dengan menggunakan cambuk. Kalau kinerja makin menurun maka dilibas lagi. Setiap atraksi kena libas. Setiap libasan tadi telah merampas hak dari kera. Selain itu, hewan juga punya hak untuk kawin.

Manusia kerap kali mengganggu hewan yang mau kawin. Hutan sekitarnya dibabat. Hewan-hewan dalam hutan terganggu karena mendengar kemudian menjauh. Setelah jauh terdengar lagi suara pemburuan hewan. Lantas kapan hewan tadi bisa kawin. Kita harusnya berpikir, kalau kita yang seperti itu, apakah kita bisa kawin? dengan adanya hak-hak hewan tadi maka manusia tidak boleh egois dialam. Ada balasan atas perangai tadi. Kalau tidak didunia maka diakhirat.

Manusialah penguasa bumi sehingga apapun yang dilakukan kepada hewan bukan perilaku yang salah. Dengan pandangan ini hewan akhirnya dikandangkan dan dijadikan sebagai pemberi nafkah. Kini terbalik kondisinya. Hewan yang memberi nafkah kepada manusia. Hewan yang joget-joget dipinggir jalan raya. Gajah yang main bola dan bukan lagi manusia. Apakah tidak salah kalau kita membakat hewan hidup-hidup? Namun hewan yang terbakar makin banyak.

Apakah salah kalau kita mengandangkan hewan kemudian kita tonton gerak dan geriknya. Mau berapa banyak lagi hewan-hewan dipermukaan bumi tinggal nama. Berapa hewan lagi yang harus mati dan punah. Hewan-hewan sudah banyak yang menjadi gelandangan. Hewan juga bekerja untuk manusia. layakanya perbudakan hewan jaman modern berkembang pesat. Manusia sudah frustasi untuk menggunakan kepandaian yang diberikan oleh Tuhan. Pikirannya dan tangannya tak lagi digunakan untuk cara yang baik. Ia tidak lagi malu kalau hewan lebih pintar dari manusia.

Kejadian itupun membuat kita bertanya. Apakah seperti itu manusia yang frustasi. Satu sisi ia tak anggap salah perangai yang demikian jahatnya. Dengan alunan musik dan suara-suara gendang. Atraksi hewan seperti topeng monyet menghantui lingkungan kita. Anak-anak sudah terpola dalam pikirannya bahwa cara itu lucu dan menarik. Jika kita mau sadari disanalah hewan tadi tersiksa. Keringat bercucur deras, perut terasa lapar, leher dirantai, tak bisa bebas dan dapat cambukan.

Pukulan dan cambukan akan mengenai badannya saat dirinya berhenti. Sepanjang hari terus ia lakukan cara tadi. Sepanjang hari hewan tadi berdoa untuk memintakan ampun kepada pemiliknya agar melepaskannya. Setiap hari Tuhan mengecam keras manusia yang bertindak biadab. Wajar tentu kalau negeri kita tidak jadi berkah. Alasannya karena kita tidak memahami doa-doa para hewan yang ada dibumi ini. Mereka bertasbih kepada Tuhan. Mereka tak mau ingkar namun manusia ganggu tasbihnya hewan-hewan yang ada dibumi tadi.

Hewan-hewan dibumi ini memang kondisinya sangat mengenaskan. Disamping sebagai bahan permainan. Kehidupan mereka juga terancam. Mereka harus siap setiap saat jadi hewan yang merasakan sakit. Mereka harus siap jadi hewan yang cacat dan siap pula untuk mati. Kalau kita mau memahami lagi, manusia dan hewan liar di alam bebas sudah dari awal diberikan porsi habitat yang layak oleh Tuhan. Bagian-bagian bumi sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk manusia dan hewan. Hewan dan manusia punya porsi yang sama. Meski satu sisi manusia sebagai pengelola bumi.

Dalam pandangan Tuhan, hewan sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Tempat tinggal hewan makin lama makin tak lagi ada. Semua ekosistem rusak maka jelas habitat hewan yang sulit. Sementara hewan sama dengan manusia. Setiap saat hewan butuh makan. Hewan biasanya pergi pagi dan pulang sore hari. Ia berjalan sejauh mungkin dibumi. Kemudian mendapatkan rezeki dari jauhnya perjalanan. Habitat rusak maka sumber makanan hewan makin langka. Makin sulit hewan dapat makanan maka makin zalim kita kepada hewan. Berbagai jenis hewan kelaparan karena kurangnya vegetasi dialam.

Hewan tadi akhirnya pergi ke lahan-lahan petani untuk mengambil sebagian haknya. Satu sisi hewan semakin tergusur rumahnya berganti rumah manusia. Hewan jadi gelandangan. Hewan tersiksa. Sebagian mati dan terancam dari kepunahan. Hak apapun tidak lagi didapatkan oleh hewan. Hewan tidak lagi bebas hidup dialam nyata. Manusia memenjarakannya. Menjadikannya berbagai atraksi permainan. Hewan jadi pemberi nafkah bagi manusia. Manusia juga menatap-natap hewan seperti hewan yang tinggal ditaman nasional.

Hewan kehilangan habitatnya karena luasan hutan tidak disisakan lagi untuk hewan. Pada lokasi perkotaan lebih parah kondisinya. Hewan kecil seperti semut saja sulitnya hidup setengah mati. Apalagi kalau hewan yang berukuran besar. Baru lewat saja dikerumunan warga sudah ditangkap. Kita harus memberikan habitat dan menyisakan sebagian dari lahan yang ada dikota. Tujuannya untuk memberikan kepada hewan yang tersisa untuk tinggal disana. Habitat hewan terancam.

Saat ini saja kebakaran hutan tak bisa dihentikan setiap tahun. Hutan tadi juga terus dijadikan ladang yang luas. Kebun-kebun yang tidak nampak tebihnya. Beribu-ribu hewan terancam dalam kepunahan. Belum sempat anak hewan besar dan jadi dewasa sudah jadi korban Karhutla. Hewan yang kecil belum jadi dewasa tetapi harus terbunuh dan terbakar. Padahal hutan termasuk rumah hewan. Dari sanalah hewan dapat makanan. Hutan juga sebagai tempat hewan berkembang biak. Sedikit saja manusia mengganggu lokasi hutan maka sudah tentu hewan akan mati.

Mau seberapa luas lagi kebun binatang sebagai penangkaran hewan. Taman nasional tadi hanya mengoleksi beberapa hewan saja. Masih banyak hewan lain yang juga terancam dari kepunahan. Habitat yang tidak alami seperti buatan manusia tidaklah sebaik habitat alam aslinya. Ada perbedaan disitu. Dari segi jenis hutan dan makanan. Mereka juga merasa ternggangu dengan adanya roma tubuh manusia. Hewan akhirnya terlambat untuk berkembang biak. Hewan juga tidak mau kawin lagi. Hewan-hewan liar yang habitatnya dihutan lebih malu dibandingkan dengan manusia.

Fakta tadi membuktikan bahwa hewan-hewan liar terus mengalami kepunahan yang luar biasa. Setiap tahun ada saja korban akibat ulah tangan manusia. Kalau sudah begini maka hewan yang dialam akan punah dan hewan yang ada dikebun binatang sulit berkembang biak. Hewan dikebun binatang akan jadi tontonan kita. Hewan liar yang ada dialam juga terancam dari kepunahan. Satu sisi pembangunan tidak bisa dihentikan lagi. Urbanisasi yang terus makin meluas.

Sedikit demi sedikit menyingkirkan hewan yang ada disana. Mempersempit ruang gerak hewan. Hewan seperti burung juga sulit untuk berkembang biak. Apalagi hewan yang berukuran besar. Jadi tidak heran kalau perkotaan tanah air tidak akan ada hewan liar lagi suatu saat. Semua berpindah ntah kemana pergi. Kawasan perdesaan juga sama. Hutan yang tersisa dibakar menjadi lahan perkebunan. Hewan-hewan disana banyak yang terbakar.

Peringatan untuk menghargai hak hewan sudah lama diperingatkan. Dalam hadis, Dari Suhaib (Maulan Ibnu Amir) dari Abdullah Ibnu Amir, Bahwasannya Rasulullah Saw telah bersabda:“Tiada seseorangpun yang membunuh seekor burung tanpa memberikan haknya. Melainkan kelak pada hari kiamat Allah akan menuntut hak burung itu terhadap orang itu”. Para sahabat  bertanya: Apakah haknya?” Sabda Rasulullah: “Menyembelihnya, kemudian tak membuang kepalanya sia-sia dan selanjutnya ia makan burung itu.” Sumber: Abu Abdur Rahman Ahmad An Nasa’iy (1993), Terjemah Sunan Naa’say Jilid IV, nomor hadis 4196.

Burung yang halal dan disembelih atas nama Tuhan mempunyai hak kepada manusia. Saat kiamat hak-hak burung tadi akan ditagih kepada yang melakukan sembelihan dan yang membunuh sembarangan. Dari Shuhaib dari Abdullah Ibnu ‘Amr berkata: “ Rasulullah bersabda: “ Barang siapa yang membunuh burung pipit atau yang lebih besar tanpa memberikan haknya, maka pada hari kiamat kelak, Allah akan menanyakan padanya tentang hak itu”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah hak burung itu?” Jawab beliau: “Yaitu Menyembelihnya dan jangan sampai kamu memutuskan lehernya. Kemudian kamu melemparkannya secara sia-sia. Sumber: Abu Abdur Rahman Ahmad An Nasa’iy (1993), Terjemah Sunan Naa’say Jilid IV, nomor hadis 4291.

Selain hadis, Allah juga memperingatkan agar manusia memahami bahwa burung itu tidak boleh untuk dibunuh. Karena burung adalah umat yang sama dengan manusia, sehingga juga mempunyai hak yang sama yaitu hak untuk tidak diganggu kehidupannya, hak untuk tidak disakiti dan hak untuk tidak dibunuh sembarangan. Dalam Al-Quran Surat Al-An’aam Ayat 38 Artinya: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan merupakan ummat seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab. Kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan.

Akhirnya sulit pula pertanyaan yang harus kita jawab dialam kubur dan dihari kiamat nanti. Pertanyan akan banyak sebab akan ditanya berapa banyak kita membunuh burung dan mengapa kita tak tahu hak mereka atas bumi Tuhan. Kita tidak akan bebas dengan hukuman Tuhan. bisa jadi didunia ini kita masih bisa hidup bebas. Berapa banyak burung yang punah menjadi pertanyaan yang harus kita jawab. Berapa banyak burung yang punah dan mati sia-sia itu akan bercerita kepada Allah.

Pada saat diputuskan apakah kita masuk ke surga atau terhambat karena kita telah membunuh banyak burung yang dibumi. Meskipun kita sudah membuat kebun binatang yang notaben katanya sebagai tempat konservasi burung-burung didunia namun tak kita lihat keadaan yang sebenarnya. Mengapa kita tidak melepaskannya dialam bebas agar ia bisa berkembang biak dengan mudah. Mencari pasangan yang mana yang cocok tanpa harus dipaksa untuk kawin dalam kandang sempit. Semoga ibadah kita tetap terjaga dengan menjaga ekologis ini.